Rio berjalan menyusuri koridor sekolah. tekadnya sudah bulat, dia tidak ingin menunda nunda lagi
“dea sayang, udahan dong candanya. Ga lucu tau” ujar irsyad
“siapa yang canda? Gue serius!”
“ayolah jangan gini”
“tau deh! gue maunya putus! Se.ka.rang! lo ga denger?”
Rio melewati irsyad dan dea, tiba tiba dea menggamit tangan Rio.
“yo , bawa gue pergi dari sini”
Rio menganggguk lalu mempercepat langkahnya tanpa menghiraukan panggilan dari Irsyad.
Tibalah mereka di koridor kelas bahasa yang sepi
“De, gue mau..”
“thanks ya yo gue ga tau harus gimana lagi kalo gak ada lo. Irsayd ternyata tukang selingkuh, huh”
“de..”
“gue nyesel kenapa harus suka sama cowo kaya irsyad!”
“dea…”
“eh? Apa yo?”
“gue mau ngomong”
“yaudah, ngomong aja”
Rio mengatur irama nafasnya. “gue, mau kepastian”
“kepastian?” tanya dea bingung
“lo dateng dan pergi gitu aja. Mau loe apa?”
Dea menatap rio tak mengerti
“loe obrak abrik hati gue. Loe bikin gue berharap, tapi loe sendiri yang musnahin harapan gue . loe satu satunya cewe yang bisa bikin gue kaya gini. Apa mau loe? Apa yang loe pengen dari gue? Loe pengen gue sakit hati? Loe pengen gue mati? Kenapa loe ga bunuh gue aja sekalian!”
“yo, maksud loe apa sih? Gue sama sekali ga punya niat buat nya..”
“persetan sama omongan loe de. Loe bilang, loe mash sayang sama gue. Loe bilang, loe pengen mulai dari 0, kenapa loe malah pacaran sama cowo lain? Loe ga tau kan, gimana hancurnya gue?”
“ri….o..”
“apa? Gue bukan Rio yg dulu, yg Cuma diem sama semua perlakuan elo! Mau apa lagi loe sekarang? Mau ngasih gue harapan lagi? Terus mau jatuhin gue di lubang yang sama buat keberapa kalinya lagi??”
“gue emang sayang sama loe, rio! Tapi, cinta ga harus memiliki,kan?”
“iya! Emang ga harus, tapi kenapa loe bilang gitu ke gue, padahal loe nya sendiri tetep berhubungan sama cowo lain? Harusnya…” rio menghentikan omongannya. Bahunya bergetar. Satu kata lagi mungkin bisa memusnahkan seluruh pertahanan yang rio bangun
“harusnya apa?” tanya dea
Rio tak menjawab. Dia terdiam. Bahunya sudah bergetar hebat.ia pun memutuskan untuk meninggalkan dea.
“yo.. rio…!!” panggil dea.
BRUKK…!!!
Rio menabrak seseorang. Orang yang di tabrak rio hanya berdiri mematung tanpa melakukan apa-apa. Sedangkan Rio langsung berlari tanpa menghiraukan siapa yg rio tabrak. Rio berlari menjauhi sekolah. jauh…dan semakin jauh..
**##**##**##
“sial! Awas aja loe ton, ga bakal gue ampuni!” gerutu ify sambil membersihkan roknya yang ketumpahan es teh karena patton yg berlarian(?)
“loe obrak abrik hati gue. Loe bikin gue berharap, tapi loe sendiri yang musnahin harapan gue . loe satu satunya cewe yang bisa bikin gue kaya gini. Apa mau loe? Apa yang loe pengen dari gue? Loe pengen gue sakit hati? Loe pengen gue mati? Kenapa loe ga bunuh gue aja sekalian!”
Ify berhenti melangkah.
“persetan sama omongan loe de. Loe bilang, loe mash sayang sama gue. Loe bilang, loe pengen mulai dari 0, kenapa loe malah pacaran sama cowo lain? Loe ga tau kan, gimana hancurnya gue?”
“kayanya gue kenal suara i….” ify melongo. “..rio kan?”
“iya! Emang ga harus, tapi kenapa loe bilang gitu ke gue, tapi loe nya sendiri tetep berhubungan sama cowo lain? Harusnya…”
Ify tak mendengar suara apa-apa setelah itu. Tak lama kemudian, suara langkah kaki mendekat. Lebih tepatnya, berlari kea rah ify.
BRUKK!!! Ify hampir terjengkang ke belakang, kalau saja ia tidak seimbang.
Ify mengamati pemuda di depannya ini. mata hidung dan wajahnya merah.
“ri..o…” gumam ify
Rio tak menghiraukannya. Ia langsung berlari begitu saja meninggalkan ify yang masih syok.
“yo, rio!!” panggil cewek yang tidak asing bagi ify
“dea? Elo….”
“gak usah ikut campur urusan orang!” dea mendorong bahu ify kasar lalu berlari mengejar rio.
“dea….rio…?”
Ify hampir jatuh kalau saja tidak ada ozy di belakangnya
“fy loe sakit? Tanya ozy.”
“eh? Ng..nggak. thanks zy”
Ozy mengangguk. Ify pun kembali ke kelas dengan banyak pertanyaan di otaknya.
**##**##**##
Rio menaiki anak tangga secara tergesa-gesa. Disinilah tempatnya untuk berkeluh kesah selain d atas atap rumah Alvin. Sebuah bangunan bertingkat dua. Bekas sebuah ruko yg hangus karena kebakaran. Lantai dua nya hampir tidak tertutupi karena pada masa renovasi, tiba-tiba dihentikan karena kekurangan biaya.
Tepat di depan ruko itu ada taman dengan air mancur besar di tengah sebagai pusat dari taman itu. Pohon disana sangat lebat, sehingga udara sangat sejuk.
“gue harus lepas sama masa lalu. Gue bisa move on dari loe De. Gue bener-bener akan musnahin semua kenangan gue tentang loe. Gue yakin, yang bisa ngelakuin itu Cuma dia.. Ya, Cuma dia” kata Rio agak tenang dengan air mata yg sudah menetes.
“awww..!!” rintih seseorang
Rio melongokkan kepalanya kebawah, tampak seorang gadis berambut panjang dan berkulit putih sedang memegangi lututnya yang berdarah. Rio pun langsung turun darisana dan menghampiri gadis itu.
“hei, loe gak apa apa?” tanya Rio
Gadis itu mendongak, menatap Rio dengan mata yg merah menahan tangis.
“sini gue obatin” Rio mengambil tissue dari tasnya. Lalu tak lama disusul dengan handsaplast yang selalu ia bawa kemana-mana.
“thanks ya” ujar gadis itu
“iya, sama-sama. Bisa jalan loe?”
Gadis itu mengangkat bahunya. Lalu mencoba berdiri. Tapi gagal, badannya oleng, untung saja berhasil di tangkap oleh Rio.
“gue anterin ya? Rumah loe dimana?”
“dua blok dari sini”
“okey, loe naik aja ke punggung gue.”
“hah?!” gadis itu mendelik. “gila aja! Ga ah,gue jalan aja”
“loe ga bisa jalan. Hmm, atau loe mint ague bopong?”
“hah?!” gadis itu terpekik makin keras. “gak gak! Yaudah, gue naik ya”
Gadis itu naik ke punggung Rio.
“nama loe siapa?” tanya rio sambil berjalan
“gue Shilla,”
“oh, gue Rio”
“loe… anak Sayga?” tanya Gadis yg tenryata bernama shilla itu sambil melihat badge di lengan Rio
“yaps, kenapa?”
“gak apa-apa sih” ujar shilla sambil tersenyum penuh arti. “eh, kok loe ga sekolah? bolos?” tnaya shilla lagi
“gak, gue meliburkan diri”
“sama aja itu mah”
“hehe, lagi stress guenya, disini pemandangannya bagus jadi kalo lagi stress gue kesini”
“oh ya? Maen maen aja ke rumah gue”
“kapan kapan deh, rumah loe yang mana?”
“yang itu” tunjuk shilla pada sebuah rumah minimalis berlantai 3.
“keyh”
“thanks ya yo, untung aaja ada loe tadi” ujar shilla setelah sampai di rumahnya
“no problem, gue balik duluan ya, see you” ujar Rio yang lalu melambaikan tangannya sambil menjauh pergi.
“anak sayga ya… hmmm” gumam shilla penuh arti
**##**##**##
Ify terus memandangi bangku Rio yg kosong. Sejenak,dia teringat pada kejadian tadi pagi.
“rio, loe dimana sih??” gumam ify.
“loe kenapa fy? Cie ngeliatn Alvin aja daritadi” goda sivia
Ify langsung menoleh, “hah? Gue? Liatin Alvin? Ha-ha” tawa ify garing
“gak usah punya fikiran yg nggak2 deh vi, loe gak buta kan? Loe pasti tau,siapa cewek yg ditaksir Alvin. Cuma loe yg ada dihati dia. Dan gue juga gak mungkin lah naksir Alvin” sangkal ify jengkel . pasalnya sejak tadi pagi, sivia selalu mengungkit masalah kemarin.
“hm” respon sivia . sivia kembali berkutat dengan ponselnya.
Ify yang makin lama makin gelisah pun pergi keluar kelas dengan menarik Alvin yg dudu di depannya. Sivia yg melihat adegan itu sedikit gerah juga, tapi ia purapura tak peduli.
“pak, saya mau permisi sebentar” ujar ify tanpa memerlukan jaawaban dari guru yg sedang mengajarnya tersebut
“apaan sih fy tarik tarik?” tanya Alvin sesampainya di aula.
“rio..! rio kemana?” tanya ify
“gue juga gak tau, daripagi gue gak ketemu dia. Gue bingung, dia juga berangkat pagi banget.”
“vin, gue mau tanya. Sebenernya….hubungan Rio sama Dea itu gimana sih? Mereka pacaran?”
Pertanyaan ify membuat Alvin sedikit tersentak. “fy, ada yg loe tau?”
“eeee…” ify sebenarnya enggan mengatakan, tapi Alvin adalah sahabat rio. Mungkin dia bisa membantu. Ify pun menceritakan kejadian tadi pagi yg ia alami.
“pantes aja! Bentar, gue telfon oma gue dulu”
“halo, oma? Rio pulang gak? Enggak ya? Gak ngabarin sesuatu gitu? Oh yaudah makasih oma”
Klik.
Alvin menggeleng. “berarti dia gak di rumah”
“terus dia kemana? Gue takut kalo…”
“jangan negative thingking dulu. Orang sejenus Rio mana mungkin buat hal2 aneh. Kita mending nunggu dia di rumah gue, kali aja dia nantipulang cepet”
Ify mengangguk. Ia lalu mengajak Alvin ke parkiran dan masuk ke dalam Porsche milik ify.
“eh, kalo kita pulang berarti kita ketinggalan pelajaran dong?” ujar Alvin
Ify berdecak. “sahabat loe ilang, loe masih aja mikir pelajaran? Hah?!” bentak ify
Alvin hanya nyengir sambil membentuk hurup V di jarinya
**##**##**##
“bagus! Cukstaw gue ditinggalin! Okey fine..” gumam sivia kesal saat istirahat.
“mendingan juga cabut deh..”
Tiba tiba sebuah sms masuk ke ponselnya. Nama yg tertera adalah chriss.
-via, lagi ngapain? Gue suntuk nih.-
Sivia pun tersenyum.
-cabut yuk ? gue jg lagi suntuk. Butuh udara seger!-
Tak lama kemudian chris membalas
-ok, gue tunggu di gerbang sekolah lo ya(:-
Sivia tersenyum, lalu segera membereskan tasnya dan melesat menuju gerbang.
Tiba tiba seseorang menghadangnya tepat 4 meter sebelum gerbang
“mau apa lagi loe?” sengit sivia “gak puas gangguin hidup gue?”
“gak dong, sampe loe mau balikan lagi sama gue”
“stop mimpi tentang itu. Sampe kapan pun gue ga bakal balik sama loe. Ngerti?”
Gabriel berdecak. “loe tuh…” tangannya menyentuh dagu sivia “.. gak usah jaim deh. sok sokan punya harga diri segala”
PLAK…!!!
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Gabriel.
“Jaga omongan loe itu!!!” bentak sivia
“oww oww, gue ditampar.. sekarnag loe main kasar yah?”
“PERGI! TINGGALIN GUE SENDIRI!!” teriak sivia.
Semua anak yang ada di lapangan langsung memperhatikan kedua insane tersebut.
“oke princess, gue sekarang akan tinggalin loe tapi jangan harap lain kali gue bakal lepasin loe. Loe…. Cuma milik gue..” desis Gabriel tepat di telinga sivia.
“dasar cowo brengsek!!” umpat sivia
TIN TIN,..!!!
Tak lama kemudian,sebuah mobil fordd everest berhenti di depan sekolahnya. Jendela dibuka, dan menyembul lah(?) wajah chriss dari mobil.
Sivia buru buru menghampiri chriss dan melupakan kejadian barusan
“hei, sori lama ya” ujar chriss
“gapapa kok, yuk cabut” kata sivia sambil naik ke atas mobil.
Dari jauh, Gabriel menyunggingkan senyum kemenangan. “tunggu tanggal mainnya, princess” piiciknya.
**##**##**##
Rio kembali ke rumah dengan wajah kusut dan peluh yg membanjiri wajahnya. Seragamnya basah, seperti atlet lari marathon.
“Yo! Loe kemana aja?” cemas Alvin setelah melihat Rio masuk ke pekarangan rumahny.
“gue disini-sini aja. Kenapa?”
PLAK..!!
“gue udah bilang berapa kali sih yo sama loe? Kenapa loe masih berhubungan saa cewe sialan itu?! Loe udah berkali kali di sakitin sama dia,kenapa loe masih aja hubungan sama dia, Riooo..!!!” emosi Alvin.
Ify yg menyaksikan kejadian itu dari jauh hanya mampu membungkam mulutnya.
“gue udah gak berhubungan sama dia kok” jawab Rio santai tapi nafasnya terengah engah.
“gue…gak akan maafin elo… kalo gue sampe tau, loe berhubungan lagi sama dia..” ujar Alvin menekankan.
“oke” mata Rio tak sengaja bertatapan dengan ify yg berada di depan rumah Alvin. “sama ify loe? Kalian bolos?”
“Iya! Demi loe! Salah siapa loe ilang tanpa jejak kaya gitu, hah?!”
“sory. Loe ga cerita apa-apa ke ify?”
“ga”
“oke bagus lah kalo gitu,” rio menepuk bahu Alvin, lalu melambaikan tangan pada ify tanpa tersenyum dan masuk ke dalam rumahnya dengan santai.
**##**##**##
Selasa, 14 Agustus 2012
Kiss Me Again (Part 8)
Ify masuk ke dalam rumahnya tanpa bersuara. Dentuman keras dari gendang earphonenya membuatnya terlalu asyik dan terlarut dalam beat musik yg ia dengarkan.
"fy.". panggil mamanya dari ruangtamu, tapi ify tak dengar. Ify terus saja melangkah kea rah dapur, mengambil minuman. Lalu tak lama kemudian, ia di kejutkan oleh muka kusut mamanya yang tiba-tiba sudah ada di depannya.
"astajim, mama!!" pekik ify sambil memegangi dadanya.
Mamanya terkekeh, "kamu kenapa? Kaya liat setan aja"
"abis mama sih" gerutu ify
Mamanya tertawa.
"loh, mama??" ify membelalak. "kapan mama sampe di Jakarta? Kok ify ga tau? Udah lama?" tanya ify sambil memeluk mamanya
"baru aja sayang siang tadi. Tapi kamunya ga pulang-pulang. Kamu darimana aja?"
"ify abis mmmm abisss.."
"iya deh ,anaknya mama udah gede. Pasti udah punya pacar, iya kan? Tuh, ada jerawat di pipi, pasti sering mikirin pacarnya ya?"
"Hahhh??! Jerawat?" ify langsung ngibrit kedepan kaca. masa iya ada jerawat sih? gerutunya
"HAAAA??!! Mampus! Beneran ada jerawat! Duh" ify memperhatikan wajahnya baik baik.
"hayo, siapa pacar amu? Kok ga di kenalin ke mama sih"
"mamaaaaa.. ify ga punya pacar!" sangkal ify kesal.
"masih ga mau jujur ke mama nih? Yaudah deh"
"ahhh tau ah. Eh, mama balik ke kanada lagi ya?"
"iya, terus masih ada urusan lagi. Yaaa, tau sendiri lah mama kaya gimana"
"huft" ify cemberut. kenapa "Cuma bentar sih ma? Kenapayaaaa, mungkin paling gak 3 hari kek, 4 hari kek ato seminggu. Ini? sehari aja ga nyampe"
"ya gimana lagi fy, mama kan cari kerja buat ngehidupin kalian berdua. Belum lagi supir sama pembantu. Kalo mama ga kerja , siapa yg mau biayain sekolah kalian? Terus bayar gaji pembantu, supir? Terus kebutuhan kalian?"
"tau deh, fikir aja sendiri" jutek ify yang lalu berlari ke lantai atas.
**##**##**##
"kluyuran ke mana sih si ify itu?" gerutu sivia sambil bermain ponselnya.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.
"jangan bilang ini si ify minta jemput" tapi setelah sivia membuka sms masuk, ternyata adalah nomor tak di kenal
-Hai Vi, ini gue Cris :D-
Senyum sivia langsung mengembang.
-Iya gue save ya (:-
Tak lama kemudian, ponsel sivia bergetar lagi. Telfon masuk dari cris
"hahalo?" gugup sivia
"sory ya baru sempet ngabarin, tadi masih ada acara gitu deh" jawab cris
"he eh, gapapa kok"
"lagi apa vi?"
"lagi apa ya? Paling juga nafas, gerak, ngomong"
"haha, lucu loe"
"gue bukan pelawak ah,"
"siapa juga yang bilang loe pelawak?"
"siapa aja boleh"
"ga jelas loe"
"cuek ajaaa"
"udah udah, hehe, loe tau ga gue lagi ngapain?"
"mmmm, telfon gue, nafas, ngomong, gerak yak an?"
"iya bener sih, tapi bukan itu "
"terus??"
"gue lagi kefikiran loe nih"
Sivia langsung blushing. "apaan sih loe"
"eh beneran ya, gue lagi kefikiran loe. Ga tau kenapa, rasanya tuh.."
Cris terdiam sejenak.
"rasanya apa?"
"mmm,, kaya kangen gitu deeh"
Sivia tertawa
"loh, kenapa ketawa?"
gombal loe
"gue ga gombal via, beneran deh"
"Via!! Mama pulang ya?" teriak ify sambil menutup pintu kamar sivia.
"aduh nih anak, eee cris lanjut ntar aja ya, ada ify nih"
"yah, gapapa kok"
"ga ah, yaudah gue tutu ya bye"
Sivia langsung menaruh ponselnya. "iya, kemana aja loe? Kenapa baru balik?"
"eee itu mm gue abis ketemu sama itu si Zahra, tanya2 soal fotografi"
"sejak kapan loe suka fotografi"
"sejak....sejak gue bisa foto. Udah ah, loe udah ketemu mama?"
"uddah"
"nyebelin abis"
"banget"
"padahal minggu depan ulangtahun kita lho"
"iya, apa mama inget ya?"
Ify mengangkat bahu "iqbal aja mama ga inget, apa lagi kita?"
"udah ah males banget bahas mama," sungut sivia
"eh iya, loe tadi telfonan ya? Sama siapa hayo?" goda ify
"apaan? Ga kok. Sama temen"
"temen? Temen siapa? Emang loe punya temen?" Ify terkekeh
Sivia mendelik
"pasti gebetan baru" tebak ify
"sok tau"
"loe tuh ga bakalan bisa ngebohongin kembaran loe sendiri tau ga". ify membanting tubuhnya di kasur, sebelah sivia. "berubah dong vi, masa loe terus terusan maini perasaan cowo"
"gue ga pernah permainin cowo kok, mereka tuh yang mainin gue"
Ify berdecak, "terserah apa kata loe. Gue Cuma ga mau ,loe kena karma. Yang lebih berat" tutur ify
"iya iya Alyssa sayga saufika" jawab sivia malas
Tak lama kemudian, ponsel ify berdering. Tapi ify sudah tertidur nyenyak sambil mendengarkan musik.
"fy, sms tuh" sivia menoleh ke belakang. "dih tu anak udah tidur aja"
Sivia pun memutuskan untuk mematikan ponsel ify. Tapi nama alvin yg menari-nari pada gambar pesan membuat sivia penasaran.
-fy, maafin oma gue ya. Oma emang kaya gitu. Jangan bosen2 maen ke rumah gue, keyh-
Sivia melongo. 'Jadi ify ke rumah alvin tadi?' Batinnya. Entah mengapa ada rasa yg mengganjal dihatinya saat membaca sms itu.
**##**##**##
"Yo," panggil alvin dari bawah.
Rio melongokkan kepalanya kebawah. "Apa?"
"Gue ke atas ya?"
Rio mengangguk.
Alvin memanjat tangga dan menghampiri Rio yg duduk di atap rumah alvin.
"Tumben lo kesini? Ada apaan?"
Rio menggeleng. "Gak ada apa-apa" juteknya
Alvin mencium gelagat aneh dari Rio. "Jujur aja deh sama gue. Lo kenapa? Kok..."
"Gue gak apa-apa vin!" Bentaknya
"Terakhir kali lo kaya gini, waktu lo disakitin sama Dea" alvin menyimpulkan. "Apa sekrang gara-gara dea juga?"
"Tau apa sih lo, vin? Gue tau,lo sahabt trbaik gue. Tapi ga semua hal hrus gue ceritain ke lo kan?"
"Ify ya?" Alvin terus memancing Rio
"Vin! Udah deh, ga usah ikut campur"
"Lo cemburu gara-gara tadi?" Alvin tak memperdulikan ucapan rio
"Lo bisa diem gak sih?!!!" Emosi Rio
"Woles aja yo, gue sama ify gak ada apa-apa. Lo tau kan, gue cintamati sama princess sivia? Gue tadi minta bantuan sama ify buat ba...."
Rio berdecak, "au deh" Rio pun meninggalkan Alvin di atap.
"Yo.. Rio..." Panggil alvin
Rio tak mengacuhkan Alvin & berlari masuk kedalam rumahnya. Ia masuk kedalam kamar. Perasaannya aneh. Jantungnya berdegub tak sewajarnya. Ada rasa lega disana. Entah kenapa, badan Rio kembali panas dingin
"Gue pengen belajar kaya dulu lagi, tapi..dengan keadaan gue yang kaya gini,apa gue bisa? Siapapun,pliss bantuin gue.." Lirih Rio sambil memeluk lututnya.
**##**##**##
Ify memandangi langit yg bertaburan bintang.
"Langit malem ini indah banget deh" gumamnya
"Lo ngapain di balkon malem-malem gini?" Tanya sivia
"Cuma pengen liat bintang"
"Fy, lo jujur deh sama gue. Loo tadi sama alvin,kan?"
Ify langsung menoleh menatap sivia dan membulatkan matanya. "E..enggak kok. Kata siapa lo?"
"Tadi alvin sms lo,"
"Alvin?"
Sivia mengangguk.
"Beneran deh! Gue ga ada apa-apa sama alvin kok vi" sergah ify
"Mau ada apa-apa juga gapapa kali, dia kan bukan siapa-siapa gue"
"Tapi bukannya..."
"Udah deh! Yg gue bilang semalem itu khilaf kok"
"Vi..?"
"Hm?"
"Lo beneran boong soal semalem?"
Sivia mengangguk. "Lo kira beneran? Gila aja!"
"Tapi.."
"Apa? Udah ah, ayo turun kebawah. Mama udah mau berangkat"
Ify mengangguk pasrah. Tapi hatinya mengatakan, ada yg aneh dngn sivia setelah semalam membicarakan alvin
*flashback*
"Kalo diliat liat, alvin cakep juga ya" ujar sivia
"Baru sadar?"
"Iya! Hmm, kalo dia sampe bisa buat gue jatuh cinta, gue bakal teriakin nama dia lewat microfone sekolah,terus gue bakal teriak 'i love u alvin', hihi"
Ify terkekeh ,namun sejurus kemudian dia serius. "Lo serius sama ucapan lo?"
"Hahahahha tau deh. Aduh,kenapa gue bisa ngomong kaya gitu ya"
*flashbackoff*
****
"fy.". panggil mamanya dari ruangtamu, tapi ify tak dengar. Ify terus saja melangkah kea rah dapur, mengambil minuman. Lalu tak lama kemudian, ia di kejutkan oleh muka kusut mamanya yang tiba-tiba sudah ada di depannya.
"astajim, mama!!" pekik ify sambil memegangi dadanya.
Mamanya terkekeh, "kamu kenapa? Kaya liat setan aja"
"abis mama sih" gerutu ify
Mamanya tertawa.
"loh, mama??" ify membelalak. "kapan mama sampe di Jakarta? Kok ify ga tau? Udah lama?" tanya ify sambil memeluk mamanya
"baru aja sayang siang tadi. Tapi kamunya ga pulang-pulang. Kamu darimana aja?"
"ify abis mmmm abisss.."
"iya deh ,anaknya mama udah gede. Pasti udah punya pacar, iya kan? Tuh, ada jerawat di pipi, pasti sering mikirin pacarnya ya?"
"Hahhh??! Jerawat?" ify langsung ngibrit kedepan kaca. masa iya ada jerawat sih? gerutunya
"HAAAA??!! Mampus! Beneran ada jerawat! Duh" ify memperhatikan wajahnya baik baik.
"hayo, siapa pacar amu? Kok ga di kenalin ke mama sih"
"mamaaaaa.. ify ga punya pacar!" sangkal ify kesal.
"masih ga mau jujur ke mama nih? Yaudah deh"
"ahhh tau ah. Eh, mama balik ke kanada lagi ya?"
"iya, terus masih ada urusan lagi. Yaaa, tau sendiri lah mama kaya gimana"
"huft" ify cemberut. kenapa "Cuma bentar sih ma? Kenapayaaaa, mungkin paling gak 3 hari kek, 4 hari kek ato seminggu. Ini? sehari aja ga nyampe"
"ya gimana lagi fy, mama kan cari kerja buat ngehidupin kalian berdua. Belum lagi supir sama pembantu. Kalo mama ga kerja , siapa yg mau biayain sekolah kalian? Terus bayar gaji pembantu, supir? Terus kebutuhan kalian?"
"tau deh, fikir aja sendiri" jutek ify yang lalu berlari ke lantai atas.
**##**##**##
"kluyuran ke mana sih si ify itu?" gerutu sivia sambil bermain ponselnya.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.
"jangan bilang ini si ify minta jemput" tapi setelah sivia membuka sms masuk, ternyata adalah nomor tak di kenal
-Hai Vi, ini gue Cris :D-
Senyum sivia langsung mengembang.
-Iya gue save ya (:-
Tak lama kemudian, ponsel sivia bergetar lagi. Telfon masuk dari cris
"hahalo?" gugup sivia
"sory ya baru sempet ngabarin, tadi masih ada acara gitu deh" jawab cris
"he eh, gapapa kok"
"lagi apa vi?"
"lagi apa ya? Paling juga nafas, gerak, ngomong"
"haha, lucu loe"
"gue bukan pelawak ah,"
"siapa juga yang bilang loe pelawak?"
"siapa aja boleh"
"ga jelas loe"
"cuek ajaaa"
"udah udah, hehe, loe tau ga gue lagi ngapain?"
"mmmm, telfon gue, nafas, ngomong, gerak yak an?"
"iya bener sih, tapi bukan itu "
"terus??"
"gue lagi kefikiran loe nih"
Sivia langsung blushing. "apaan sih loe"
"eh beneran ya, gue lagi kefikiran loe. Ga tau kenapa, rasanya tuh.."
Cris terdiam sejenak.
"rasanya apa?"
"mmm,, kaya kangen gitu deeh"
Sivia tertawa
"loh, kenapa ketawa?"
gombal loe
"gue ga gombal via, beneran deh"
"Via!! Mama pulang ya?" teriak ify sambil menutup pintu kamar sivia.
"aduh nih anak, eee cris lanjut ntar aja ya, ada ify nih"
"yah, gapapa kok"
"ga ah, yaudah gue tutu ya bye"
Sivia langsung menaruh ponselnya. "iya, kemana aja loe? Kenapa baru balik?"
"eee itu mm gue abis ketemu sama itu si Zahra, tanya2 soal fotografi"
"sejak kapan loe suka fotografi"
"sejak....sejak gue bisa foto. Udah ah, loe udah ketemu mama?"
"uddah"
"nyebelin abis"
"banget"
"padahal minggu depan ulangtahun kita lho"
"iya, apa mama inget ya?"
Ify mengangkat bahu "iqbal aja mama ga inget, apa lagi kita?"
"udah ah males banget bahas mama," sungut sivia
"eh iya, loe tadi telfonan ya? Sama siapa hayo?" goda ify
"apaan? Ga kok. Sama temen"
"temen? Temen siapa? Emang loe punya temen?" Ify terkekeh
Sivia mendelik
"pasti gebetan baru" tebak ify
"sok tau"
"loe tuh ga bakalan bisa ngebohongin kembaran loe sendiri tau ga". ify membanting tubuhnya di kasur, sebelah sivia. "berubah dong vi, masa loe terus terusan maini perasaan cowo"
"gue ga pernah permainin cowo kok, mereka tuh yang mainin gue"
Ify berdecak, "terserah apa kata loe. Gue Cuma ga mau ,loe kena karma. Yang lebih berat" tutur ify
"iya iya Alyssa sayga saufika" jawab sivia malas
Tak lama kemudian, ponsel ify berdering. Tapi ify sudah tertidur nyenyak sambil mendengarkan musik.
"fy, sms tuh" sivia menoleh ke belakang. "dih tu anak udah tidur aja"
Sivia pun memutuskan untuk mematikan ponsel ify. Tapi nama alvin yg menari-nari pada gambar pesan membuat sivia penasaran.
-fy, maafin oma gue ya. Oma emang kaya gitu. Jangan bosen2 maen ke rumah gue, keyh-
Sivia melongo. 'Jadi ify ke rumah alvin tadi?' Batinnya. Entah mengapa ada rasa yg mengganjal dihatinya saat membaca sms itu.
**##**##**##
"Yo," panggil alvin dari bawah.
Rio melongokkan kepalanya kebawah. "Apa?"
"Gue ke atas ya?"
Rio mengangguk.
Alvin memanjat tangga dan menghampiri Rio yg duduk di atap rumah alvin.
"Tumben lo kesini? Ada apaan?"
Rio menggeleng. "Gak ada apa-apa" juteknya
Alvin mencium gelagat aneh dari Rio. "Jujur aja deh sama gue. Lo kenapa? Kok..."
"Gue gak apa-apa vin!" Bentaknya
"Terakhir kali lo kaya gini, waktu lo disakitin sama Dea" alvin menyimpulkan. "Apa sekrang gara-gara dea juga?"
"Tau apa sih lo, vin? Gue tau,lo sahabt trbaik gue. Tapi ga semua hal hrus gue ceritain ke lo kan?"
"Ify ya?" Alvin terus memancing Rio
"Vin! Udah deh, ga usah ikut campur"
"Lo cemburu gara-gara tadi?" Alvin tak memperdulikan ucapan rio
"Lo bisa diem gak sih?!!!" Emosi Rio
"Woles aja yo, gue sama ify gak ada apa-apa. Lo tau kan, gue cintamati sama princess sivia? Gue tadi minta bantuan sama ify buat ba...."
Rio berdecak, "au deh" Rio pun meninggalkan Alvin di atap.
"Yo.. Rio..." Panggil alvin
Rio tak mengacuhkan Alvin & berlari masuk kedalam rumahnya. Ia masuk kedalam kamar. Perasaannya aneh. Jantungnya berdegub tak sewajarnya. Ada rasa lega disana. Entah kenapa, badan Rio kembali panas dingin
"Gue pengen belajar kaya dulu lagi, tapi..dengan keadaan gue yang kaya gini,apa gue bisa? Siapapun,pliss bantuin gue.." Lirih Rio sambil memeluk lututnya.
**##**##**##
Ify memandangi langit yg bertaburan bintang.
"Langit malem ini indah banget deh" gumamnya
"Lo ngapain di balkon malem-malem gini?" Tanya sivia
"Cuma pengen liat bintang"
"Fy, lo jujur deh sama gue. Loo tadi sama alvin,kan?"
Ify langsung menoleh menatap sivia dan membulatkan matanya. "E..enggak kok. Kata siapa lo?"
"Tadi alvin sms lo,"
"Alvin?"
Sivia mengangguk.
"Beneran deh! Gue ga ada apa-apa sama alvin kok vi" sergah ify
"Mau ada apa-apa juga gapapa kali, dia kan bukan siapa-siapa gue"
"Tapi bukannya..."
"Udah deh! Yg gue bilang semalem itu khilaf kok"
"Vi..?"
"Hm?"
"Lo beneran boong soal semalem?"
Sivia mengangguk. "Lo kira beneran? Gila aja!"
"Tapi.."
"Apa? Udah ah, ayo turun kebawah. Mama udah mau berangkat"
Ify mengangguk pasrah. Tapi hatinya mengatakan, ada yg aneh dngn sivia setelah semalam membicarakan alvin
*flashback*
"Kalo diliat liat, alvin cakep juga ya" ujar sivia
"Baru sadar?"
"Iya! Hmm, kalo dia sampe bisa buat gue jatuh cinta, gue bakal teriakin nama dia lewat microfone sekolah,terus gue bakal teriak 'i love u alvin', hihi"
Ify terkekeh ,namun sejurus kemudian dia serius. "Lo serius sama ucapan lo?"
"Hahahahha tau deh. Aduh,kenapa gue bisa ngomong kaya gitu ya"
*flashbackoff*
****
cabb ::
cerbung,
Idola Cilik,
Ify,
Rio
Kiss Me Again (Part 7)
“yo, bisa tolongin gue ga?”
“tolongin apa?”
“gue pengen sivia beneran jtuh cinta sama gue”
“mustahil” cbir rio
“ga ada yang mustahil di dunia ini, asal loe mau berusaha” sambung ify dari belakang
“ify? Loe mau bantuin gue?”
Ify mengangguk. “gue yakin loe bisa ngerubah sivia” jawab ify. “gue ga pengen dia mainin cowok-cowok melulu, kasian kalo sampe dia kena karmanya”
Rio terdiam ketika melihat ify di sampingnya. Rasa aneh itu kembali menyerbu tubuhnya. Lalu sekelebat terlintas Vero di fikirannya. Rasa penyesalan itu langsung menyergap hati Rio. Rasanya sesak, sampai Rio kesulitan bernafas.
“yo, gimana loe setuju ga?” tanya Alvin membuyarkan lamunan Rio.
“ha? Apaan?”
“jiah ni anak daritadi ga dengerin kita ngomong ya?”
“sory, gue balik duluan,” ujar Rio sambil memberi kode ke Alvin. Alvin yg sudah hafal pun langsung mengangguk. “iya, ati ati yo”
“kenapa dia?”
Alvin menggaruk tengkuknya, “wah ga tau juga gue, mungkin penyakit nya kambuh lagi”
“penyakit?”
“eee apa ya, ah maksud gue yaaa gitu deh ah ga usah bahas dia, gimana? Kita jadi nyusun rencana?”
Ify mengangguk. “di rumah loe aja, takutnya kalo di rumah gue, kita ga leluasa ngomong”
Alvin mengangguk. “sekarang aja yuk, gue ga sabar”
Mereka berdua langsung beranjak ke rumah Alvin
**##**##**##
Sivia yang sedang asyik shopping tiba tiba di kejutkan oleh pertemuannya dengan cowok kece dari SMA Hitesu, sekolah jepang yg letaknya tidak jauh dari sekolahnya.
“nama loe sivia kan?” tanyanya tiba tiba dari belakang
“eh? Iya. Loe siapa?”
“gue Cris, cristoffer nelwan, anak Hitesu”
Sivia hanya mengangguk angguk
“boleh kenalan kan?”
“boleh aja”
“mmm,loe anak Sayga kan?”
Sivia mengangguk
“kok sendirian? Mana kembaran loe? Si Alicia itu?”
“Alyssa, bukan alicia”
“oh sorry, guek an ga tau.”
“iya, eh bukannya anak Hitesu jam segini belum pulang ya?”
“ iya, tapi kebetulan gue tadi di depan gerbang terus ngeliat loe keluar jadi gue ikutan keluar. Sebenernya, gue udah lama pengen kenalan sama loe. Tapi dulu sih gue masih minder. Lama lama, gue ga tahan juga, jadi gue langsung nyamperin loe. Gue… ga malu-malu in kan?”
“hah? Ngga kok” jawab sivia.
“beneran? Dandanan gue gimana? Ga malu maluin ? ga ancur juga kan?”
Sivia menggeleng sambil tersenyum kecil.
“oh yaudah berarti gue ganteng ya, wah tuhan ngabulin doa gue, buat tampil ganteng kalo ketemu loe nanti”
“jiah bisa aja loe”
“bisa dong, gue gitu”
“loe mau kemana? Sini gue bawain tasnya”
“eh? Ga usah . jangan , masa baru kenal udah gitu gak deh makasih”
“udah deh, masa iya gue tega ngeliat loe bawa barang segini banyaknya? Udah gue bawain ajja” ujar cris sambil mengambil 4 kantong plastic yg sivia bawa
Sivia tersenyum, “thanks”
“iya, betewe abis ni loe mau kemana?”
“mmm gue masih mau beli t-shirt gitu di lantai atas”
“yaudah gue temenin ya”
Sivia mengangguk, ‘duhh dapet kenalan cowok cakep banget gini, pasti tajir juga deh’ batin sivia
**###**##**##
Agni Angel dan Oik sudah bersiap di depan gerbang. Ketika mereka melihat target yg mereka incar, mereka langsung bersiap.
“ekhmmm, mojok sama pemilik SAYGA gimana sih? Di gudang lagi? Duh duh,” cibir Angel sambil melirik Rio
“itu pasti Cuma manfaatin doang Ngel, dia kan Cuma numpang tenar doang” lanjut Oik
“duh duh, kasian banget deh, kalo mau tenar ga usah manfaatin pemilik SAYGA dong.. pengen tambah ngetop gara gara predikat prince of lesson ? kampungan cara loe” tambah agni
Rio langsung menghampiri mereka bertiga, “maksud loe apa?”
“hah? Apaan ya?”
“omongan loe barusan!”
“emang kita ngmong apaan?”
“mending service deh tuh otak kalian bertiga. Jangan kebanyakan mikir yang gak gak. Ga takut apa sama tuhan?” Rio pun langsung beranjak ke parkiran di luar sekolah.
“takut? Cih, liat deh. itu cirri-ciri cowo pengecut. Yuk guys kita cabut” ajak angel pada agni dan oik
**##**##**##
“makasih banget ya cris, loe udah bantuin gue. Aduh, maaf ya kalo barang bawaan gue ini banyak. Sory kalo ngerepotin loe banget hari ini” uajr sivia tak ena sendiiri.
“ga kok, santai aja. Gue ga ngerasa di repotin. Oh iya, gue ada acara nih. Gue duluan ya? Ntar gue sms loe kok”
Sivia mengangguk. “Iya, sekali lagi thanks ya buat semuanya”
“Iya cantik, gue balik dulu ya”
Cris berlalu, sivia masuk ke dalam rumah sambil bersenandung riang.
“bi, ify udah pulang belum?”
Bibi tunem(?) menggeleng. “saya ga tau non”
“ihh,gimana sih bi? Kerjaannya di rumah ngapain aja? Pasti gossip mulu sama pembantu sebelah?” sivia melengos.
“engg..nggak kok non. Bibi tadi, bibi..”
“hallo sayang..”
Sivia menoleh ke belakang dan tersenyum senang. “mama? Mama baru pulang? Kapan sampe Jakarta?”
“baru sampe jam 1 siang tadi sayang, ify kemana? Kamu ga bareng sama dia?”
Sivia menggeleng .”nggak ma, ify mungkin masih ada acara. Eh , mama di Surabaya lama kan? Ga balik ke kanada lagi kan?”
“ga sayang, mama masih ada kerjaan. Nanti jam7 mama udah harus balik lagi ke kanada, terus ngurus butik mama yang ada di new Zealand. Abis itu belum lagi ke india, cari kain-kain”
“terus, mama pulang dan balik ke Jakarta mulai kapan?”
“mungkin setengah tahun lagi, sayang. Sabar ya”
Sivia menunduk. “kenapa selama itu sih ma?” gumamnya lirih
“apa sayang?’’
“eh gak kok ma. Yaudah sivia ke atas dulu ya” sivia langsung menaiki anak tangga. Sedangkan mamanya hanya geleng-geleng sambil kembali berkutat dengan ipad yg di pegangnya
**##**##**##
“rumah loe dimana sih vin? Perasaan ko ga sampe sampe” sungut ify kesal
“yah, bentar lagi juga nyampe. Sabar napa, daritadi ngomel melulu”
“abis rumah loe jauh banget”
“deket kok, loe aja yang ga kebiasaan jalan kaki”
“siapa suruh loe ngajak jalan kaki,”
“udah deh loe diem aja”
Tak lama kemudian Alvin berhenti.
“loh ngapain berhenti?”
“udah sampe dodol”
Ify menoleh kea rah kiri, lalu melongo. “ini rumah loe?”
Alvin menggeleng.
“terus, ini rumah siapa?”
“oma gue. Ayo masuk”
Ify pun menurut. Ia masuk ke dalam rumah bertingkat dua yang lumayan besar itu.
“oma, Alvin pulang” ujar Alvin saat masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, seorang wanita yg berumur sekitar 60 tahunan berjalan menghampiri Alvin dan ify di ruang tamu.
“eh cucu oma udah pulang, sama siapa vin?”
“sama temen Alvin, oma. Kenalin, dia ify.”
“saya ify, oma” ujar ify sopan
Oma Alvin tersenyum nakal. “temen ato pacar?”
“temen omaaa! Swear!”
“masa?” godanya
“udah deh oma nih hobinya godain aku aja ya.”
“iya iya, oma tau Alvin udah besar, udah punya privacy sekarang. Oke, oma ga ganggu. Kamu mau minum, fy?” tawar oma pada ify
“ah, ga usah, ngerepotin oma aja”
“anggap rumah sendiri aja, dan anggep oma ini sebagai oma kamu ya”
“ah, oma bisa aja hehe”
“yaudah, oma mau kebelakang dulu ya”
“lho, oma, masa cucu tersayang mu ini ga di tnayaain mau minum apa?”
Oma berdecak, “ngapain? Kamu kan punya tangan, punya kaki. Bisa kan ambil sendiri?”
“aaaa oma ko gitu sih, jadi sekarang cucunya oma ganti ke ify ya?” rengek Alvin seperti anak kecil
“hmmm gimana ya, enaknya gimana?”
“aihhh tau gitu gue ga ngajak loe kesini fy” sungut Alvin
“hush ga boleh ngomong gitu, yaudah oma mau buat minum, buat ify sama Alvin” oma pun langsung ngibrit(?) ke dapur.
“loe tinggal disini sama oma loe doang vin?” tanya ify sambil duduk di sofa
Alvin mengangguk “yap”
“ortu loe?”
“ortu? Hahaha, gue ga punya ortu”
“heh? Maksud loe, udah ga ada gitu?”
“ga”
“terus?”
“gue di buang sama ortu gue, dan di titipin ke oma gue”
“Hah?!” pekik ify sambil melotot. “serius loe?”
“duarius,”
“kok gitu?”
“ya jangan tanya gue, man ague tau” jawab Alvin sewot
“oke oke, gue gabakal tanya tanya lagi. Maaf ya” ujar ify
“iya gapapa”
“terus, gossip loe , emmmm,, anak kurang mampu itu… gimana ya? Buktinya rumah loe gede kok, ga kaya apa yang mereka bilang”
“mereka? Siapa?”
“yaaaaaa, loe tau kan siaapa orang yg sirik sama loe? Mmm.. yaah pokoknya gitu deh”
“rumah gue kan emang bukan disini, gue Cuma numpang. Ini rumahnya Rio”
“eh? Rumah Rio? Terus Rio nya mana?”
“di sebelah”
“oooo jadi gossip yg bilang rio itu orang kaya itu beneran? Iya?!”
“bukan gossip lagi itu mah, itu fakta!!”
“rio punya 2 rumah disini?”
Alvin mengangguk., “iyaaaa”
“loe kenal rio darimana?”
“dari SMP, gue sama dia sesekolah. Ga sengaja sih, gue di olok2 sama temen-temen gue di SMP,terus Rio bantuin gue. Pokoknya, bisa di bilang riot uh best friend gue banget lah. Dia slalu mau aja gue repotin hehe, aslinya ga enak juga sih. Tinggal di rumah Rio, tapi gue ga bayar apa-apa. Yaa gue Cuma bayar pake persahabatan yg tulus tanpa penghianatan gitu doang”
“cie bahasa loe vin”
“beneran tau. Hahaha. Berapa taun gue sama rio sekelas? Itu permintaan Rio. Apalagi rio punya kuasa, wlaupun gitu, rio ga pernah sombong n pamer. Dia tetep rendah hati dan sederhana. Gue suka banget sifatnya dia. Kadang, gue pengen kaya rio.”
“iya ya, riot uh sederhana banget. Sama sekali ga keliatan kalo dia tuh anak orang terpandang di asia tau ga. Duh beruntung banget ya loe, vin.”
“iyap, gue beruntung punya sahabat sebaik dia.”
“gue iri banget sama loe”
“kenaapa?”
“loe bisa punya temen yg bener bener care am aloe, slalu ada buat loe dan bertemen sama loe tuh apa adanya banget. Ga mandang yg namanya status lah, apalah..”
“gue tau rasanya jadi loe” jawab Alvin sakratis,”Cuma beda dikit. Loe karena kepopuleran dan keayaaan loe, dan gue? Dengan otak encer gue dan sifat gue yg paling ga bisa buat nolak orng lain. Gue bener-bener….ah, gimana ya? Bodo banget tau ga”
“tetep mau bantuin walopun loe tau, loe lagi di manfaatin, gitu?”
Alvin mengangguk, “bodo banget kan gue? Ckck. “
“loe ga bodo vin, loe Cuma terlalu baik” jawab ify sambil tersenyum
“gue kan emang baik, hahaha”
“cih dasar, di puji dikit pala langsung gede,” cibir ify
Alvin terkekeh, “kan emang kenyataan tau, kalo gue ini baik”
“apa kata loe dah”
Tak lama kemudian, oma Alvin datang membawa sepiring kue dan dua gelas strawberry juice, favorit ify dan Alvin.
“makasih oma, waaaaa, oma tau banget sih kesukaannya ify” ujar ify sambil meringis.
“oh kamu juga suka ya? Oma kira Alvin aja yang suka jus strawberry. Wah kalian ini emang cocok ya(?)”
“cocok dari mananya oma?” tanya ify bingung
“aaaa oma ngaco, udah deh sana, jam 4 sore ini ka nada oh my lady di indosiar, oma ga mau ketinggalan siwonnya oma itu kan? “
‘astaga, bener kamu vin, ini udah jam 4 lebih, makaih ya vin, udah ingetin oma. Lopelope deh(?)” oma Alvin pun langsung beranjak darisana
Ify tertawa
“loe kenapa fy?” tanya Alvin sambil menyerngit
“gapapa, oma loe lucu deh. gaul banget, suka nonton drama korea”
“ya gitu deh, agak sinting emang kalo udah masalah k-drama.”
“sivia mah lewat” ify kembali tertawa
“oh ngomong2 ttg sivia, kita dari tadi ngomong panjang lebar tapi sama sekali ga nyebut nama sivia ya? Baru sadar gue.”
“oiya ya? Bukannya tujuan awal kita kesini mau ngebahas rencana buat bikin sivia suka sama loe ya?”
“iya, tapi kenapa ngelantur kemana mana gini sih?”
Ify mengangkat bahunya, “yaudah, ayo kita bahas. Loe maunya gimana?”
“gimana ya? Alon alon asal kelakon aja deh”
“dih, ga bakal maju kalo loe pake tuh peribahasa. Gimana kalo……..”
**##**##**##
“when i look at you my face gets red
when i see you my heart goes thump thump
i talk with shyness like a kid
when i look at you i just smile out of nowhere
like a fool I keep doing thatI think love came to me”
-m-
**##**##**##
“yo, tolong anterin sop buntut ke rumah Alvin ya, kayanya omanya Alvin ga masak tuh” seru mama rio dari dapur.
Rio yg sibuk membaca komik pun langsung menghampiri mamanya. “siap!”
Rio pun langsung membawa mangkok berisi sop buntut itu ke rumah Alvin. Tapi sesampainya di rumah Alvin, rio malah menemukan pemandangan yang menurutnya sangat tidak enak.
“al…” baru saja Rio hendak memanggil Alvin, tiba tiba tenggorokannya tercekat. Saat melihat Alvin dan ify sedang duduk berdua di sofa dan asyik bercanda.
“vin..” panggil rio setelah beberapa saat terdiam
“eh, yo, ada apa?”
“ini, nyokap gue bikin sop buntut kesukaan oma loe. Mmm, sory y ague ganggu. Gue balik dulu” kata rio datar.
“loh, ga mau mampir?” tanya Alvin.
Ify yang ada di dalam ruangan itu pun hanya menatap Rio, makin membuat Rio aneh. “ga deh, kayanya loe lagi sibuk sama ify. Gue balik ya, masih ada urusan”
Alvin mengangguk, “:thanks ya”
Rio berjalan cepat kembali ke rumahnya. Lalu langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya. Rio berencana untuk bershower karena hatinya sedang galau (?) *oke abaian*
Perasannya saat ini aneh, antara sedih, kesal, marah dan….entahlah. apapun itu, rIo merasa akn ada sesuatu segera datang padanya.
**##***##**##
cabb ::
cerbung,
Idola Cilik,
Ify,
Rio
Kiss Me Again (Part 6)
Pagi ini, rio berangkat dengan muka kusut. Pasalnya, ketika dia sampai di rumah Alvin, ternyata Alvin sudah tidak ada di rumah dan parahnya lagi, Alvin berangkat bareng sivia. Muka rio makin kusut ketika sampai di kelas, ternyata Alvin duduk di sebelah sivia. Sedangkan bangku yang biasa di dudukinya dengan Alvin malah diduduki oleh ify.
“ini apaan maksudnya??” tanya Rio jutek pada sivia.
“ga usah sinis gitu deh yo. Mending loe duduk aja. Lagian ga ada bangku lagi, kan?” ujar Alvin.
“iya yo, bener kata Alvin. Mendingan loe duduk sama ify. Kan mulai sekarnag gue sama Alvin pacaran, jadi Alvin duduk sama gue loe duduk sama ify. oke
“enak aja! Gue tetep sama Alvin!” kekeuh rio
“loe sama ify aja yo. Gue kan udah sama sivia”
“oh jadi gitu, loe lebih mentingin sivia? Oke fine” Rio pun duduk di sebelah deva tanpa permisi
“eh apa apan loe? Gue sama ray tau!”
“ayo lah, sekali aja sama gue”
“ogahhh”
Rio berdecak, lalu pindah ke bangku patton.
“loh, kamu mau ngapain yo?”
“ya mau duduk sama loe lah!!”
“kan aku sama ozy”
Rio langsung bangkit dari duduknya. Menuju bangku kosong di depan guru.
“eittss, ini tempat gue sama oik ya” kata Zahra
Rio menggeram kesal. Lalu ia duduk di sebelah obiet. Sebelum ia duduk, obiet telah menaruh tas di bangku sebelahnya. “gue sama kiki”
“aaaahh! Gila loe semua” rio yang ngambek pun langsung duduk di sebelah ify karena bel sudah berbunyi dan tidak ada lagi tempat tersisa disana.
“duduk aja harus muter muter dulu” cibir ify
“biarin aja fy, dia sebenernya jaim. Kalo nerima duduk sama loe, ntar turun harga diri dia” sahut sivia yang ada di depan Rio.
Rio yang di sindir Cuma diam saja. Tak lama kemudian pak nano masuk ke dalam kelas. Ia mulai menerangkan rumus rumus fisika dan kawankawan *plak
Rio yang badannya sudah keringat dingin pun Cuma bisa mendengarkan penjelasan pak nano tanpa menoleh kea rah lain. Untuk memegang bolpoin saja tangannya sudah gemetaran.
Ify yang sebenarnya tidak niat dengan pelajaran ini, tapi melihat Rio yang sibuk memperhatikan pak nano pun akhirnya ikut ikut an sok ngerti. Padahal otak ify rasanya pusing melihat deretan rumus rumus itu.
Ify menoleh kea rah rio,niatnya ingin bertanya tentang rumus itu, karena ia tau Rio murid pandai di sekolah ini. ketika menoleh, ify terkikik sendiri melihat wajah Rio yg begitu serius menyimak pelajaran.
‘diliat dari deket rio ganteng juga kok’ batin ify.
Rio yg merasa di perhatikan pun menoleh kea rah ify. Ify pun langsung melengos kea rah lain. Perasaan rio mau pun ify sekarnag tidak karuan. Jantung mereka berdebar debar.
‘ify sebenernya cantik sih tapi….ah fikiran loe ngaco yo! Beneran deh’ batin rio sambil geleng geleng kepala.
Ify yang merasa rio sedang memperhatikannya langsung menoleh dan…
Cuuupp..
Bibir ify tak sengaja mencium pipi kiri Rio.
“fy gue pin….” Sivia yang tak sengaja melihat mereka berdua pun hanya melongo sambil menyenggol Alvin. Alvin yang menoleh ke belakang juga melongo.
Setelah beberapa menit mereka tersadar, ify langsung membuang muka. Rio yang sudah sadar malah makin deg degan dan salting. Sivia dan Alvin masih cengo.
“kalian tadi ngapain??” tanya Alvin lirih.
Ify menunnduk sambil memegangi pipinya. Sedangkan Rio langsung neloyor pergi keluar kelas.
“gue ga nyangka, loe sama Rio…”
“udah deh siv!” pekik ify pelan.
Tawa sivia meledak hingga pak nano dan semuanya menoleh kea rah sivia.
“sivia, ada apa?”” tnaya pak nano
“oh, ga ada apa apa kok pak, bapak bisa lanjutin pelajarannya”
Pak nano pun kembali menerangkan rumus yg terpantul dari proyektor.
“goblok banget! Kenapa bisa begini sih??” kesal Rio yang sudah sampai di kamar mandi.
Sekujur tubuhnya bergetar #jiah apa bahasa gue apa banget#. Rio membasuh wajahnya beberapa kali, hingga fikirannya benar benar tenang.
Ia menatap wajahnya di kaca. Lalu mengusap pipinya pelan. “ga boleh sampe kejadian lagi, ga boleh.” Gumamnya.
“duh, gimana nih? Kalo gue balik ke kelas, mau di taroh mana muka gue? Mampus deh gue. Pasti di cengin abis abisan sama Alvin. Sivia juga. Aaaaaa tau deh”
Rio memutuskan untuk tidak kembali ke kelas hingga jam istirahat berbunyi.
**##**##
“iini rio kemana sih?” tnaya Alvin yang sudah di cafeteria bersama ify dan sivia
“tengsin kali, malu ketemu ify lah” jawab sivia yang makin membuat ify salting.
“kalian ini daritadi ngebahas itu mulu, kan udah gue bilangin, itu ga sengaja! Ga-se-nga-ja!!”
“tapi kok lama banget sih?”
“aaaaaa tau deh loe semua ya… uuhhh”
“ciee ify mukanya merah” goda Alvin
“eh iya vin bener loe. Cieeee merah nih mukanyaaa”
“aaa awas aja loe berdua! Tau deh, males banget gue sama loe loe pada.” Ify pun beranjak dari cafeteria.
“hahaha kayanya bentar lagi ada yang bakal jadian nih hmm” ujar Alvin
“bener bener, gimana kalo kita comblangin mereka berdua?” usul sivia
Alvin mengangguk, “boleh boleh”
“ekhmmm” dehem Gabriel yg ada di depan mereka.
“loe lagi loe lagi mau loe apaan sih yel?”
“mau gue?” iyel pun menarik tangan sivia. “mau gue itu loe vi”
“heh, ga usah pegang pegang loe!” Alvin menepis tangan Gabriel
“aww takuuut, pacarnya maraaaah”
Alvin mendelik kea rah Gabriel.
“oke oke, duh jadi gimana gitu diliatin sama kalian berdua. Ehmm” Gabriel maju selangkah. “kalian ga bisa terus terusan boong kaya gini. Gue tau kok kalo kalian Cuma pacaran pura pura. Mmm, pokoknya pasti anak-anak bakalan tau. Dan loe, Alvin, loe bakalan makin di kucilin anak-anak disini.”
“udah deh jaga omongan loe. Gue ga butuh bacot loe itu!” ujar sivia pedas
“o wow ow. Oke gue bakalan jaga bacot gue, tapi liat aja. Kalian ga bakal tenang.”
“oke, gue tunggu” tantang sivia.
“yaudah deh, daripada gue di bilang banyak bacot. Gue pergi dulu ya. Kalo disini terus-terusan di liatin gini kan ga enak. Yaudah bye siviaku”
“hoeekkk pergi loe yang jauh ! gausah pake balik balik lagi. Enek tau gaaaaaa”
“tuh anak ga jelas banget sih. Udah nyelingkuhin loe,tapi masih mau balikan sama loe. Apaan coba maunya. Maruk amat” ucap Alvin
“udah ga usah di peduliin. Balik ke kelas aja yuk” sivia langsung menggenggam tangan Alvin.
Deg deg deg
Jantung sivia tiba tiba berdetak, ia lalu menoleh kea rah Alvin yang tampak biasa saja.
“duh kenapa nih” gumamnya.
“eh? Kenapa vi?”
“oh.. gapapa kok”
Mereka pun kembali ke kelas
“si rio kemana sih? Pokoknya gue harus minta maaf sama di…”
“ga perlu minta maaf” ujar suara baritone itu membuat ify terlonjak kaget.
Rio berjalan di sebelah ify. “itu ga sengaja kan? Yaudah loe ga perlu minta maaf”
“tapi… loe tadi kemana yo? Kok sampe istirahat ga ada?”
“gue di taman.” Jawabnya
“gue kira loe marah sama gue”
“ga kok.”
Ify manggut manggut.
“mm fy, loe bisa jaga rahasia?”
Ify menatap rio, “rahasia? Bisa. Kenapa yo?”
“ikut gue” rio berjalan menuju gudang di ekori ify.
“gue, udah anggep loe temen gue. Sama kaya Alvin. Dan yang tau Cuma loe sama Alvin”
“emang rahasia apaan sih yo?”
“loe duduk dulu gih..”
Ify menurut. Rio menutup pintu gudang dan duduk di depan ify.
“gue alergi sama cewe”
“hah?” ify melongo
“iya gue alergi sama cewek gue juga phobia sama cinta”
“kok bisa??”
“bisa lah”
“pantesan…”
“pantesan apa?”
“loe ga pernah deket sama cewe. Gue kira loe ga normal. Homoan sama Alvin”
“gue gini gini juga masih normal tau. Itu sih soalnya temen gue disini Cuma Alvin. “
“abis gue liatnya loe sama Alvin melulu ,makanya gue udah berasumsi yang gakgak tentang loe. Hehe maaf” ify meringis
“gapapa, maklum kok.”
“emang kenapa loe bisa phobia cinta sama alergi cewek?”
“itu karena masa lalu gue fy”
“masa lalu? Maksud loe?”
# FLASHBACK #
Rio mengajak Vero ke sebuah café yg tak jauh dari SMP Rio. Di bantu Alvin, rio pun menyusun rencana penembakan untuk Vero.
“semua udah siap kan vin?” tanya rio
Alvin mengangguk :”beres boss!”
“oke, loe ajak si vero kesini ya”
Alvin langsung menghampiri Vero dan mengajak Vero ke café milik keluarga Rio tersebut. Sesampainya disana, Vero bertanya pada Rio
“ini apa yo?”
Rio yang sudah standby di tempatnya langsung memetik gitar dan bernyanyi untuk Vero.
“Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don’t make me change my mind
Or I wont live to see another day
I swear it’s trueBecause a girl like you is impossible to find”
“gue cinta sama loe Ver, loe mau ga jadi cewek gue?”
Vero pun langsung mengangguk, “sebenernya gue juga udah lama suka sama leo yo, tapi gue ga berani bilangnya”
Rio pun langsung memeluk Vero.
***
Sebulan kemudian..
“happy anniv 1st month for us!!” ucap Vero di telfon
“iya, ga kerasa banget ya”
“hu um, eh ntar ke café ayah kamu dong yo”
“oh oke, kita rayain disana?”
“iya, jam 7 ya”
“perlu aku jemput?”
“ga usah, aku kesana sendiri aja. Ntar juga di anter supir”
“yaudah aku tunggu ya”
tapi naas.. itu terakhir kalinya Rio mendengar suara Vero. Karena sebelum Vero sampai di café ayah Rio, Vero mengalami kecelakaan. Mobil yg di tumpanginya di tabrak truk dengan kecepatan tinggi. Dan vero tak terselamatkan.
#flashback endd#
Tanpa sadar ify menitihkan air mata
“ini ceritaku, apa ceritamu?” ujar rio sambil terkekeh.
“ga lucu tau yo,” ujar ify sambil mengusap air matanya
“lah loe kenapa nangis? Gue ga suruh loe nangis kali”
“tapi cerita loe itu bikin g ue nangis”
“iya maaf.. fy, gue pengen bisa temenan sama loe tanpa ada rasa sedikitpun. Gue ga mau kalo misalnya gue suka sama loe ,loe juga suka sama gue terus kita jadian , ee nasibnya kaya si vero. Gue maunya kita bener bener temen kaya gue sama Alvin. Jadi gue minta, jangan pernah loe suka sama gue ya?”
Ify agak kaget dengan permintaan rio ini. tapi akhirnya mengangguk mantap. “iya, gue bakalan jadi temen loe aja yo, tanpa perasaan apapun. Gue janji”
“oke, mulai sekarang kita temen kan?”
Ify mengangguk lagi.
“oke, kayanya kita udah telat setengah jam pelajarannya bu Ira nih . bisa bisa kita di sate ntar” rio terkekeh
“udah loe tenang aja sama gue, ntar gue yang handle”
“iya deh anak SAYGA. Yaudah mau balik atau..?’’
“balik aja deh yo, lagian loe juga udah selesai cerita kan?”
“he eh”
Ify dan rio pun kembali ke kelas mereka
############
cabb ::
cerbung,
Idola Cilik,
Ify,
Rio
Kiss Me Again (Part 5)
“Fy ambilin cabe ya”
Ify menngangguk lalu mengambil cabe yang ada di dalam kulkas.
“fy loe bisa ngiris bawang ga? Kalo bisa tolon girisin yah. Kalo ga bisa juga gapapa, taroh di situ aja”
“gue bisa kok” ucap ify yakin. Ify mulai mengiris bawang merah dan putih sedangkan Rio sibuk mengiris cabe dan yang lainnya.
“duh pedes juga yah.” Ujar ify sambil meringis.
“kalo kepedesan ga usah di paksa biar gue aja. Mendingan loe bikin minum sana”
“gue bisa kok. Ga pedes, Cuma agak pedes aja” ify bersikukuh. Air mata ify terus mengucur. Rio yg sibuk memasak tidak tau. ‘duh, gue ga kuat nih..’ batin ify. ‘pedeees pedeees oh nooo.. aduh fy loe harus berjuang! Fighting fy! Dikit lagi nooh’ ujar ify menyemangati dirinya sendiri.
Semua bawang sudah berhasil dia kupas. Ify tersenyum penuh kelegaan. “Yo, ini udah selesai.” Ucap ify.
“bawa sini gih” Rio mengaduk-aduk sesuatu dalam panic.
Ify yang matanya masih buram karena nangis tadi pun tersandung sesuatu dan pyaarr..!! mangkok yg di bawa ify jatuh dan pecah. Tapi anehnya ify tidak merasakan sakit. Ketika ify membuka mata, dia jatuh ke dalam pelukan Rio.
Rio yang tidak sengaja melihat ify tersandung pun langsung reflek menarik ify hingga jatuh kepelukannya. Jantung Rio berdetak cepat. ‘jangan mulai deh’ batin Rio kesal.
“Kalian kenapaa??” seru Alvin dan sivia setibanya di dapur.
Ify dan Rio melepas pelukannya. “eh.. gapapa kok” gagap ify.
“wah kita ganggu ya, yaudah ayok vin pergi dari sini” ajak sivia sambil berkedip kea rah ify.
Ify dan Rio merengut. Sivia dan Alvin meninggalkan ruangan.
“sory ya yo, itu tadi ga tau kalo ada sesuatu di bawah. Jadi kesandung deh”
“gapapa, mendingan loe balik ke anak-anak aja deh. biar gue yang bikin makan sama minumnya”
‘eh? Gak ah, gue bantuin loe aja. Gue masih bisa kok”
“udah deh ga usah maksa begitu. Ga usah. Udah loe balik aja, ntar malah makin mecahin yang lainnya lagi” cibir Rio
“ish, yaudah!” kesal IFy yg lalu kembali ke ruang tamu.
“Loe kenapa fy? Muka kok di tekuk mulu” sahut sivia saat melihat ify kembali dari dapur.
“si Rio nyebelin. Sinis banget anaknya.” Ify menatap Alvin “temen loe emang begitu yah?”
Alvin mengangguk, “iya. Dari awal ketemu juga udah gitu. Tapi aslinya anaknya baik banget kok,walaupun pedes sih ngomongnya”
“ga percaya gue. Dari mukanya sih ga ada baik baiknya sama sekali. Idupnya pasti suram banget”
“ah, ga juga, dia hidupnya cerah kok. Lebih cerah daripada hidup loe” Alvin t ertawa.
“jadi loe ngatain idup gue lebih suram? Duh. Muka loe tuh suram!” ify yang kesal pun meninggalkan sivia dan Alvin.
“idih tuh anak kenapa sih? Kok gitu amat” sungut Alvin
“lagi dapet kali” jawab sivia asal asalan
“dapet? Dapet apaan?”
“dapet duren! Au ah” sivia memilih menyibukkan dirinya dengan majalah majalah yg bertumpukan di rumahnya.
“ga kakak, ga adek sama aja” cibir Alvin. “tapi gue tetep cinta sama kakanya kok” Alvin pun tersenyum geli.
“loe kenapa? Jangan nakut nakutin gue gitu deh”
“emang gue nakutin?”
“iya! Loe meringis gitu, gue pengen muntah”
“loe mau muntah? Loe hamil? Sama siapa?” histeris Alvin.
Plak. Majalah yg sivia pegang mendarat di pipi Alvin. “loe tuh oonnya kebangetan ya! Tau gini gue ga bakal minta tolong elo buat jadi cowok pura pura gue” kesal sivia.
“eh jangan dong jangan yaudah deh gue diem. Diem nih diem” Alvin pun membekap mulutnya.
“vin?” panggil sivia.
“apa?”
“tuh masih ngomong! Bentar deh loe tunggu disini ya. “ sivia langsung melesat entah kemana.
“perasaan gue kok ga enak gini yah” gumam Alvin
Tak lama kemudian sivia membawa sesuatu di balik punggungnya.
“vin, loe balik badan gih gue ada kejutan buat loe” ujar sivia manis
“kejutan? Apaa??”
“makanya loe balik badan dulu .. kalo gini gue malu ngasihnya..”
“oke my princess..” Alvin pun membalikkan badannya.
“hitungan ke tiga loe balik badan loe yah”
“sip”
Sivia langsung menggunting lakban yang ia bawa dan duduk di belakang Alvin
“satu… dua.. tigaaa”
Alvin membalikkan badannya. Dan lakban itu menempel di bibirnya.
“nah gini kan enak..”
Alvin yg tangannya bebas dan hendak melepas lak ban itu.
“heh! Jangan sekali kali loe lepas tuh lakban! Kalo loe lepas, gue ga segan segan mutusin loe”
“mmmpph..mmmpphhh” Alvin menggeleng geleng
“yaudah kalo ga mau di putusin loe pake tuh lakban sampe gue suruh lepas”
Alvin mengangguk patuh.
Tak lama kemudian Rio datang membawa makanan kecil dan jus jeruk ke ruang tamu.
“ini makana….eh loe kenapa vin??”
“dia ga bisa diem jadi gue lakban aja mulutnya” jawab sivia enteng
“OHH..” jawab Rio sekenanya
‘sial si rio, bukannya nolongin gue malah ikut ikutan sesat kaya my princess. Aaaa gila, baru hari pertama jadi pacar, mana pacar pura pura lagi, tapi siksaannya udah nakutin banget’ batin Alvin dalam hati.
‘sabar vin, ntar juga ada hasilnya kok kesabaran loe ini. loe harus bikin sivia beneran cinta sama loe, biar loe sma dia bener bener pacaran ga pura pura. Hasek’ Alvin pun tersneyum dalam hati.
“si ify mana?”
“di atas kali”
“oh.”
“kita mulai yuk bikinnya? Sambil nunggu makanan gue mateng” ajak Rio.
Sivia dan Alvin pun langsung berkumpul membahas makalah. Sedangkan ify malah tertidur di kamarnya.
**##**##**##
Sepulang dari rumah sivia..
“loe ga berniat ngelepas itu lakban?”
Alvin menggeleng.
“kenapa?”
Alvin mengambil ponsel dari sakunya dan menuliskan sesuatu.
‘gue disuruh sivia make ini. dan katanya ga boleh di lepas sebelum dia yang nyuruh’
Rio membelalak “gila loe! Cinta sih cinta, tapi ga gini juga. Ini namanya loe di mainin tau! Goblok banget sih loe”
‘biarin’
“dih. Lagian disini ga ada sivia. Kenapa g aloe lepas ajaa?”
‘gue bakal lakuin apa yg dia suruh’
“gila loe. Segitu cintanya sama sivia?”
Alvin mengangguk.
“au ah. Gue duluan ya” Rio langsung masuk ke dalam rumahnya. Rumah Alvin yang berjarak hanya 2 rumah dari rumah Rio pun hanya mengangguk lagi.
**##**##**##
“kenapa gue deg degan gini ya?” gumam Rio
“masa gara-gara tadi? Ga..ga boleh. Gue ga boleh ada perasaan sama cewek. Apa lagi kaya dia” Rio menggeleng-geleng.
“Aduuhh! Kenapa loe harus masuk di hidup gue sih??” Rio mengacak acak rambutnya
“kamu kenapa yo?” tnaya sang mama ketika melihat anaknya bertingkah aneh..
“eh gapapa kok ma” jawab Rio sambil meringis
“Rio tuh ga bisa boong sama mama, ayo bilang kamu kenapa?”
“ga papa mamaku sayang, udah ah Rio mau naik dulu, capek” Rio mencium tangan sang mama lalu berjalan tergopoh ke atas.
“ck, dasar” dercak mama Rio
Di rumah Alvin..
Ringtone ponsel Alvin berbunyi. Alvin yang barusaja sampai di rumah mengangkatnya dengan malas.
“vin. Loe ada FB gak? Ato twitter kek..” suara sivia langsung menyembur ketika telfon di angkat
“mpphh..mmpphh”
“hah? Loe ngomong apaan vin?”
“mmmpphh mmmpphhh”
“vin gue ini lagi serius ya! Loe jawab yg bener kek”
“mmpphh..mmpphhh..”
“ALVIN!!! AAAAA TAU AH” sivia langsung mematikan telfonnya.
Alvin yang bingung pun langsung mengsms sivia
‘gue belum buka lakban yg tadi loe pasang. Kan loe sendiri yg bilang, kalo jangan buka lakbannya sebelum loe suruh’
Sivia yg menerima sms itu langsung merutuki Alvin. Tak lama kemudian, telfon berbunyi lagi.
“gue minta lo lepas tuh lakban sekarang juga!!”
Alvin langsung melepas lakbannya. “nah gitu kek daritadi”
“uuggghh!! Otak loe tuh bebel banget tau ga! Loe oon ato kelewat oon sih?” kesal sivia.
“gue Cuma nurut loe kok” jawab Alvin santai.
“taapi ya… ahh tau deh. loe ada fb? Twitter?”
“fb ada twitter ga. Kenapa?”
“apaan fb loe?”
“Alvin jon…”
“Alvin taq mungkin quat sendiri itu??” tawa sivia
“loe poconggg holic ya?”
“ga tuh.. hahaha iya deh serius gue sekarnag. Apaan fb loe?”
“Alvin jonathan sindunata”
“mm oke. Confirm gue ya. Ntar loe langsung kirim relationship ke gue.”
“ntar ya my princess, kalo gue lagi di warnet pasti gue confirm.”
“sekarang pookoknya ga pake lama!”
“gue ga ada duit princess. Jadi ke warnetnya besok besok aja ya”
“m gini deh.. loe smsin email sama password loe ke gue. Ntar gue buka fb loe.”
“yaudah deh.”
“oke gue tutup ya telfonnya”
“iya prin…”
Tuutt…tuuutt…tuuuttt…
“yah gue kan belom selese ngomong. Gimana sih” sungut Alvin.
Alvin langsung mengetikkan email dan password fbnya pada sivia
**##**##**##
“loe kenapa sih fy?” tanya sivia kesal karena selama satu jam ify mencuekinya
“ga papa”
“gara gara rio?”
“bukan”
“terus?”
“badmood aja”
“fy, loe aneh tau ga”
“egak”
“aaaaah hari ini pada rese semua ya. Ga loe, ga Alvin sama aja”
“so?”
“au ah”
“lo kenapa sih vi?”
“emang loe sendiri kenapa fy?”
“kok balik nanya?”
“abis pertanyaan gue dari tadi ga loe jawab”
“loe duluan jawab gue”
“yah loe duluan dong yang jawab gue. Kenapa gue duluan?”
“tau deh vi”
“oke”
Mreka terdiam tak ada satupun yang berbicara.
“loe suka beneran sama rio?” tanya sivia setelah hening beebrapa saat.
“ga”
“jujur aja”
“enggak sivia”
“terus ? loe sayang rio ? loe cinta rio ?”
“nggak juga”
“apaan dong?”
“ya ga ada apa-apa. Gue ga ada rasa. Kenapa sih loe? Ngarep banget gue punya perasaan sama Rio?”
“yah ga gitu sih. Cuma gue liat loe gimana gitu”
“gimana apanya?”
“ya aneh aja.”
“aaaa tau deh mendingan loe balik ke kamar loe sono gue mau tidur lagi”
“cih kebo!!”
“biarin. Udah sonooo!!” ify melempar bantalnya kea rah sivia.
“iya iya gue pergi” sivia pun beranjak dari kamar ify.
Setelah sivia pergi, ify terdiam lama. ‘apa gue beneran ada rasa sama rio? Ah masa sih? Ga mungkin ah’ batin ify.
#####
cabb ::
cerbung,
Idola Cilik,
Ify,
Rio
Kiss Me Again (Part 4)
“nama gue..”
“Alvinn..!!!” teriak sivia dari kejauhan. Semuanya menoleh ke asal suara.
Sivia mendekati Alvin, lalu melingkarkan tangannya pada lengan Alvin. “Yuk ke kelas bareng” ujarnya
Semua kubu cewek yg mengelilingi Alvin tadi terdiam cukup lama. Berusaha mencerna apa yg sedang terjadi.
“dia….alvin?!” agni buka suara.
Angel dan oik mengangguk..
“ini ga mimpi kan?” tanya dea.
Semuanya menggeleng,
“kok bisa yah?” tanya mereka masih dengan nada lirih.
“jadi itu Alvin ya?”
“iya, Alvin temennya rio itu.”
“Alvin jonathan?”
“he eh..”
“HAH????!!! ALVIN JONATHAN??” serempak semuanya baru sadar.
“eh sumpeh loe?”
“yang bener?? Kok bisa ganteng?”
“kok gak cupu??”
“kok sama sivia?!!”
Semuanya melongo.
“Pokoknya inget! Loe disini jadi cowok gue selama 2 minggu! Inget kan?”
Alvin mengangguk, “Inget kok”
“oke, loe bawain tas gue ini ya” sivia memberikan tasnya pada Alvin.
“kok harus bawain tas segala?”
“yaiyalah! Loe kan disini cowok gue! Kalo loe ga mau bawain, gue tinggal cari cowok lain aja”
“eh jangan dong princess iya iya sini a’a bawain..”
‘cihhh, a’a katanyaaaa’ batin sivia
Alvin membawa tas sivia. Saat mereka masuk ke lift, di belakang mereka sudah ada Gabriel.
“ciee, dua orang ini mesra banget ya” cibir iel.
Sivia menoleh ke belakang, “so? Iri? Cemburu?”
Gabriel tertawa, “mana mungkin gue cemburu? Gue tau kok loe ga bener-bener suka sama Alvin. Terus… mau loe make over sampe mirip JB pun, tetep ga mngkin bisa ngalahin cakepnya gue.”
Sivia mengeratkan genggaman tangannya pada Alvin. Alvin merintih pelan karena genggamannya terlalu erat.
“loe denger ya, gue cinta sama Alvin! Dan gue ga butuh hinaan loe itu. Mendingan loe cepetan pergi deh dari pandangan gue. Kalo ga, gue timpuk tas gue juga loe..”
“iyadeh iya, galak banget.” Ujar iyel dengan senyum meremehkan. Sorot matanya menantang maata Alvin. Alvin yg di lihati oleh iyel Cuma melengos.
Gabriel dan alvia pun berpisah di lantai 3, karena kelas Gabriel ada dilantai 3.
“mana sih Alvin? Jam segini belum dateng. Di tawarin buat gue jemput ga mau. Dasar! Awas aja kalo telat. Buku fisika gue kan ada di dia” sungut Rio.
“morning gaeess!!” teriak ify dengan suara cemprengnya.
Ify langsung melirik kea rah Rio yg duduk di bangku paling belakang pojok sendiri. “tuh anak agak autis ato apa sih?” lirih ify heran.
“waw..” gumam deva dan ray bersamaan saat melihat sivia dengan alvin.
“jadi ini murid barunya? Ngalahin kecakepan kita aja” cibir Ray
“eh tunggu ya, sejak kapan loe cakep? Cakepan Alvin kemana mana gitu” seloroh sivia yg ada di sebelahnya.
“apa loe bilang?”
“al..vin?”
Alvin dan sivia mengangguk.
“loe Alvin? Alvin nya rio itu?”
Rio langsung menoleh kea rah Alvin dan sivia. “lohhh…” kagetnya saat melihat Alvin.
Alvin hanya nyengir.
“jangan canda loe vi. Dia? Alvin??”
“iya! Mau apa loe kalo gue Alvin, heh?” ujar Alvin menantang.
“loe bener…an?”
“tau deh. budek ya loe?” Alvin pun meletakkan tas sivia di bangkunya, lalu menghampiri Rio yang sama kagetnya dengan anak-anak itu.
“Yo, ini buku tugas loe.” Ujar Alvin sambil menyerahkan buku tulis kea rah Rio. Tapi Rio tidak berkedip.
“yo??” panggilnya.
“Riooo…?”
BLUKKK
“Mario stevano aditya haling!!”
“aaww! Apa apaan sih loe, nimpukin gue pake buku segala”
“abis loe sih di panggil ga nyaut nyaut. Loe kenapa yo? Kagum sama gue ya? Ah makasih yo gue amat sangat tersanjung” narsis Alvin yang lalu duduk di sebelah rio.
Ctakkk.
Rio menjitak kepala Alvin. “narsis loe.. eh ,kemaren loe di bawa kemana sama princess loe itu?”
‘duh, mati gue. Masa iya gue bilang kalo gue ke salon? Terus belanja? Oh ga boleh ga boleh’ batin Alvin . “mmm,, itu yoo,, uhhm.. gue”
“loe di bawa ke salon, terus di make over kaya gini, kan??!”
Alvin melotot, tapi gagal #plak. “kok loe tau Yo?”
“tau lah! Otak loe itu transparan,” jawab Rio enteng.
“uuuuh Rioooo! Jahat deh sama gue”
“bodo,” Rio melengos
“ugh.. yo, jangan sebarin ke siapa siapa ya”
“lah emang gue mau nyebarin ke siapa? Ngarang aja loe.”
“kali aja kemana”
“loe sendiri tau kan kalo gue ga deket sama manusia lain selain elo”
“dih, bahasa loe ga enak banget yo”
“biarin”
Alvin mendengus, “loe kenapa sih cuek banget ?” gumamnya.
“ya emang gini takdir gue vin” sahut Rio sekenanya.
“loh? Loe denger apa yg gue omongin yo?”
Rio menoleh kea rah Alvin. “loe kira gue budek? Lo Cuma sejengkal loh dari gue. Mana mungkin gue ga denger?”
Alvin meringis sambil menggaruk garuk kepalanya, “ohh, denger ya. Hehehe”
“ga lucu”
“emang enggak”
“lah kenapa loe ketawa?”
“iseng aja”
“au deh, loe tuh sesuatu banget” ceplos Rio
“AHAHAHA! RIOOO KETAUAANN SUKA LIAT SYAHRIINI! CIKICIEWW” pekik Alvin sambil melompat dari kursinya.
Rio yg menyadari keceplosannya pun menutup mulut Alvin. “apaan sih loe vin?!” bisiknya.
“loe suka liat syahrini yo?” tanya deva dan ray yang tak jauh dari mereka berdua.
“ga kok! Si Alvin aja yg ngaco.”
“blppp…ue ag ita apas..”
Rio melepaskan bekapannya.
“eheh ehe ehe” dengan napas ngos ngisan Alvin masih sempat tertawa. “Ri..o..suka.. sya..hrin..i.. ha..ha.ha”
PLAK
Sebuah gamparan mendarat mulusss di wajah Alvin.
“Rioooo!! Lo hobi banget sih ngegampar guee??” rengek Alvin.
“syalalala” #kakluluk mode on#
“Rio..!!”
“selamat pagi anak-anak..”
Alvin langsung duduk di tempat duduknya #yaiyalah.
“pagi pak”
“ayo kita mulai pelajaran pagi ini.. blab la blab la”
**##**##**##
*langsung di skip, lagi buntu--_--*
“hari ini bikin tugas di rumah loe aja ya” usul Ify pada Rio.
“kenapa di rumah gue? Rumah loe aja”
“gue bosen di rumah, mending di rumah loe aja ya ga siv?”
“uugh Alvin..!! males gue sama loe. Gue ituu GAK SUKA!!”
“duh loe tuh aneh banget sih, masa ga suka sama coklat?”
“ENGGA! Coklat bikin gendut dan gue ga mau gendut!”
“loe ga gendut kok, loe cantik malah. Gemukan dikit lagi dong” pinta Alvin.
“ga mau! Gue udah ideal, dan ga bakal ngerusak tubuh gue dengan makan coklat. Ga lagi lagi” tolak sivia.
Alvin tak menyerah, “Duuh makan satu gigit aja bisa kali siv”
“ga mau pokoknya ga mau ya ga mauuu!!”
“Heh, kalian berdua gajelas banget! Ini gimana? Di rumah loe ato rumah gue?” tnaya rio.
“gue ikut aja deh” jawab sivia dan Alvin serempak
“ciee, so swit abis.”
Muka sivia memerah, Alvin malah nyengir gajelas.
“yaudah di rumah loe aja deh fy” serah Rio.
“huft yaudah deh” mereka berempat pun langsung melesat ke rumah sivia.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sivia dan ify.
“gue laper…” rengek sivia.
“gue hauss..” tambah Alvin
“yaudah gue bikin makanan dulu ya,” usul ify.
“eee jangaan!!” sergah sivia. “terakhir loe masak kan, semuanya jadi abu”
“heh! Sialan loe. Gue bisa masak kok. Enak aja.”
“mending Rio aja yang masak, rio kan pinter masak.” Usul Alvin
“wah boleh tuh! Biar ify yg bikin minum, rio yang masak oke”
“ga mood masak” jawab Rio
“yaaah, loe masa tega sih sama sahabat loe ini. gue laper yo, ntar kalo gue kelaperan terus pingsan gimana? Loe mau angkat gue? Loe mau gendong gue sampe rumah? Loe mau…”
“IYA IYA IYA GUE MASAK..” kesal rio.
Rio dan ify pun menuju dapur untuk memasak.
“masak apa yah..”
“sivia ga suka yang berlemak” sahut ify. “dia anti lemak”
Rio melongo, “terus makannya pake apa?”
“pake apa aja pokoknya ga ada lemaknya. Vegetarian gitu deh”
“hmm, yaudah loe bisa bantuin gue ambilin bahan-bahan buat bikin Kopasztas Kocka ya”
“apaan itu ?”
“kol masak pasta. Loe punya apa aja di lemari es?”
Ify pun membuka lemari es dua pintu yg berisi penuh makanan itu.
“oke, kita masak sekarang”
Alvin dan sivia duduk berdua di sofa ruang tamu. Alvin melirik kea rah sivia. Sivia sedang asyik dengan ponselnya.
“mmm vi” panggil Alvin.
“apa?”
“loe.. cantik banget deh”
“cih, basi loe”
“beneran.. loe tuh kaya..”
“kaya bunga, kaya salju, kaya matahari, kaya apa lagi?” sinis sivia
“yah kok tau sih.”
“gimana ga tau kalo tiap hari loe ngirim surat ke gue yang isinya itu itu mulu”
Alvin terkekeh, “yah, ga bisa gombalin loe dong:
“ga”
“vi, kenapa kita pacaran pura pura sih? Kenapa ga pacaran beneeran aja?”
“itu sih maunya loe”
“loe harusnya juga mau dong, kan gue udah jadi cakep”
“secakep cakepnya loe, gue ga bakal pernah jatuh cinta sama loe.”
“awas aja kalo loe jatuh cinta sama gue”
“ga bakal! Mimpi loe..”
“yaudah.. pokoknya gue bakalan buat loe jatuh cinta sama gue”
“ga bakal bisaaaa”
“bisa bisa. Udah deh liat aja”
PYAAARRRRR…
“aduuhhh”
“eh suara apaan tuh?” tanya sivia pada Alvin.
Alvin mengangkat bahu.
“samperin yuk”
Alvin dan sivia pun menghampiri Rio dan ify….
#####
cabb ::
cerbung,
Idola Cilik,
Ify,
Rio
Kiss Me Again (Part 3)
Bukannya memulai untuk berunding, mereka berempat malah asyik sendiri. Rio yg asyik dengan buku paket Bahasa inggrisnya, Alvin yg sibuk senyum-senyum sendiri sambil curi2 pandang kea rah sivia. Sivia asyik on twitter dan ify asyik memperhatikan Rio secara terang-terangan.
“kalian sudah menemukan topic yg akan kalian bahas untuk makalah kali ini?” tanya mr. Andrew mendekati mereka.
Mereka berempat terlonjak kaget, pasalnya sejak tadi tidak ada satupun yg berbicara. Alvin dan ify meringis, Rio melengos dan sivia pura-pura tak mendengar.
“sepertinya hubungan kalian berempat tidak baik, ya? Yasudah, pokoknya saya tidak mau tau. Pertemuan minggu depan, kalian harus sudah menyeleesaikan tugas makalah kalian”
“baik mister,” jawab Alvin dan ify serempak.
“eh, kita bahas tugas makalahnya sekarang yuk?? Nanti kalo ga bahas sekarnag, gabisa ngerjain tugasnya. Ntar kita di turunin lagi di kelas biasa. Aaaaa gue kan ga mauuu” ujar Alvin lebay.
“yaudah loe aja yg kerjain sana” jawab sivia enteng.
Alvin langsung sumringah, “loe nyuruh gue vi?”
Sivia menatap Alvin sambil menyerngit, lalu tiba-tiba mempunyai ide bagus, “Iya! Gue nyuruh loe. Loe suka, kan sama gue? Kalo iya, tolong dong bikini nih tugas, gue kan ga ngerti” pinta sivia sok manis.
Alvin yg dimanis2i sivia pun langsung berbunga-bunga hatinya, “Iya! Pasti bakalan gue kerjin buat loe my princess..” jawabnya semangat.
DUUGGHH
Rio menjitak Alvin dengan buku paket bahasa inggris yg daritadi di genggamnya.
“awww,,! Riooooo…” rengek Alvin.
Rio mendelik, “tau gak sih kalo loe lagi di manfaatin?!”
Sivia melotot, “apa maksud loe?”
Rio menantang tatapan sivia, “loe Cuma manfaatin kita kan? Memperalat Alvin biar dia nurutin apa mau loe, terus setelah loe dapet apa yg loe mau, loe tinggalin Alvin. Loe buang dia. Udah deh ga usah ngeles,”
“heh, gue ga manfaatin dia yah!”
“kalo ga manfaatin yaudah kita buat itu tugas bareng-bareng. Ntar pulang sekolah di rumah loe ya,” Rio langsung bangkit dari duduknya ketika bel istirahat berbunyi. Alvin pun mengekori Rio.
“uhhh sialan tuh cowok!!” maki sivia, ia lalu memalingkan wajah pada ify. “heh, gue liat-liat loe dari tadi liatin cowok cupu yang pesek itu... loe suka sama dia?”
“HAHH?!!” pekik ify sambil melongo. “ga lahhh! Gila loe. Gue Cuma bingung, dia tuh…aneh banget tau ga”
“aneh gimana? Ecieee care banget sama dia. Siapa sih namanya ? ma…maryo? Eh Mario ding,”
Ify mendengus, “ya aneh aja. Udah deh gausah kaya gitu, ga lucu..”
“abis loe kayanya gimana gitu,”
“yang ‘gimana gitu’ tuh si Rio, masa dia kayanya gimana gitu sama kita, ga kaya yang lainnya. Aneh banget”
Sivia tertawa, “mmm, loe mau taruhan sama gue ga?”
“taruhan apa?”
“kalo loe bisa dapetin Rio, loe ambil deh Porsche gue, gimana?”
Ify menggeleng, “ga ada hadiah yg lebih ‘waw’ gitu? Masa Cuma Porsche. Kalo Porsche gue bisa minta mama.”
“yah, terus apaan?!”
Ify berfikir, lalu tak berapa lama dia tersenyum penuh arti. “loe harus ke sekolah pake kacamata tebel, rambut kucir kuda, rok nya ke atas banget, terus… mmmhh.. selama seminggu! Berani loe?”
“Hah?! Gila aja loe! Dih, males ya, masa SIVIA AZIZAH pake begituan ke sekolah. duhhh, turun dong harga diri gue”
“yaudah sih kalo ga mau. Terserah loe. Berarti loe pengecuttt”
“gue bukan pengecut! Oke, fine. Gue turutin apa mau loe. DEAL ya?!”
Ify tersenyum senang, “Oke deal!”
“vi, gue mau ngomong sama loe” ujar Gabriel yg tiba-tiba datang ke bangku sivia dan ify.
“mau ngomong apaan lagi sih yel? Ga bosen liat gue? Gue aja bosen liat loe”
Gabriel mencengkeram tangan sivia, “udah ga usah banyak omong, ikut gue.. kita bicara, 5 menit aja”
Sivia memberi kode kea rah ify, ify hanya mengangkat bahunya.
“yaudah, ga lebih dari 5 menit..”
Gabriel pun membawa sivia ke koridor yg sepi. “vi, gue masih cinta sama loe, maafin gue vi. Gue..gue beneran janji, ga bakal ulangin itu lagi. Plis, balik sama gue” pintanya meemelas.
‘duh ni cowok! Ga bosen apa ngomong kaya gini? Ga ada cara lain nih’ batin sivia. “gue udah punya cowok” tegas sivia.
Iel melotot, “siapa vi? Apa kelebihannya dia dari gue? Apa dia lebih cakep? Lebih kaya? “
“dia lebih baik dari loe” sengit sivia.
“SIAPA VI? SIAPAA??!!” bentak Gabriel sambil mengguncang-guncang tubuh sivia.
Tiba-tiba, Alvin berjalan melewati Gabriel dan sivia. Reflex, tangan sivia menarik tangan Alvin. “Dia! Dia cowo baru gue! Alvin..”
Gabriel tersenyum meremehkan, “dia?” sambil menunjuk Alvin. “hahahaha… loe canda vi”
“ga kok, gue ga canda.. loe cowok gue kan vin?” tanya sivia dengan muka manis.
Alvin hanya melongo. Karena yg di tanyai tidak menjawab, sivia pun mencubit pinggang Alvin. “awww..” rintih Alvin, lalu sivia memelototinya. “eeeeh. Iya iya gue cowoknya sivia. Mau apa loe?”
“gue ga percaya” sinis Gabriel pada Alvin, lalu menatap sivia. “loe ga bakat boong, vi. Gue tau kok, sebenernya loe belum punya cowok”
“gue udah punya alvin! Mendingan loe ga usah gangguin hidup gue lagi. Udah ga ada harapan buat kita balik lagi kaya dulu. Yuk vin, kita balik” sivia menggamit lengan Alvin.
“tunggu!” Gabriel mncekal tangan sivia. “gue ga akan nyerah buat ngedapetin loe lagi, vi. Dan lo, vin. Jangan harap loe bisa bersaing sama gue. Loe itu ga selevel sama gue”
“cih, sok banget” cibir Alvin pelan.
Gabriel pun meninggalkan sivia dan Alvin di koridor itu.
Sivia memperhatikan Alvin dari atas sampai bawah berulang-ulang. “loe aslinya cakep, kok. Cuma….” Sivia mengacak-acak rambut Alvin, lalu melepas kacamata Alvin, mengeluarkan kemeja Alvin dan melonggarkan dasinya.
“loe Cuma perlu di make over aja. Mmm, ntar pulang sekolah gue tunggu di parkiran. Loe tau kan mobil gue yang mana?” lanjutnya
Alvin mengangguk-angguk patuh.
“oke, see you Alvin” sivia pun beranjak dari sana.
Alvin masih membeku di tempatnya. ‘ngedate sama sivia?! HUAAAAAAAA’ jeritnya dalam hati sambil loncat-loncat sendiri.
“loe kenapa vin?” tanya Rio yg melewati koridor itu.
“eh? Ntar pulang sekolah sivia ngajak gue ngedate yo! Haaaaaah.. seneng banget gue yo, mimpi gue jadi kenyataan!!”
Rio mendelik, lalu memegang kening Alvin “loe masih waras kan vin?”
Alvin mengangkat bahu sambil terus tersenyum “gue gatau, kayanya gue udah ga waras deh” Alvin menatap Rio, “yo, ini mimpi ga? Coba lo tampar gue”
PLAK
“awww sakit somplakk!!”
“loe sendiri yang minta di gampar”
“tapi kan ga keras-keras kaya tadi rioo!!”
“au ah, bisa ikutan gila gue kalo brgaul sama loe”
Rio meninggalkan Alvin. “eh eh yoo tungguin guee..!!”
**##**##**##
Bel pulang berbunyi, Alvin rio sivia dan ify masih di kelas sampai semuanya keluar.
“jadi kerja kelompoknya di undur?” tanya rio pada sivia.
Sivia mengangguk, “iya! Gue ada perlu sama temen loe yang unyu ini..” sivia menarik tangan Alvin. “oh ya fy, loe pulang sama rio aja. Kata Alvin, loe kan bawa motor yo. Iya kan?”
Rio mendelik, “hah?! Sory, motor gue ga cocok buat di naiki cewek. Dan ga ada yang boleh naik motor itu selain Alvin. Gue juga alergi sama cewek.”
Ify cemberut, “dih, alasan. palingan motor otok-otok.. yg udah renyot, teyeng itu. Duh duh” cibirnya.
“ga usah sok tau. Yaudah deh kalo gitu gue balik duluan, ati ati ya sob” rio menepuk bahu Alvin.
Alvin tersadar dari lamunannnya . “eh, iya yo. Loe juga ati-ati ya”
Rio meningggalkan kelas. Ify pun menyusul Rio tak lama kemudian.
“via, kita mau ngedate dimana emangnya?!”
Sivia menjitak kepala Alvin “ngedate mata loe belo! Udah deh loe mendingan ikut gue sekarang.” Sivia menarik Alvin. Alvin hanya senyum senyum sambil terus memandangi sivia dari dekat.
Diparkiran….
“yo gue bareng loe deh ya ya ya” melas ify.
Sudah 10 menit ify memohon pada Rio, tapi cowok yg 1 ini malah diam saja dan tidak merespon.
“loe tega ya yo biarin cewek kaya gue pulang sendirian?” ify terus mencoba merajuk pada Rio.
Rio berdecak, “duh, gue kan udah bilang gue alergi sama cewek. Hiiih..”
Rio naik ke atas motor ninja warna hitamnya. Ify langsung melongo, “loh, yo,. Ini motor loe?”
“kalo iya kenapa”
“gue kirain yang ini” tunjuk ify pada motor bebek di sebelahnya.
“sukanya kok ngehina” cibir rio
“eeh bukan maksud buat ngehina, tapi kan gue bener bener gatau. Muka loe tuh.. bukan tampang tampang yg biasanya pake ninja,” ujar ify polos.
“au ah,gue balik. Mending loe naik taksi deh.”
Ify dngan ceepat langsung menaiki motor Rio. “gamau, gue bareng loe aja”
“turun!! Turun ga loe?!” bentak Rio.
“gak!”
“TURUN!!”
“ENGGAK!!”
“Gue bilang turun ya turun!” rio pun turun dari motornya dan memaksa ify turun.
“gue ga mauuuuu” teriak ify sambil berpegang pada jok, tapi akhir nya berhasil di tarik Rio untuk turun dari motor.
Jantung rio rasanya sudah ingin melompat keluar. Tapi ia menahannya. “jangan sekali kali loe deketin gue lagi” ujar Rio sinis, lalu menaiki motornya dan meninggalkan ify sendirian di tempat parkir.
“eh dia kenapa sih? Kok gitu amat. Harusnya dia seneng kalo cewe kece kaya gue minta tebeng sama dia yg cupu abis itu! Ihhh, dasar cowok aneh! Jangan jangan dia ga suka sama cewek lagi?” ify menutup mulutnya.
**##**##**##
“ngapain ke salon??” tanya Alvin polos saat berdiri di depan salon.
Sivia berdecak, “udah deh loe ga usah banyak tanya. Yang penting loe turutin aja apa yg gue pengen. Ayo masuk”
“gamau. Ntar gue di bilang banci” tolak Alvin.
Sivia melotot kea rah Alvin. “loe harus mau!”
“GUE GAMAUUUU”
“Udah deh, mau aja ya?” bujuk sivia.
“enggak..”
“ughhh ni anak ya ga bisa di lembutin. Ayo masuk!” sivia menarik kasar tangan Alvin.
“huaa rioo tolongin guee” rengeknya.
“mbak, saya pengen mbak dandanin dia sampe cakep ya”
“baik mbak”
“eh eh gue mau di apain nih”
“udah, loe nurut aja deh. ga gue anter pulang sukur loe”
Alvin pun pasrah saja di apa-apakan oleh mbak-mbak salon itu dan sivia.
**##**##**##
Ify mondar mandir di kamarnya sambil menggerutu. “sivia mana sih? Masa sampe sekarng belom pulang juga?”
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan sivia belum kembali. Ify jadi makin kesal saat mengingat Rio. “ughh, tuh anak.. beneran deh, pengen gue makan aja!” kesalnya. Tapi diam diam, ify sendiri penasaran dengan Rio. Ify pun menelfon pihak administrasi sekolah dan meminta dokumen Rio.
Tak lama kemudian, dokumen ttg Rio masuk dalam e-mail ify. Ify membaca satu persatu.
Rio adalah anak koki terkenal, Zeth Haling.
Alamatnya di Frumoz Residence
Ify manggut-manggut. ‘pantesan barang-barang nya berkelas gitu. Tapi kok cupu ya?’ ify mengangkat bahunya.
Lahir di Australia, 24 Oktober 1994
Ify melongo. Australia? Ga salah?!
Rio unggul dalam mapel bahasa inggris, matematika, sains, ips dan musik.
Hobinya menyanyi
Cita-citanya seorang penyanyi dan dokter
Waktu SD memenangkan 6 perlombaan olimpiade sains dan matematika
Waktu SMP memenangkan 5 perlombaan olimpiade bahasa inggris dan sains
Waktu SMA memenangkan 8 perlombaan olimpiade matematika, sains dan bahasa inggris
Ify di buat kaget lagi. ‘Rio ini, bener bener….sesuatu yah..” #plak
Selalu mendapat rangking 1 dari SD
Nilai terendah 85 (B+)
Menguasai 5 bahasa. Indonesia, inggris, jepang, mandarin dan jerman.
“Nih anak ajaib! Pinternya naudzubillahhhh…” ujar ify terkagum kagum. “ga nyangka banget deh..”
“hayooooo, ga nyangka apaan?!” seru sivia tiba-tiba
“aduh viaaa..!! bisa ga sih loe ketok pintu dulu sebelum masuk?”
Sivia meringis, “peace ya fy. Loe ngapain?” sivia melongok ke layar laptop. “hah?! Mario stevano? Ngapain loe baca dokumen dia? Ini punya sekolah kan?”
‘mampus gue’batin ify. “ee… itu .. mm..”
Sivia tertawa, “loe suka yah sama dia? Beneran fy? Aduuuh gue ga nyangka..”
“loe kalo ngomong jangan asal jeplak yaaa.. gue ga suka sama dia. Aduh jangan bikin gossip yg engga engga deh. gue penasaran sama dia aja, jadi gue liat-liat..”
“alah ngeles,”
“gue ga ngeles via! Eh loe darimana aja?”
Sivia membanting(?) tubuhnya ke kasur ify “abis make over Alvin, belanja, makan, sama nganterin Alvin pulang. Capeeeeeekkk!!”
“ecieeee kayanya ada yang jatuh cinta nih”
“idung loe karatan! Siapa yg jatuh cinta?”
“ya elo lah vi! Siapa lagi? Kalo Alvin mah dari kelas X udah jatuh cinta sama loe. Ga perlu di tanya.”
“ini Cuma buat buktiin aja ke iyel, kalo gue bisa cari cowok yg lebih baik dari dia. Cuma 2 minggu doang kok gue sama Alvin.”
“ohh gitu yah,” ify manggut mangggut.
“gue mandi dulu ya, abis ini kita ajak iqbal sama papa cari makan di luar”
Ify mengangguk. “ide bagus, yaudah loe mandi dulu sana, bau matahari tuh”
“sialan loe!” siviapun beranjak dari kamar ify
Diam diam ify menghembuskan nafas lega tidak di tanyai oleh sivia yg aneh-aneh
**##**##**##
“eh ada anak baru!!” teriak Dea si tukang gossip
“apaa?!”
“ada anak baru!!”
Semua anak pun langsung berkumpul di koridor kelas bahasa itu.
“siapa?” tanya lintar
“cewek ato cowok?!” sambar deva
“COWOK!! SUMPAH CAKEP BANGET!” histeris dea.
“yaahhh” koor kubu cowok.
“siapa namanya?” tanya cewek-cewek
“gue juga ga tau. Dia anak XI-A !! keren ga tuh, anak baru langsung masuk sana”
“berduit kali,”
“iya mungkin..”
“duh ga sabar, dia dimana sih??”
“masih di parkiran!!”
“kesana yuk..”
“ayuuuuukkk…”
Semua kubu cewek pun berebutan ingin melihat cowok baru tersebut. Sedangkan kubu cowok langsung kembali ke habitatnya masing masing karena kecewa dengan murid baru itu yg ternyata bukanlah seorang cewek(?)
Semuanya menjadi slowmotion..
Angin bergerak pelan, menyapu wajah putih ‘cowok baru’ itu…
Semuanya sentak berseru,”Woww,,,”
“dilihat sepintas mukanya kaya lee min ho ya” seru seorang cewek.
“iya, putih.. cakep.. tinggi.. keren lagi”
“gue mau kenalaaann!!” pekik dea
“eittsss, ga ada yang boleh kenalan sama dia kecuali kita.” Ujar Angel, salah satu anggota geng ‘triur allain’
“wooo trio alay dteeengg” serempak semuanya.
Mereka brtiga, angel, oik dan agni melengos. Lalu ketika si cowok baru itu datang, mereka bertiga langsung mendekatinya.
“hei, anak baru ya?” sapa angel
“eemm…”
“pindahan dari mana??” tanya agni
“mmm…”
“pasti dari korea,, iya kan?” lanjut oik
“uumhh…”
“nama kamu siapa?” tanya mereka bertiga kompak.
“nama gue….”
###########
cabb ::
cerbung,
Idola Cilik,
Ify,
Rio
Kiss Me Again (Part 2)
Pak Nano yg awalnya ada tamu pun tak sengaja melewati gudang sekolah. indra pendengarannya menangkap suara yg tak begitu jelas.
“hallo? Apa ada orang di dalam?” tanyanya bingung. Tak ada yg menjawab. “mungkin Cuma halusinasi saya saja” ujarnya.
Tapi saat ia hendak beranjak, suara itu terdengar lagi. Ia pun membuka pintu gudang pelan-pelan, dan ketika melihat seseorang di ikat tangan dan kakinya, juga di tutup mata dan mulutnya, dia terpekik kecil.
“bu.. winda?? Kenapa bisa disini?” tanya pak nano sambil melepaskan ikatan bu winda.
“rggghhsss… ini gara-gara murid-murid sok itu!” bu winda mencoba berdiri, di bantu pak nano. “saya akan mengundurkan diri dari sekolah ini kalau mereka memang tidak menginginkan saya” ujarnya
“loh kenapa, bu? Memangnya siapa?”
“siapa lagi kalau bukan anak pemilik yayasan Sayga ini? Alyssa dan Sivia, cih..” rutuk bu Winda. Pak nano sudah bisa menebak siapa yg di sebutkan bu winda pun hanya mengangguk-angguk.
**##**##**##
“Gila, gimana nasib tuh guru ya?” tanya Ify pada sivia.
“mana gue tau! Haha di gigit tikus kali wkwk”
“duh, kasian juga”
“apa fy? Kasian? Plis dehhh, ini juga ide loe kan? Udah deh, palingan kalo kenapa2 Cuma gara2 di gigit semut, nyamuk, tikus ato kecoa. Ga sampe mati”
Ify berdecak, “iya juga sih. Biarin lah, biar tau rasa tuh guru”
Sivia mengangguk.
“Mamaaaa.. sivia sama ify pulaaanggg..” teriak keduanya bersamaan setelah sampai di rumah.
“Ma..?” panggil ify.
Bi’ Tun menghampiri mereka berdua, “Ehm Non, nyonya ga ada dirumah. Nyonya tadi pagi tiba-tiba langsung pergi lagi ke paris, ada urusan disana.”
Ify dan Sivia terdiam di tempatnya. “padahal kan, mama udah janji, mau dateng ke acara ulangtahunnya Iqbal,” lirih ify.
“seenggaknya, walaupun ga mau ketemu papa, ketemu Iqbal kek. Kenapa malah ngehindar gini? Mama ga sayang sama iqbal ya fy?” tanya sivia sedih.
Ify memeluk sivia, “kalaupun mama ga sayang sama iqbal, kan masih ada kita berdua, kakak-kakak iqbal yang selalu sayang sama iqbal. Yaaudah yuk, beres-beres, terus langsung cabut ke rumah papa,”
Sivia mengangguk. Mereka pun menaiki tangga dan menuju kamar mereka.
**##**##**##**##
“Yo, tungguin gue dong” pinta Alvin lemas.
Rio terus berjalan, “Dih, salah sendiri minta di lewatin rumahnya princess loe itu. Gue sih ikut loe aja, gue kan sahabat yg baik,” cibir Rio.
Alvin berdecak, “Yah, maaf deh Yo. Tadi pengen banget ee ternyata rumahnya jauh banget kaya gini, ya mana gue tau”
“cih, ya urusan loe sih. Salah siapa nyari rumah doi tanpa tau jalannya lebih dulu,”
“iye iye salah gue, puas loe? Udah ah, itu tuh rumahnya!” tunjuk Alvin pada rumah bergaya italia di ujung jalan.
Rio menggeleng-geleng “ga kaget sih, kaya banget. Pantes aja manja setengah mati,” cibirnya.
“ayo yo! Selangkah lagi! Cihuyy!!’ semangat Alvin yang semula hilang ppun kembali menyala. Ia langsung berlari ke depan rumah keluarga Sayga itu. “Busett, ini gerbang aja tingginya kaya pager yg ada di KBS ya” ujar Alvin.
“ga usah sok ndeso, udah tau rumahnya kan? Pulang yuk, loe udah janji nraktir gue jus jambu nya Tante kan? Jangan pura-pura lupa kaya dulu lagi ya”
“ahh Rio tau aja kalo gue ngelupa ehe ehe ehe” Alvin meringis
“gausah gitu deh, mata loe makin ilang” sinis Rio
“ah idung loe juga makin ilang tuh Yo..”
“eh apaan sih bahas idung gue? Udah udah ayo pulang” Rio menyeret tangan Alvin.
“aaa siviaaaa my princesss… tolongin a’a mu iniiii” teriaknya.
Jgrekk grhekkk.. #anggep aja suara pintu gerbang di buka#
Rio dan Alvin berhenti tepat di samping pintu gerbang. Mobil Porsche metallic milik kediaman Sayga menyembul di gerbang. Ify yang melihat Alvin dan Rio pun menyuruh sivia menghentikan mobil.
“heh, ngapain loe berdua disini?”
Alvin langsung maju kdpan. “mm mau,,,mau… kete…”
Rio membekap mulut Alvin, “cu…Cuma lewat doang kok. Ya..yaudah yuk vin.” Rio menjadi salting sendiri entah kenapa.
“cih, dasar aneh” cibir ify melihat kepergian kedua orang itu. “yuk siv jalan lagi”
“yo? Anti cewek loe kumad lagi ya? Kok bisa gemeteran plus gugup gitu?”
Rio menggeleng, tatapan matanya menerawang “gue juga gatau, kenapa gue kaya gini. Mungkin aja penyakit gue kambuh lagi. Ayo kita langsng pulang aja” Rio mempercepat langkahnya. Alvin yg heran pun menuruti Rio saja,
**##**##**##
“happy birthday iqbal. Happy birthday iqbal. Happy birthday happy birthday… happy birthday iqbal..” nyanyi sivia dan ify.
“kak ify? Kak sivia??” panggil iqbal tak percaya.
“selamat ulangtahun adekku sayaang, maaf ya kaka telat” ujar sivia.
Iqbal mengangguk, “iya kak, gapapa kok. Iqbal seneng banget, kakak semuanya bisa ikut ngerayain ulangtahunnya iqbal ke 13 ini. oia kak, mama ga ikut ya?”
Ketika kata mama disebut, mimikk wajah sivia dan ify berubah. Ada rasa kesal dan marah untuk mamanya tersebut.
“mama sibuk, bal.. maaf ya”
“iqbal tau kok, mama kan udah ga sayang lagi sama iqbal”
“iqbal ga boleh ngomong gitu! Mama sayang kok sama iqbal,” hibur ify.
“iya, mama sayang banget. Nih, buktinya mama nitip hadiah buat kamu” sivia memberikan sebungkus kado besar.
“wah, ini beneran dari mama kak?”
Sivia dan ify mengangguk,
“sampaiin terimakasih iqbal buat mama ya kak,”
“iya bal, yuk kita mulai party nya!!” usul ify di angguki iqbal dan sivia.
“bentar ya kak, iqbal panggil temen-temen iqbal biar mereka kesini” iqbal pun langsung lari keluar rumah.
“iqbal, maafin kakak ya” lirih sivia.
“udah lah siv, ga usah sedih gitu. Yang penting kan iqbal udah seneng. Dan hari ini hari ulangtahun iqbal, jangan sampe dia sedih”
Sivia mengangguk “loe bener fy, gue harus bikin iqbal seneng hari ini. ayo, abis ini kita keliling Surabaya!!”
Ify terkekeh kecil melihat antusiasme saudara kembarnya itu,
**##**##**##
“hari ini pelajaran bahasa korea ya? Aaaagh, males” sungut Alvin.
“gausah sok-sok males gitu kalo udah jago bahasa korea” cibir rio
“gue ga jago rio, gue itu males! Bahasa korea ngebosenin, uuuhhh tau deh apalagi nulis hang-ul. Mending nulis hanacaraka deh”
“HAHA” tawa rio tak berselera.
“loe kenapa sih yo? Gue liat, loe kok agak aneh setelah dari rumahnya myprincess kemaren? Penyakit loe kumad lagi ya? Kalo iya bilang dong, gue kan khawatir”
“penting ya?” tanya Rio sinis.
“alah Yo, ga usah gitu deh. sama sahabat sendiri juga. Mulai jaim loe?”
“iye iye ah bacot aamat. Gue juga ga tau gue kenapa, mungkin penyakit alergi cewek gue kambuh lagi gara-gara ngeliat dia dari dikit. Loe kan tau sendiri, dalam jarak 2 meter gue deket sama cewek, badan gue gemeteran, gue jadi gagap..”
“iya, gue udah tau! Tau bangettt malah” tegas Alvin. “tapi, bukannya tuh penyakit udah ilang pas loe kelas 1 SMA? Kok sekarnag kumat lagi?”
“ya mana gue tau! Tanya aja sama tuhan,,kenapa dia nyiptain gue dengan kekurangan yg aneh ini, ckck”
“eh betewe penyakit loe ini aneh banget yo sumpah! Loe ga coba periksa ke dokter?”
Rio menggeleng “ga ah, gue malu. Mana penyakitnya kaya begini lagi! Cih,,”
“kalo loe ga nyoba nyari tau mana ketemu ini penyakit apaan. Kita ke dokter boyke yok?”
PLAKKK…
“aww sakit” rengek Alvin.
“somplak loe.. au ah, ngomong sama loe ngelantur mulu. Loe diem deh, abis ini princess loe kan dateng. Loe mendingan ambil itu bunga mawarnya cak tarjo, kasihin ke doi haha”
“ga usah ngehina yo, gue kan kemaren ga ada duit. Mana bisa gue beli bunga mawar? Ya terpaksa nyuri dari cak tarjo. Loe sih ga mau pinjemin gue duit”
“males banget pinjemin loe buat hal yg ga guna begitu. Mending tuh duit buat benerin laptop gue yg lagi di install ulang”
“iyedeh iye yang punya laptop yaudah deh gue mau ke depan dulu ya nyambut princess gue dulu daahh”
Rio melengos, lalu mengambil buku tulisnya untuk menyalin huruf-huruf Hang-ul yg lumayan membuat mata berkunang-kunang jika seluruh buku bertuliskan huruf itu.
Dari jauh, ify yg sudah datang diam-diam memperhatikannya. “tuh cowok siapa sih? Kok kayanya ga pernah liat ya” gumam ify.
“itu? Dia Mario, anak paling pinter di Sayga. Masa loe ga tau, fy?” ujar deva yg ta snegaja mendengar gumaman ify.
“eh..” ify tergagap. “anak paling pinter? Masa? Gue kok ga pernah liat dia?”
“loe sih gaulnya sama anak-anak berduit doang” cibir ray.
Ify mendelik, “maksud loe?!!”
“oh ga kok, ga ada maksud. Dev, gue ke perpus dulu ya pinjem kamus!”
Deva mengangguk, “Sip!”
Ify kembali memperhatikan cowok itu, “ya iyalah, gue ga bergaul sama dia. Coba aja liat, bajunya ga di keluarin, rambutnya klimis, pake kacamata jadul, mana pernah gue liat cowok macem dia.”
“hush, jatuh cinta sama dia mampus loe” kata deva sambil terkekeh.
“aapaan sih loe? Udah sana minggir! Gangguin orang aja”
“enak aja, gue belom bikin tugas sejarah hari ini, masa iya mau minggir. Kenapa ga loe aja yang pergi?”
“uggh tau ah sebel gue sama loe” ify pun meninggalkan kelas.
**##**##**##
“siviaaaa,” sapa Alvin tepat di depannya.
Sivia yg moodnya tidak baik pun langsung melengos, tak mengacuhkan Alvin.
“via,, loe kenapa? Gue ada salah ya sama loe? Kok muka loe di tekuk gitu?! Apa loe ga mau nerima gue jadi cowok loe?”
Sivia yang kesal dengan dumelan Alvin langsung mendelik kea rah Alvin dan memasang tampang sejutek juteknya. “IYA! LOE SALAH! SALAAAAH BANGET! KENAPA LOE MUNCUL DI DUNIA INI? KENAPA LOE SELALU ADA DI DEKET GUE DAN GANGGUIN GUE?!”
“gue di takdirin hidup sama loe, dan gue emang di takdirin selalu ada di deket loe” jawab Alvin tanpa dosa.
“aaaarrggghhhhsss, up to you! Gue ga peduli sama loe. Daripada gue ngegampar loe sekarang, mendingan loe minggir deh sana!”
“hufft, kenapa gue sih yang harus ngalah? Tapi gapapa lah, demi my princess apasih yang ga. Yaudah, silahkan lewat my princess” Alvin meringis.
Sivia bergidik ngeri, ‘dih, ga keliatan matanya’ batinnya sinis.
**##**##**##
“anak-anak, hari ini tugas kalian benar-benar memuaskan. Saya bangga bisa di beri kesempatan mengajar di kelas XI-A ini. saya harap, nilai kalian akan terus tinggi seperti ini. oke baiklah, saya selesai mengajar. olyu dan-eo gaissda myeon mian,”
“ne, gyesa,”
“gamsahamnida”
#eh itu kalo bahasa koreanya salah, maapin ya soalnya pake google translate wakwkakwka-_-v#
Setelah guru mapel bahasa korea keluar, langsung masuk lagi guru bahasa inggris.
“good morning student. My name is Andrew, you can call me mr.andrew. oke, please form a group, because there will be the task of making paper”
“mr, what if the group you just choose? to be fair” usul deva
Mr. Andrew mengangguk. “OKAY. That’s a great idea. let me see the absences. Mmm, Zahra with Raissa, angel, ahmad fauzy and patton. Oik with cakka, raynald and deva. Keke, zevana, halilintar, rahmi and kiki. And last, Mario, Alvin, sivia and Alyssa. okay please negotiate between your groups, What topics will you discuss in this paper assignment?”
“what??? Gue sama Alvin, Rio?!” pekik sivia dan ify bareng.
“huaaa sama my princess asiiiikk lah hihihih” Alvin melonjak-lonjak girang.
Sedangkan Rio melengos, “bakalan susah nih sekelompok sama cewek kaya gitu. Palingan kita yg ngerjain.”
“udah lah jangan suudzon yukk kita nyamperin mereka..”
#####
cabb ::
cerbung,
Idola Cilik,
Ify,
Rio
Langganan:
Postingan (Atom)