Selasa, 28 Juni 2011

VS jadi CS part 1

ini cuma hayalan saya saja dan temen22 yaa ;)

cuma ada 3 part, soalnya kalo di muat 1 part kepanjangan, maybe... wkwkwk

enjoy it guys !! :D selamat membaca ;)

cast :

siwon mahardika : siwon suju

dicky mahardika : dicky sm*sh

rifky gutomo : rifky ballwell

vidi gutomo : vidi aldiano

tasya praditya : saya :D

ivone praditya : kak ponz

baiq praditya : kak baiq

ditha praditya : dithoooong

*****

“Dickyyyy!!!” teriak Siwon Mahardika, cowok berwajah oriental si luar kamar mandi.

“Senyumanku tak akan pernah luntur lagi singing all day long.. Semangatku tak akan pernah patah lagi dancing all nite long” Dicky Mahardika, masih sibuk bernyanyi di dalam kamar mandi dan tak menghiraukan teriakan Siwon di luar kamar mandi.

Siwon menggedor-gedor kamar mandi “Woy! Cepetan kalo mandi! Gue telat bego!!!” makinya.

Tak berapa lama Dicky keluar dengan santainya, melewati Siwon yang sedang memandangnya dengan tatapan membunuh.

“Tak peduli ku di bully omongan lo gw beli..

Cacian lo gw cuci dengan senyuman prestasi..

Tak pernah ku malu karna cibiranmu.. Ku jadikan motivasi untuk maju”

Dicky masih bernyanyi tanpa sadar bahwa Siwon ada di belakangnya.

“Woy, Dick..” panggil Siwon dingin.

“uhm?” Dicky berganti baju, dengan seragam kebanggaan sekolah mereka, San Cassovha School, sekolah bertaraf internasional yang ketua yayasannya adalah keluarga Mahardika, keluarga Dicky dan Siwon.

“argh! Tau deh..” Siwon mengacak-acak rambutnya, frustasi menghadapi saudaranya yang memang agak ‘lola’ dan watados banget.

*

“Lo udah siap Ky? Kalo udah, gue ambil mobil dulu,” Kata Vidi Gutomo.

Sambil membenahi sepatunya, Rifky Gutomo, dia menggeleng. “bentar bentar, gue belom nata buku. Lupa.” Celetuknya.

Vidi menggeleng, “ampun deh, penyakit pikun lo parah banget,” ujarnya.

Rifky kembali ke dalam kamarnya, mengambil beberapa buku di dalam dan kembali lagi keluar. Dengan tali sepatu yang belum diikat.

“Gue ke mobil, gue tunggu disana,” ucap Vidi cuek lalu pergi.

Rifky menepuk dahinya untuk yang kedua kalinya dalam pagi ini, “ya ampun, gue lupa, makalah gueee!!!” Dia lalu berlari ke kamarnya dan mencari makalahnya.

Vidi mengunggunya dengan tidak sabar. Sambil memandangi jam tangan buatan Itali yang telah bertengger di tangan kirinya setiap hati, dia menggerutu kesal.

“haduh, mana makalah gue? Manaaa…??” teriak Rifky kebingungan di kamar. Sedangkan Vidi menghamppirinya dengan wajah kesal.

“woyyy!!! Lama banget sih lo? Cari apaan??” tanyanya kesal.

Rifky melongok ke kolong tempat tidurnya. “Makalah penelitian biologi gue!! Bisa mampus gue kalo kagak ketemu!!” pekiknya setengah berteriak.

Vidi menepuk dahinya, “ampun deh Rifky!! Itu tugas dari kapan tau!!! Udah elo kumpulin kemaren lusa kali. Ahhh, dasar pikun!!”

Rifky langsung berdiri, “oh ya? Kok gue ga inget ya? Yah, yaudah deh. Yuk capcosssss.” Kata Rifky semangat.

“RIFKY!!!!!!” geram Vidi sambil mengekor di belakang Rifky.

Rifky dan Vidi Gutomo, dua kakak beradik yang bermuka serupa tapi tak sama(?). Rifky dengan sifat pelupanya, yang membuat Vidi pengen banget mukul Rifky pake helm(?). vidi, cowok metropolitan yang perfect, ‘serba bersih dan wangi’. Mereka adalah sahabat dekat Siwon dan Dicky. Mereka berempat di juluki prince of SCS, di sekolah mereka.

*

“njirr sial gue telat!!” pekik keempat cewek yg hampir bebarengan, sambil turun dari mobil mereka.

“pak!! Bukain dong, ini baru hari pertama kita masuk nih!!” ujar Ivone sambil memelas2 pada satpam.

“salah sendiri telat,” jawab satpam itu cuek

“yah, pak. Kan kita baru pertama kali. Ya ya ya? Bukain dong pak. Pleaseeee,” rengek Tasya.

Satpam itu menggeleng, “ini sekolah bertaraf internasional, bukan sekolah sembarangan. Kalau mbak2 ini sekolah disini, harus bisa menaati peraturan dong.”

“arrgggh, ayolah pak, please. Kami janji ngga akan ulangin lagi.” Baiq dan Ditha buka suara.

“ooo,, tidak bisa.. sudah sudah, kalian disini dulu, sampe bel pelajaran pertama selesai,” kata satpam itu lalu kembali ke post jaga.

“shit! Baru hari pertama sekolah, udah telat aja,” umpat Ditha yang di angguki oleh yang lain.

Tak lama kemudian, BMW sport warta silver melaju di sebelah mereka. Mobil itu berhenti tepat di sebelah mereka. Satpam pun langsung membuka pagar dengan tergopoh. Dari balik kaca, Tasya melihat jelas siapa yang duduk didalam sana.

“Mahardika,, Gutomo,,” gumam Tasya tanpa sadar.

“hah? Apaan sya?” Tanya Ivone bingung sambil memandang Tasya.

“itu, anak keluarga Mahardika sama Gutomo, u know??” ucap Tasya sok gahol :3

Ditha mengangguk. “gue tau lah, siapa gitu yang ngga tau mereka.”

“mereka sekolah disini??” kata Baiq antusias yang di angguki oleh Tasya.

“bentar bentar. Mereka dateng setelah kita, dan mereka murid disini… jadi….. WOY NGGA ADIL!! PAK BUKAINN!! MASA MEREKA AJA YANG BOLEH MASUK!! NGGA ADIL!!” teriak Ivone sambil menggoyang2kan gerbang dengan kencang.

“maaf, mbak ngga bisa, udah peraturan”

“kalo peraturan kenapa mereka boleh masuk?? Ngga adil dong pak!!” ivone semakin emosi.

“mereka anak pemilik yayasan mbak, saya nggak berani menghukum mereka,” kta satpam itu.

Ivone berdesis, “ohhh, karena bapak takut sama mereka?? Bapak takut dipecat?? Woy pak, pantes aja di Indonesia ini ngga maju2, orangnya dungu2, ternyata membela yang salah daripada yang benar, kami warga Indonesia menuntut keadilan bapak!!” ivone ngelantur kemana2, masih dengan emosi yang membara.

“bener pak, bener kata ivone, bapak ngga adil, Cuma karena takut dipecat?? Bayangin pak! Bayangin!! Gimana kalo anak bapak di perlakuin kaya kita?? HaA?? Apa bapak terima?? Ngga kan!!” Ucap Ditha dramatis.

“eee… iya deh mbak, tapi sekali ini aja ya,” satpam itu langsung membuka gerbang dan keempat cewek tersebut masuk ke dalam mobil dan memarkirkan mobil mereka tepat di sebelah mobil BMW sport tadi.

“huh, sumpah ya, kalo gue jadi pemilik yayasan. Gue bakalan nyuruh satpam buat bertindak adil!! Masa, Cuma gara2 anak pemilik yayasan aja di biarin masuk? Enak aja… kagak adil namanya!!” kata ivone berapi2 sepanjang koridor.

“udah vone, udah. Udah lewat juga, ga usah difikirin” Baiq menengahi, “betewe, mereka cakep2 ya?? Gue baca sih ya, mereka THE MOST HANDSOME BOY 2011 IN ASIA versi NGARANG MAGAZINE, keren kagak??”

Ditha mengangguk “keren, benerrr deh. Mereka juga aktif di acara social gitu, gue jadi salut sama mereka. Mereka ramah, dan ngga pilih2 temen kata media”

“ah, belum tentu. Cuma yang bagus2 doang yang di beritain, yang jelek2 pasti engga” tuduh Ivone.

Baiq mengangkat bahunya. Baiq menatap Tasya yang dari tadi tak berkata apa2. “sya, kok diem aja??”

Tasya tergagap dan menoleh kea rah Baiq, “kalian sadar ngga sih, kalo daritadi mereka ada di belakang kita??” ujar Tasya nyaris berbisik,

Sejurus kemudian, Baiq, Ivone dan Ditha membalikkan badan mereka. Tak jauh dari mereka, F’Guy, a.k.a Four Guy menatap mereka dengan tatapan sinis. Serempak mereka berempat menelan ludah.

Siwon, yang disebut2 leader disini, melangkah ke depan. “lo semua siapa?? Beraninya lo ngomongin kita!?” tanyanya, retoris

Ivone—entah berani atau oot—malah melangkah maju, dan berhenti tepat 2 meter dari Siwon. “ngga kenal kita??” balasnya sambil menyerngit. “kasian banget”

“eh, elo tuh ya!!” Vidi mulai nyolot di belakang Siwon.

“apaa??? Jangan mentang2 ya, kalian anak pemilik yayas—.”

Tasya, Ditha dan Baiq membekap mulut Ivone lalu menariknya menjauh. Sambil mencari celah untuk bicara, Ivone berkata, “AWAS LO SEMUA, URUSAN KITA BELUM SELESAI!!”

Siwon tersenyum remeh, “oke, gue tunggu ‘urusan’ kita yang selanjutnya” kata Siwon sambil mengutip kalimat urusan.

“maapin temen kita ya.. maap…maap…” ujar Tasya lalu mereka berempat menghilang di balik tembok.

“siapa sih mereka? Sok banget!!” kata Rifky jengkel.

Dicky mengangkat bahu, “manaketehe, kalo gue tau mah, udah gue kasih tau ke kalian kali,” ucapnya watados.

“gue perlu kasih pelajaran sama tuh cewek..” gumam Siwon. “guys, mari kita kemon,,” ujar Siwon.

“ngelawak, lo?” kata Vidi sambil terkekeh.

Siwon memutar bola matanya “terserahlah, gue badmood”

Mereka lalu berjalan menuju ruang kelas mereka dengan gaya coolnya.

“Anak2, kenalkan, mereka murid pindahan dari Inggris, silahkan perkenalkan diri kalian.” Kata bu Windi.

“kenalin, nama gue Ivone Praditya. Panggil aja ivone.”

“nama gue Tasya Praditya, call me Tasya,”

“gue Baiq Praditya, bisa di panggil Baiq.”

“gue Ditha Praditya, just Ditha.”

“SALAM KENAL” ujar mereka berempat bersamaan.

“baiklah, kalian boleh duduk dsana, dan jangan duduk bergerombol, disini system duduk cewek cowok. okey” kata bu windi sambil menunjuk bangku yang masih kosong. “anak2, kita buka halaman 107 tentang gerak pada tumbuhan,”

Mereka berempat duduk di tempat yang berbeda2. ivone di depan, Tasya di belakang Ivone, Ditha di bangku sebelah kanan Tasya, dan Baiq di pojok belakang sendiri.

“baiklah, gerak Nasti adalah—.”

“Maaf bu, kita telat” sahut seorang cowok berkacamata yang berada paling depan.

“oh, iya, silahkan duduk” kata bu windi lalu melanjutkan pelajarannya.

Ivone membelalak. Tasya melotot. Baiq melongo dan Ditha menelan ludah.. “WHAT?” pekik mereka pelan.

Dicky—cowok berkacamata tadi—menyerngit, “loh, ngapain disini?” tanyanya polos pada Tasya. “inikan bangku gue,”

“pertama. Gue duduk lah disini! Kedua, yeee mana gue tau!!” jawab Tasya.

“ooh,” Dicky duduk disebelah Tasya dengan cuek, seperti melupakan maslah yang baru saja 5 menit dia alami bersama teman2nya di koridor bawah

“LAH?? NGAPAIN DISINI??” pekik Siwon melihat Ivone. Bu windi sampai menghentikan proses belajar mengajar

“ada apa Siwon? Apa ada masalah?”

“ADA BU!!” jawab ivone dan siwon serempak

“ada apa?”

“kenapa saya harus duduk sama dia sih bu?? Kenapa ngga sama yang lain ajaa??” Tanya ivone sambil menunjuk siwon.

“heh! Yang harusnya Tanya gitu gue! Ini tuh bangku gue oon!”

“sudah sudah. karena system disini duduknya cewek cowok terima saja. Toh Cuma setahun. Kita lanjutkan lagi pelajaran kita, gerak hidronasti—.”

“ya ampun, mimpi apa gue sebangku sama siwon!!” jerit ivone dalam hati.

‘huh, terpaksa’ batin siwon

Vidi duduk di sebelah Ditha yang sedang melongo. “hei, lo ngga papa?” kata Vidi melambai2kan tngannya di depan ditha

Ditha terkesiap “eee, engg,, ngga kok. Ngga papa” jawabnya salting

Vidi duduk lalu meletakkan tasnya di bawah. “gue vidi, lo?” sambil mengulurkan tangannya.

Ditha menjabat tangan Vidi, “gue ditha.” Lalu melepaskan tangannya. “ternyata elo ngga se-sangar siwon, ya? Hehe” ditha terkekeh,

“yaa…. Gitu deh.. hehe”

Semntara di meja Baiq…

“eh? Ini meja gue bukan ya…” gumam Rifky sambil mondar mandir.

Baiq bertopang dagu, “lo,,,,ngga duduk??” tanyanya.

Rifky menoleh kea rah Baiq, “bentar, masalahnya gue bingung nih, perasaan, seinget gue, gue duduk disini, kok ada elo?? Gue kan duduk sendirian” katanya

“lah? Emang. Kan sekarang lo duduknya sama gue kali, oya kenalin gue Baiq”

Rifky menyerngit, “gue Rifky. Kenapa bisa sama elo?? Kok gue baru liat elo ya??” tanyanya lalu duduk

“gue kan anak baru,”

“oh pindahan dari mana?”

“inggris”

Rifky hanya membulatkan mulutnya lalu mengambil buku dan mencatat tugas yang diberi bu windi di papan tulis.

Pelajaran biologi di gantikan pelajaran bahasa Perancis. Pelajaran yang menurut F’Guy sangat membosankan. Monoton. Dan….sulit?

Ivone yang berada disebelah Siwon sangat bersemangat dengan pelajaran bahasa Perancis ini, sedangkan Siwon memperhatikannya dengan tatapan dingin.

“Bonjour à tous, comment allez-vous?” (hallo anak2, apa kabar?)

“bonne mère”

“travaille déjà sur une tâche que la mère a demandé la semaine dernière? ” (sudah mengerjakan tugas yang ibu minta minggu kemarin?)

“pas la mère” (belum bu)

“ah, Eh bien, maman a décidé de remplacer ses fonctions, avec la tâche de faire l'histoire dans les groupes. un groupe composé de deux personnes, et elle devrait plutôt la peine de déterminer le groupe, vous groupe avec des amis vous ne banc” (baiklah, ibu putuskan untuk mengganti tugasnya, dengan tugas membuat cerita secara berkelompok. satu kelompok terdiri dari dua orang, dan daripada ibu harus pusing menentukan kelompok, kalian sekelompok dengan teman sebangku kalian saja)

“HAH???” ivone dan siwon melotot bersamaan.

“ce qu'elle est, Siwon? Avez-vous l'esprit? ” (ada apa siwon? Kamu keberatan?)

Siwon mengangguk. “oui, je suis fermement opposé mère!” (sangat, saya sangat keberatan bu)

“pourquoi? mères donnent des raisons de bon sens, Siwon” (kenapa? Beri ibu alas an yang masuk akal, siwon)

“bu, kenapa ga pake bahasa Indonesia aja sih? Saya ngga ngerti” kata Siwon ketus.

Bu marina menghela nafas, “ini pelajaran bahasa perancis, siwon. Apa pada pelajaran bahasa Indonesia kalian menggunakan bahasa perancis? Ngga, kan?”

“pokoknya, saya ngga setuju satu kelompok sama dia!!” kata Siwon sambil menunjuk ivone tepat di hidungnya

“HEH! LO FIKIR GUE JUGA MAU SEKELOMPOK SAMA ELO, HAH?” balas ivone emosi sambil menyingkirkan tangan siwon.

“heh, vous deux! pourquoi tant de bruit? vous avez un problème? arrivée sur! ne perturbent pas les leçons...” (kalian berdua! kenapa ribut? kalian ada masalah? selesaikan diluar! jangan mengganggu pelajaran ibu!!)

“dia yang mulai!!” sengit ivone sambil berdiri dari duduknya.

Siwon berdiri juga dari duduknya, “ELO!! Kalo elo ngga bilang macem2 tentang gue sama temen2 gue, ga bakal kaya gini!!”

Ivone melotot “HEH! JANGAN BIKIN EMOSI GUE MAKIN NAIK YAH!!”

“SUDAH SUDAH! HEY KAMU, ANAK BARU! DAN SIWON, SILAHKAN KELUAR DARI PELAJARAN IBU!!” bentak bu marina.

“ini gara2 elo tau ngga!!” ivone mendorong badan siwon kebelakang. Terbentuk senyum tipis di bibirnya, walau tak ketara. Lalu ia meninggalkan kelas.

“ckckck, dahsyat temen elo,” gumam Vidi takjub.

Ditha menoleh, “ivone emang emosian, ya gitu deh orangnya”

Vidi terkekeh, “ga beda jauh sama siwon. Kalo mereka pacaran, gimana kaata dunia ya??”

Ditha tersenyum, “kiamat kali, wahahaha” Mereka berdua melanjutkan obrolan mereka.

“ya ampun, si ivone bener2 nyari musuh!” gumam Tasya sambil melepas kacamatanya.

“temen elo berani banget saama sodara gue, ck” dicky berdecak “menurut gue, siwon ngga bakal gitu aja ngampunin ivone, dan….mungkin akan ada perang dunia keempat” ujar dicky sambil menyendenkan tubuhnya ke kursi

“ck! Ivone pasti juga gitu, aaaaaah, dia sih, pake ngata2in kalian.” Ujar tasya sambil membuka permen frooz-nya.

“elo suka frozz? Bagi dong” pinta dicky Tasya mengangguk lalu berbagi dengan dicky(?)

“elo, udah temenan lama sama siwon?” Tanya baiq pada rifky

Rifky mengangkat bahu, “yaa gitu lah, kenapa?”

“gapapa, emangnya dia se-kejem itu ya? Serem ih”

Rifky terkekeh, “kalo dia udah kaya gitu, gue yakin ada yang ngga beres”

Baiq menyerngit, “ga beres?? Apaan??”

“liat beberapa hari kedepan aja, deh. Pamali kalo ngomong sekarang, hehe”

“yeee, elu mah. Eh betewe elo ngerti kagak sama pelajaran ini? Gue kok ga ngerti sama sekali, ya? Hehee” baiq meringis sambil mengaruk2 kepalanya

“yaaaelah, nih, kamus bahasa perancis, pake dulu gih” Rifky menyerahkan kamus bahasa perancis miliknya pada baiq

“thanks ya” Rifky hanya mengangguk dan kembali memperhatikan bu marina.

“AAARRRGH,, cowok gila!! Ga bosen2 nya ngebuat emosi gue muncul!! Udah 2 kali pagi ini, ya tuhan, gimana nasip gue kalo setahun sama dia??? Oh tidaaaakkkk…” kata ivone lebay sambil mencincang baksonya dengan sadis. Dia kini sudah berada di kantin.

“elo,,,,bakalan mampos” lirih cowok tepat di telinga nya.

Ivone menoleh, matanya terbelalak. Wajahnya dan wajah siwon begitu dekat. Hingga deru naafas siwon mampu ia rasakan. Siwon malah makin mendekati ivone.semakin dekat…dekat….dekat…dan………..

“HUAAA PANASSSS!! WOOYYY CEEWEK SARAP LO! KALO MUKA GUE MELEPUH GIMANA? MIKIR PAKE OTAK KEK!!” siwon berteriak2 sambil mengipas2 mukanya.

Ivone hanya tertawa “HAHAHA, KAYA ELO MIKIR PAKE OTAK AJA!!” sinisnnya lalu pergi meninggalkan siwon disana.

“ohhh njirrr, mimpi apaan sih gue semalem?? Aww…” siwon trus mengipasi wajahnya

*

“lo gapapa, won?” Tanya dicky sambil memandangi muka siwon yang merah

“ini gara2 cewek gila itu tau ngga! Kalo dia ngga nyiram gue pake kuah bakso, ga mungkin muka gue jadi gini, ngerusak kecakepan gue aja, ah!!” gerutunya.

Rifky tertawa, “ini kedua kalinya elo jadi gini, bro!!”

F’Guy yang lain menoleh, “maksud lo?”

Rifky berdehem pelan, “inget ngga, siwon yang kita kenal kan, dingin banget sama cewek? Dan dia akan jadi gini, kalo dia suka sama cewek”

“HAH?? MAKSUD LO GUE SUKA SAMA SI KLEPON???” teriak Siwon yang berhasil membuat seluruh siswa yang ada di taman menoleh ke arahnya.

“yes, I guess…”

“GILA LO!!” siwon menoyor kepala rifky dengan berapi2(?)

“gila di RSJ kaleeee” jawab Dicky watados

“mungkin gue pelupa, tapi gue ngga akan lupa sifat sahabat gue, dong” kata Rifky sambil menoyor balik siwon

“tapi bener juga kata rifky, lo kok ngikutin permainannya ivone sih? Lo aja ga peduli sama fans2 lo yang nekat mau bunuh diri demi dapetin elo, lah ini? Elo ladenin aja. Jangan2…..” Vidi menyeringai

Siwon bangkit dari duduknya “BERENTI! BERISIK KALIAN SEMUA! GUE MAU CABUT!!” ujarnya depresi(?) karena disudutkan dengan pernyataan2 teman2nya

“lah? Ntar gue pulang sama siapa??” Tanya dicky

“sama pohon, noh!!” tunjuk siwon jengkel lalu meninggalkan mereka bertiga

“emang bisa, ya??” Tanya dicky watados

Rifky dan vidi terkikik, “udah ah, yok ke kelas”

*

“hah? Elo siram? Gila lo! Bikin masalah aja, sih!!” sewot Baiq pada Ivone saat ivone bercerita pada mereka.

“elo kenapa nyari musuh sih? Gue pindah bukan buat cari musuh, vone!” kata Tasya sambil melipat tangannya di dada.

“bener kata Baiq n Tasya!! Gue ngga mau sampe keseret sama masalah elo!! Inget itu!!” kata Ditha

“yah,,, kan gue rflek.. abis, dia mau….. aaargghhhsss tau deh, bete gue. Baru sekali masuk sekolah udah kaya gini, bisa gila gue disini, hueeee mendingan gue kagak pindah ke indo deh daripada kayak gini!!”

“elo sih! Kalo ngomong jangan asal ceplos! Jadinya gini, kan? Padahal nih, kalo lo ga ngomong kaya tadi dan sok2an nantangin mereka, kita bisa jadi temen mereka. Bisa ikutan famous, bahkan, mungkin,…….bisa jadi pacar mereka. Ehehe” tasya terkekeh

“yeee elu mah!! Ee tapi mereka emang cocok dijadiin pacar kok. Si Vidi juga keren banget” kata Ditha sambil senyum2 geje

“kerenan rifky tau, pinter lagi, beehhh…idaman para wanita.. hueee”

“ah kalian apaan sih? Jijay banget tau, ihhhh” ivone begidik ngeri melihat ekpresi wajah saudara2nya

“khekhekhe, gue bilangin ya Von, jangan pernah benci berlebihan sama orang, benci sama cinta itu bedanya tipis, loh. Xixixixi” ditha terkikik

“apaan sih! Udah udah, males gue sama lo lo pada. Ga bantuin gue, malah ngomong yang engga2!! Itu semua ngga mungkin terjadi! Gue? Sama TAWON BLANGSAK? Oo tidak bisaaa… Udah ah, males gue sama elo semua” ivone beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan kelas.

Tasya geleng2 kepala, “benci jadi cinta, apanya yang ga mungkin? cckckck”

Baiq terkikik “dia belom pernah nonton sinetron tuh, tontonannya suju mulu, mana dia tau soal begituan?”

“taruhan nyok!!” seru Ditha

“heh, cewek2! Ngomongin apa sih?” Dicky mendekat dan duduk di sebelah Tasya. Membuat Tasya sedikit salting

“eee engga ngomong apa2 kok hehe”

“boong!” sergah Rifky “gue tau kalian ngomongin siwon sama ivone kan?”

Ditha mengngguk, “gue mau bikkin taruhan nih, mereka berdua ntar pacaran ato kagak? Yang jawab kagak, siapa, yang jawab iya, siapa”

“gue kira, engga” jawab Baiq tak yakin

“bener, gue juga yakin engga” timpal Vidi

“elo? Elo? Elo?”

“gue rasa iya…” kata tasya yang di angguki oleh dicky dan rifky.

“kalo pendapat gue sih… iya!!” ujar ditha semangat “tunggu aja tanggal mainnya, di kelas kita.. wkwkwkwkw” ditha terkekeh

“yeee. Gakelas lo” kata baiq

Tak lama kemudian bel berbunyi. Tapi keberadaan ivone masih belum bisa ditemukan(?) maka Tasya, Ditha dan Baiq memilih mengikuti pelajaran daripada mencari ivone yang batang hidung nya tak kelihatan , pengaruh idungnya ivone juga sih, pesek, jadi ngga kelihatan #Plak

to be continued....

apakah yang akan terjadi selanjutnya?

jangan kemana mana, tetap di OPERA VAN JAVA!!

eee salah22, maksud saya, tetap di VS jadi CS!! okeokeokeoek wkwkwkwk

maaf kalo pendek. udah ngatoookk ;)

Pemilik Hati -Part 1-

"Reno!!" pekik Bu Ratna kesal.

"Ada apa sih, bu? Gk bosen teriakin nama saya? Atau jangan2 ibu ngefans sama saya, ya?" cowok bernama Reno itu menyeringai.

Bu Ratna berdecak kesal, "Reno!! Berani sekali kamu, hah?!"

"Bukannya udah biasa, ya? Gk usah heran gitu deh, bu. Kaya baru kenal saya sehari dua hari aja,"

"Ya ampun Reno!! Udah berulang kali ibu bilang, bisa sopan sedikit sama orang yang lebih tua?! Ada masalah apalagi kamu hari ini? Gk bisa ya, sehariiiii aja gk bikin u--"

"Tanpa saya jawab, ibu juga udah tau, kan? Gk bosen ngulang pertanyaan dan pernyataan yang itu2 mulu? Saya yang dengerin aja bosen,"

Bu Ratna mendengus, ia juga sebetulnya sangat bosan melontarkan kalimat yang itu2 saja. "Keluar kamu dari ruangan saya!" perintahnya tiba2 dengan suara lemas.

Percuma saja, bicara dengan Reno hanya akan membuat darah tingginya kumat.


Reno Digta Wijaya, anak sang pengusaha, Adrian Wijaya, yang kekurangan kasih sayang tetapi sangat kaya raya. Melampiaskan kekesalan di sekolah. Merokok dan berkelahi adalah makanannya sehari2 di sekolah.

Ia telah di cap sebagai preman sekolah. Bad record yang ia kantongi bahkan lebih parah dari kakak2 kelas XII. Dia saja baru menginjak kelas XI, tapi ia telah di blacklist oleh sekolah.

Ia sering merokok di parkiran. Ia juga tak pernah absen dari yang namanya tawuran. Itu bagian dari hidupnya.

**

"Lo masuk BP lagi, Ren??" Tanya Andre datar. Ia sudah sangat hafal kebiasaan sobatnya itu.

Reno mengangguk, "Tau deh, hobby banget Bu Ratna manggil gue. Heran,"

"Ada ulangan dadakan!! Soalnya 20an!! Huaaaa..." Teriak Bima, ketua kelas XI IPA 2 yang masih 1 genk dengan Reno.

"Eh, sumpeh lo??" Tanya Andre tak percaya.

"Iya! Mati gue. Mana semalem gk belajar lagi. Remidi nih gue yakin," Bima memalingkan wajahnya pada Reno. "Lo udah belajar, Ren??"

Reno menyeringai, "Walopun gue gk belajar, otak gue masih mending lah daripada elo2 pada,"

"Yaudah, gue nyontek lo aja deh. Boleh kan??" Bima menaik turun kan alisnya.

Reno berdecak lalu mengangkat bahu. "Yaa... Gampang lah,"

Bu Diaz, guru Fisika Reno, masuk. Bersama seorang cewek cantik yang memakai seragam sama dengannya.

"Waw, cakep.." gumam Andre

"Gila. Itu cewek bidadari ya? Terpesona pada pandangan pertama, nih!?" Bima memperhatikan cewek itu dari atas sampai bawah.

Reno hanya memutar bola matanya, "Biasa aja kali," sungutnya.

Bima dan Andre menoleh ke belakang, "Hah? Kaya gitu lo bilang biasa?" kata mereka bersamaan.

"Anak2, ada murid baru pindahan dari Surabaya. Silahkan perkenalkan namamu,"

Cewek itu maju ke depan, "Nama saya Valencia Marthadika . Panggil aja Valen. Pindahan dari Surabaya. Mohon kerjasamanya,"

"Oh, Valen namanya. Cantik juga.." gumam Andre.

"Heh. Dia jatah gue. Lo ama Siti sono!?" ujar Bima sewot.

"Enak aja!! Lo aja sono, homoan ama Daud!"

Bima menggebrak meja, "Ih!! Cari gara2 lo!?"

"Ada masalah apa kalian? Kalau mau ribut silahkan keluar!!" ujar Bu Diaz

Bima dan Andre menunduk. Reno malah sibuk mendengarkan lagu dari i-podnya.

"Reno!! Kalau kamu gk niat ikut pelajaran saya, silahkan keluar!" bentak Bu Diaz

Karena hari ini--yang katanya Bima--ulangan, Reno melepas headsetnya dan menatap bu Diaz datar.

"Oke Valen, kamu boleh duduk di sebelah Reno,"

Valen berjalan mendekati meja Reno. Lalu duduk dan menatap Reno sambil tersenyum.

"Hai, aku Valen, kamu siapa??"

"Aku Andre!!" Andre mengulurkan tangannya kearah Valen.

Bima melirik, lalu ikut2an mengulurkan tangan kearah Valen. "Gue Bima!!"

Valen tersenyum kikuk kearah dua cowok di depannya, "Aku Valen," lalu menyalami Andre dulu baru Bima.

"Dia Reno," Kata Andre sambil mengedikkan kepalanya ke Reno. "Dia lagi gk mood ngomong, ya diem aja gitu jadinya. Kaya orang bisu,"

Valen terkekeh sambil memandang Reno yang tampak cuek. Ia merasa familiar dengan wajah Reno.

"Anak2, ambil kertas sobekan, kita ulangan!!"

"Huaaaah?!?! Ulangan?" koor anak2 malas.

**

Bel istirahat berbunyi, anak2 XI langsung berhamburan keluar kelas. Dan seperti biasa, Reno, Bima dan Andre menuju parkiran untuk merokok.

"Lo mau?" Tawar Reno pada Andre sambil mencomot rokok dari sakunya.

"Gk deh, seperti biasa, gue cuma nemenin aja,"

"Eh, liat liat!!" Bima menunjuk2 ke arah belakang sekolah.

Andre dan Reno langsung menoleh dan menyipitkan mata.

"Woy, beraninya keroyokan lo! Sini kalo berani," Teriak Reno tiba2

Anak2 kelas XII yang memukuli anak2 kelas X berhenti. Lalu ia menyeringai ke arah Reno.

"Hei, liat! Si PREMAN yang SOK TAU dateng. Hei, mending jangan SOK JADI PAHLAWAN. Gue gk ada urusan ya sama elo," Dylan, sang anak kelas XII itu menatap Reno tajam.

Reno berdecak, "Terus? Gue membela kebenaran, bray. Gk kaya lo. Kalo gentle, jangan keroyokan lah, kaya banci aja,"

"Ulangi lagi perkataan lo," perintah Dylan dengan nada sinis.

"Banci. Lo kaya B.A.N.C.I !!"

Dylan menghadiahi Reno sebuah hantaman kencang di rahang kanannya. Reno terhuyung ke belakang.

"Apa gue bilang, lo kaya banci!!"

Sebuah hantaman yang kini menerjang rahang kirinya menyebabkan Reno jatuh tersungkur.

Teman2 Dylan beranjak darisana setengah berlari. Andre berteriak heboh "Bim, panggil Pak Aryo! Cepetan!"

Bima mengangguk dan berlari ke arah ruang guru. Andre menghampiri Aang, anak kelas X yang babak belur di pukuli oleh Dylan.

"Apa? Mau pukul gue lagi? Silah..." ucapan Reno di potong oleh Dylan dengan sebuah tinju di pelipis kirinya.

"Hei! Apa2an kalian berdua? Ikut bapak ke ruang BP!!" Teriak pak Aryo sambil memisahkan Reno dan Dylan.

Bima terengah2 sambil meringis ke arah Dylan. Dylan menatapnya dengan tatapan kebencian.

Mereka berdua pun di sidang di ruang BP.

**

Hampir 1 jam keduanya di ceramahi oleh Bu Arik, yang kebetulan ada di ruang BP. Selesainya di ceramahi, mereka langsung pergi darisana. Hukuman yg di peroleh Dylan adalah skorsing 3 hari, dan Reno di bebaskan dari hukuman.

"Kali ini lo menang," Lirih Dylan tajam ke Reno.

Reno tersenyum remeh, "Gue emang gk akan pernah kalah dari lo," ia berjalan mendahului Dylan. Baru 3 langkah ia menoleh ke belakang. "Jangan panggil gue Reno, kalo gue kalah dari elo,"

**

Satu jam saja (CERPEN)

(Ify P.O.V)

Dia. Dia alasanku bertahan sampai sekarang. Dia yang selalu ada untukku. Kapan saja, dimana saja. Mario Stevano Aditya Haling. Nama yang sejak kecil telah membiusku untuk selalu bersamanya.

Dia sahabatku dari TK waktu itu.

-flash back on-

Aku tengah menangis. Lolipopku satu-satunya di rebut paksa oleh Cakka, salah satu murid bandel di TK ku. Lalu tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.

“kamu kenapa?” tanyanya.

Aku mendongak, “lolipopku di ambil cakka,” ujarku sambil terisak.

Dia mengacak-acak rambutku pelan, “masa gitu aja nangis sih? Jangan nangis dong!” Dia meringis lalu merogoh sesuatu dari sakunya, “nih, lolipopku. Buat kamu aja, biar kamu gak nangis lagi,”

Mataku langsung berbinar, “hah? Beneran?”

Dia mengangguk.

“Makasih ya….” Aku terhenti. Aku belum tau namanya.

Dia tersenyum dan mengusap air mataku yang menggenang, “nama aku Mario. Panggil Rio aja, ya,. Mulai hari ini kita temen ya?”

Aku mengangguk, “Aku Ify,”

-flash back off-

Mulai kejadian itu, dia selalu melindungiku dari Cakka. Dia selalu ada untukku. Masuk SD, Kami sekelas. Dan dia lah satu-satunya temanku saat itu.

Sekitar kelas 2, aku memiliki teman baru. Namanya Shilla. Dia sangat cantik dan punya banyak teman. Aku senang sekali berteman dengannya. Shilla juga dekat dengan Rio. Sampai suatu saat….

-flash back on-

“shilla suka sama Rio nih Fy,” curhat Shilla padaku.

Aku langsung membelalak. “hah? Gak! Gak boleh! Rio Cuma buat Ify! Gak boleh sama Shilla!!” Aku menggebrak meja dan meninggalkan Shilla yang masih melongo tak percaya. Lalu aku menghampiri Rio.

-flash back off-

Saat itu juga aku menjauhi Shilla. Dan aku tak pernah membiarkan Rio berteman dengan perempuan lain. Aku takut dia pergi dariku dan melupakanku.

Aku memang egois, karena aku tak mau kehilangan dia.

**

Aku takut.. kamu pergi.. kamu hilang.. kamu sakit..

Aku ingin.. kau disini.. disampingku.. selamanya..

**

Kelas 6 SD, aku merasa badanku sering sakit-sakitan. Apalagi aku jadi sering keluar masuk rumah sakit. Mama dan papa tak pernah bercerita apa-apa. Jika ku tanya pun jawaban mereka karena aku terlalu kecapekan saja. Aku pun tak curiga apapun.

Sampai saat aku masuk rumah sakit pada kelas 1 SMP. Aku terkena kanker otak stadium dua. Aku syok. Aku kira kanker otak hanya ada di sinetron-sinetron yang biasanya aku tonton. Tapi ternyata, itu terjadi pada diriku sendiri.

Aku drop dan ambruk. Aku masuk rumah sakit selama seminggu. Dokter menyarankanku untuk istirahat total dan segera melakukan kemo. Tapi aku menolak.

Rio. Dia selalu menemaniku kapan saja. Dia juga tau tenntang penyakitku. Setiap pulang sekolah dia selalu menyempatkan diri untuk menjengukku. Mama menyuruh Rio untuk membujukku agar aku mau ikut kemo. Awalnya aku sangat menolak. Tapi melihat kegigihan Rio untuk terus membujukku membuatku mau tak mau terenyuh dan luluh juga.

Kanker ini memang belum terlalu parah. Tapi aku harus tetap rutin check up dan mengikuti kemo selama 3 bulan dua kali. Rio yang selalu mengantarku tiap kemo. Rio juga yang selalu membuat rasa sakit karena kemo itu hilang gara-gara tingkah lucunya yang selalu membuatku tertawa.

Memang sama sekali tak ada ikatan apa-apa di antara kamu. Tapi aku selalu merasa kami ini terikat. Dia memberikan seluruh perhatiannya padaku. Aku juga tak pernah membiarkannya menghilang sedetikpun dari pandanganku. Dia tampak oke-oke saja.

Dia selalu memberiku semangat. Meski kemo tak menolong apa-apa, dan hanya malah membuat fisikku lemah, Rio tetap memberikanku semua perhatiannya. Menurutku,kemo Cuma menambah rasa sakitku saja. Sejujurnya aku sudah pasrah dengan takdir Tuhan. Tuhan, engkau boleh mengambil nyawaku kapanpun engkau mau, tapi jangan pernah engkau buat Rio tak pernah merelakan kepergianku.

Rio pernah sangat marah padaku, waktu aku kemo di kelas 3 SMP waktu itu…

-flash back on-

“Rio, kalo misalnya kita nanti pisah dan gak akan ketemu lagi, apa Rio mau terus nunggu Ify??”

Rio menyerngit, “yaiyalah Fy! Masa Rio nyari cewek lain, sih? Tapi maksudnya Ify itu apa??”

“Rio, Ify ini kena kanker, umur Ify tinggal menghitung tahun. Sedangkan umur Rio masih panjang. Mungkin Ify pergi duluan…”

Rio menggenggam tanganku, “Jangan ngomong kaya gitu! Aku gak suka kamu ngomong kaya gitu!! Kamu bakal terus hidup! Kalo perlu, aku aja yang mati. Aku rela kok, pokoknya Ify hidup!!” bentak Rio

Aku mulai terisak, “aku bener kan Yo? Aku duluan yang mati, baru kamu. Kita bakal terpisah yo. Dan kamu harus terima kenyataan itu. Mungkin sulit, tapi aku yakin kamu bisa dapet cewek yang bisa bahagiain kamu. Yang gak penyakitan kaya aku,”

“sekali lagi kamu ngomong aneh-aneh kaya gitu, aku gak bakalan lagi mau ngomong sama kamu!! Kalo perlu, biar aku ikut mati aja sekalian!” bentaknya lagi.

Aku tau, ada nada ketakutan dan marah di sela bentakan Rio. Aku merutuki diriku ini, kenapa aku terlahir sebagai gadis penyakitan??

**

Seandainya kau tau.. ku tak ingin kau pergi..

Meninggalkan ku sendiri bersama bayanganmu..

Seandainya kau tau.. aku kan slalu cinta..

Jangan kau lupakan kenangan kita slama ini..

**

6 tahun aku bertahan karena Rio. Dia tetap setia menemaniku, meskipun tau umurku tak lama lagi. Aku hanya homeschooling di rumah sakit. Karena kondisiku yang semakin memburuk dan tidak memungkinkan ku untuk masuk ke SMA biasa.

Hari ini hari kelulusan SMA. Rio langsung menemuiku sambil berteriak senang, “Aku lulus Fy!! Aku lulus!!”

Aku hanya tersenyum dan merasa ikut senang atas kelulusan Rio, “selamat ya Yo, aku ikut seneng kalo kamu juga seneng,”

“pokoknya kamu harus ikut ngerayain kelulusan aku ini, Fy,”

Aku memandang Rio dengan tatapan kamu-ga-liat-aku-sakit??

Rio yang mengerti arti ucapanku langsung tersenyum, “aku udah minta izin sama tante kok, sama dokter kamu juga, yang penting gak jauh dari sini. Ntar malem aku kesini, ya. Kamu siap-siap aja,”

Aku mengangguk, “yaudah deh, kamu mau pulang??”

“iya, mau nyiapin sesuatu. Aku balik dulu ya,” tangan Rio bergerak mengacak-acak rambutku yang sudha setipis kertas itu.

“iya deh, nanti jam berapa??”

“jam 7 aku udah sampe sini, oke!!”

Aku mengangguk lagi. Rio melambaikan tangan lalu mengucap bye tanpa suara. Lalu menghilang dari ruanganku.

**

Jangan berakhir aku tak ingin berakhir..

Satu jam saja ku ingin diam berdua..

Mengenang yang pernah ada..

Jangan perakhir karena esok takkan lagi..

Satu jam saja hingga kurasa bahagia mengakhiri segalanya..

**

Rio menjemputku jam 7 tepat. Ia mengenakan kemeja warna putih, celana jeans warna hitam dan sneakers putih andalannya. Aku sangat terpesona melihatnya. Dia tampak makin manis dan keren.

Tapi kepalaku pusing. Aku mencoba menahan pusing itu.

Rio menggenggam tanganku, membantuku berjalan hingga keluar kamar. Kebetulan kamarku di lantai satu, dan tak jauh dari pintu keluar.

Pusing di kepala ku masih belum mau hilang. Malah makin menjadi. Aku mempererat genggaman tanganku, karena tubuhku yang semakin lama seperti melayang-layang.

Sejujurnya, setelah Rio pulang tadi, aku mulai mengalami pusing yang hebat. Bahkan membuat darah dari hidungku ikur mengalir. Tiba-tiba saja aku ingin menulis. Dan aku membawa secarik kertas nya sekarang. Ku masukkan kedalam kantong sweeterku.

Aku di ajak Rio ke taman rumah sakit. Lilin-lilin menyinari kami di sepanjang perjalanan. Aku masih melihat itu semua meski pandanganku memburam.

Rio memapahku duduk di rerumputan. Aku duduk disana sambil mencoba menyeimbangkan tubuhku yang sangat pusing, rasanya semua berputar.

“Fy, aku mau ngomong deh,” kata Rio dengan wajah paling manis yang pernah ku lihat.

“ngomong aja, Riooo,” tanya ku menahan sakit.

Rio mengeluarkan sebuah kalung dari sakunya, “Fy, Rio boleh jujur, kan? Ini jujur, Fy. Rio udah suka sama Ify dari TK. Tapi Rio takut, Rio takut nyatain ini. Rio takut setelah Rio nyatain ini, Ify marah sama Rio, persahabatan kita jadi hancur. Tapi Rio yakin, Ify udah cukup dewasa buat ngerti perasaannya Rio,” Rio menghela nafas lalu memakaikan kalung berbentuk love yang tengah-tengahnya bertuliskan RIFY

“Rio mau, Ify selalu dan tetap jadi Putri-nya Rio. Dan Rio mau, kalo di hati Ify Cuma ada Rio. Dan kaya gitupun sebaliknya. Fy, mau gak jadi cewek pertama sekaligus terakhirnya Rio??”

Aku tersenyum. Agak kaget. Tapi apa daya, pusingku makin menjadi-jadi. Aku mulai merasa hidungku panas, seperti siang tadi. Sebelum akhirnya mengeluarkan darah. “Sebenernya, Ify juga punya perasaan yang sama kaya Rio. Sejak kejadian di TK duulu. Sejak saat itu, Ify gak pernah mau ngelepasin Rio sedetikpun. Rio tau kan, Ify punya penyakit?? Apa Rio gak malu??”

“Rio merengkuhku dalam pelukannya, “kenapa harus malu? Rio suka sama Ify bukan karena kelebihan, kekurangan atau yang lainnya lah! Cinta Rio ke Ify itu tulus, apa adanya. Bukan ada apanya,” tutur Rio lembut.

Aku merasa cairan merah di hidungku tak dapat ku tahan lagi. Dan aku langsung menunduk dalam-dalam.

“Fy, mau gak jadi cewek terakhir dan pertamanya Rio?”

Keadaan hening. Selama 10 menit…

Lalu aku menggeleng, “mungkin cewek pertamanya Rio itu Ify, tapi untuk cewek terakhir, Ify gak bisa Yo. Maaf ya,” aku mulai merasakan badanku dingin. Menggigil.

Rio agak tersentak, “kok gitu? Ify gak mau sama Rio ya? Udah bosen??”

Aku mencoba mengatur nafasku yang agak tersengal-sengal, karena pusing dan darah itu sangat membuatku terganggu dan kesulitan bernafas, “buk…an git..u y..o…”

Rio yang mulai menyadari gelagat aneh dalam diriku langsung mendudukkanku, lalu ia terpekik, “Astaga Ify!! Kamu mimisan? Kenapa gak bilang? Pusing ya?? Ayo aku antar balik ke kamar!!”

Tanpa fikir panjang, Rio membopongku sampai ke kamar. Aku hanya bisa merasakan nafas Rio yang tersengal-sengal sekaligus bisingnya orang-orang disekitarku.

Lalu semuanya gelap. Aku tak dapat merasakan apa-apa. Hanya satu yang aku rasakan, sebutir air mataku menetes bebarengan dengan bunyi mesin pemacu jantung yang berdengung dengan bunyi tiiiiiiiiiittt yang panjang.

**

Ku doakan dirimu selalu disana..

Semoga kau selalu merasa bahagia..

Ku rindukan selalu dirimu..

Dalam suka, dalam duka..

Kau slalu dihatiku..

**

(Author P.O.V)

Ify menangis dalam koma yang tergolong sangat singkat. Hanya 20 menit. Kedua orangtua Ify menangis, apalagi ketika dia menemukan sepucuk surat yang di tunjukkan untuk mereka berdua dan Rio. Tak lama setelah itu, Ify meninggal. Nyawanya tak tertolong lagi.

“ini semua salah aku,” lirih Rio sambil menahan tangisnya.

Mama Ify memeluk Rio, “ini bukan salah Rio, ini udah takdir dari Tuhan,” tuturnya mencoba kuat.

“tante… Rio minta maaf. Gak bisa jagain Ify bener-bener. Ify… ify meninggal gara-gara Rio, tante.. Rio.. Rio penyebab meninggalnya Ify. Ify gak akan meninggal kalo Rio gak ngajak Ify keluar. Tante, maafin Rio…” Rio menangis tersedu-sedu di dekapan mama Ify.

Mama ify mau tak mau juga ikut menangis, “udah Rio, ini bukan salahnya Rio. Rio jangan merasa seolah-olah ini semua salahnya Rio. Semuanya udah di atur Tuhan, Yo. Jangan nyalahin diri Rio,”

Deru haru membaur menjadi satu. Menciptakan elegi yang begitu menyesakkan. Melihat seseorang yang sangat kita cintai pergi meninggalkan kita kerena keadaan.

Rio masih menggenggam kertas yang di temukan mama ify di saku sweeter Ify. Hari ini hari pemakaman Ify. Rio berusaha menahan tangisnya karena ia tak mau karena tangisnya ia semakin tak bisa merelakan Ify. Jasad Ify telah di kebumikan 10 menit yang lalu. Hanya terdengar lantunan doa-doa dari saudara-saudara terdekat Ify. Teman-teman TK sampai SMP Ify. Juga beberapa sanak saudara Rio yang sudah akrab dengan Ify.

“baca surat Ify ya Yo,” ujar mama ify sebelum pergi dari area pemakaman.

Rio memandangi kertas yang sedari tadi ia genggam, lalu ia mengangguk. Tinggal lah dia sendiri di sana, di sebelah makam Ify. Ia terduduk lalu membuka kertas itu perlahan.

Dear Rio..

Hei Yo, mungkin saat kamu baca surat ini aku udah gak ada lagi disini. Aku udah pergi. Jauuuuh banget. Yang pastinya gak bakalan bisa kamu capai, walopun pake jet sekalipun, hehe.

Rio, kita udah temenan belasan tahun kan? Ya, kamu pasti tau itu. Kita bareng-bareng dari TK. Sampe segede ini. Maaf ya sebelumnya, kalo aku lancang udah cinta sama kamu.

Aku gak pernah kasih tau kamu soal ini. Aku takut, karena sepatah kata ‘CINTA’ bisa berdampak buruk buat persahabatan yang udah kita bangun selama belasan tahun ini. Walaupun aku juga tau, kamu punya perasaan yang sama kaya aku.

Aku sebenernya gak bisa nyembunyiin perasaanku. Tapi aku juga gak mau bilang ke kamu, kalau akhirnya kamu menolak aku karena aku cewek penyakitan.

Aku kena kanker. Kamu tau itu kan? Kamu yang selalu menemaniku saat senang maupun sedih. Yang selalu minjemin bahu kamu kalo aku lagi ada masalah. Kamu yang selalu ngebuat aku tertawa karena lelucon jayusmu itu :p

Aku sangat menikmati kebersamaan yang kita lewati itu. Dan tanpa terasa, semuanya tak akan pernah lagi bisa kita rasakan. Mungkin malam ini terakhir, karena aku punya firasat kaya gitu sih.

Aku Cuma mau bilang. Aku cinta kamu. Aku sayang kamu, Rio. Aku pengen kamu nyari pengganti aku. Yang lebih ‘sehat’ daripada aku. Yang lebih cantik, pinter dan sebagainya lah! Yang penting, bisa bahagiain kamu.

Aku udah ikhlas kok, SUMPAH! Soalnya aku sadar diri, kalo aku gak bisa ngebahagiain kamu. Umurku pendek. Carilah cewek yang berumur panjang dan bisa bahagiain kamu. Kaya Shilla. Aku yakin, sampe sekarang dia masih suka sama kamu, ya kan? Hayoooo…. Coba deh deketin dia. Coba sayang sama dia.

Aku gak akan lupain kamu, Yo. Jaga diri baik-baik, ya. Aku minta tolong satu hal boleh gak? Jagain mama-papaku. Anggap mereka sebagai temen kamu sendiri. Karena mereka pasti sangat kehilangan aku nantinya.

I love you, Mario.

-Ify-

Rio yakin saat menulis ini, ify sedang mimisan. Tulisannya sedikit tak bisa di baca karena tertutup darah Ify. Rio menitihkan air mata, sedikit demi sedikit.

“Makasih Fy, makasih buat satu jam terindah kemaren. Aku.. aku gak akan pernah lupain kamu..” lirih Rio yang lalu beranjak darisana.

**

Maaf yaaaaaa, judulnya gak nyambung sama ceritanya. Pokoknya intinya itu lah hahah :D maaf kalo gajelas, jelek dll. :D gak bakal bikin sadend sih-_- makasih yang udh mau baca (:

di harapkan komentar dan like sebanyak banyaknya haha okeee sangkyu