Jumat, 22 April 2011

Cinta yang salah

bntar bentar numpang curhat!!

HUAAAAAAAAAA SETREEES ANJIR GILAAAAAAAAAAAAAAAAA MASA UDAH CAPEK NGETIK PANJANG2 BISA KAYA GINI :((((( SUMPAH CIIIIIK NANGIS AKU IKI :((( HIKSHIKS MOZILA HANCUUUUUUKKKKK TAIIIIK LAH !

udah udah maaf maad abaikan saja tadi hikshiks #nyesek tingkat akud lah pokoknya#

oke nggak usah banyak cingcong. ini cerpen ngga jelas. mohon di maklumi karena buat nya sambil nangis >.<

cekidot>>>>

**

aku mulai lelah. lelah dngan kehidupanku yang tak karuan. Lelah dengan keadaan sekitarku. Lelah dengan pencarian ini. Lelah dengan seluruh harapan yang aku gantungkan kepada sebuah liontin dan sepucuk surat ini. Dan aku… lelah mencarinya.

“ify.” Panggil seseorang

“Iya vi, kenapa?” Tanya ku setelah sadar dari lamunanku.

“ngga papa. Jalan yuk. Kak iel ngajakin aku jalan, nih.” Kata via sambil tersipu.

“eh uhmm iyadeh. Tapi jangan jadiin gue kambing congek lagi.” Gerutuku.

“ehehe iyadeh. Lagian kaki el ngajak temennya kok”

“oh yaudah, bentar y ague siap-siap dulu.”

Sivia mengangguk.

Sivia, saudara tiriku yang baik sekali. Dia tak pernah sekalipun bersikap buruk kepadaku yang hanya anak angkat dari orangtuanya. Dari umur 2 tahun aku tinggal dip anti asuhan. Di tinggalkan begitu saja oleh orangtuaku. Dan pada umur 11 tahun, keluarga sivia mengadopsiku. Hingga sekarang, diusiaku yang ke17 tahun, aku tak pernah sekalipun bertengkar dengan sivia.

“aduh viaaaa. Kamu cantik banget sih.” Pujiku pada sivia.

“aahh ify bisa aja. Nggak kok, aku jelek. Kamu tuh yang cantik.”

“ehhh enggak! Beneran deh. Eh gue baru dua kali ketemu iel dan itu nggak lama, tiba-tiba elonya udah jadian sama dia. Lo kenal iel daarimana sih?”

“kenal 5 bulan yang lalu, fy. Awalnya dari facebook hehe.kenapa?”

“gapapa. Kok kayanya gue ngga asing lagi gitu sama mukanya iel. Mirip siapa, ya.”

“mirip kamu fy hihi” ujar sivia sambil terkekeh.

“ehh itu mereka, fy!” pekik sivia sambil menunjuk Suzuki swift warna silver tersebut.

Tintin!

Klakson mobil iel berbunyi. Kami berdua pun membuka gerbang.

“silahkan masuk, tuan putri” kata iel ramah dan membukakan pintu mobil untuk sivia.

“makasih pangeranku.” Kata sivia dengan malu-malu.

“ohh gue nggak gitu. Oh oke oke.” Celetusku tiba-tiba yang niat jahilin mereka.

“yah ify jangan marah dong.” Sahut sivia tiba-tiba.

Aku pura-pura melipat tanganku di dada dengan muka jutek dan kesel. Iel memasukkan kepalanya dalam mobil lalu berkata pada seseirang dibelakang sana. “yo, lo bujukin ify biar masuk gih.:

“gue? Ogah,: katanya dengan nada stay cool.

“iel! Apaan sih lo!” kataku sambil menyubit lengan iel.

“lah elo sih pake ngomong begituan. Udah sana naik! Lo duduk di belakang sama dia, ya.”

Aku menurut. Walaupun aku tak tau dan belum kenal dengan orang yang tadi di sebut-sebut sivia dan iel. Akupun segera masuk. Dengan ceroboh kepalaku kejedot pintu. Sosok laki-laki di jok belakang menatapku sinis. Seperti tidak mengharapkan aku ikut bergabung dengan mereka.Aku pun segera menutup pintu mobil dan mengelus-elus keningku pelan, tapi cowo di sebelahku ini tetep nggak peduli.

“fy, lo ngga apa apa kan?” Tanya iel

“ngga sakit kan fy?” timpal sivia.

Aku hanya memasang senyum sambil menggeleng. “gapapa kok.”

Idih, orang-orang di depan gue perhatian gini. Lah, orang yang di sebelah gue ini malah diem aja! Gerutuku dalam hati.

“oia, kenalin. Dia Mario stevano aditya. Sepupu gue. Yo, kenalin ini sivia pacar gue. Dan itu ify, kakaknya.”

“rio.” Katanya datar. Tanpa ekspresi. Tanpa menjabat tanganku ataupun sivia. Menyebutkan namanya aja kayanya butuh perjuangan. Apalagi ngangkat tangannya sambil senyum. Kayanya bisa ngebuat dia kejang-kejang deh (?)

“rio emang gitu, ga usah di masukin hati.” Kata iel santai sambil menginjak pedal gasnya pelan. Rio hanya membalas perkataan iel dengan tatapan membunuhnya.

“kita mau kemana, yel?” tanyaku.

“jalan-jalan. Kemana aja deh yang penting jalan. Suntuk gue dirumah.” Iel mulai melajukan mobilnya dengan cepat. Melewati jalan tol ke daerah pasar turi. Memutar-mutar daerah blauran lalu berhenti di sebuah mall terkenal di daerah itu. BG junction.

“iel pinter banget sih, gue lagi pengen cari jaket lo ngajak kesini haha.” Sahutku.

“kesini Cuma mau ambil bajunya rio doang kok. Wleee.” Wajab iel yang langsung membuat wajahku merah padam. Astagaaa, malu banget!

“yo, lo buruan ambil deh. Gue ama yang lain tunggu di parkiran aja.” Sahut iel. Rio tak menjawab. Tapi langsung membuka mobil dan berjalan kedalam mall.

15 menit kemudian.

“lama banget, yo.” Geruti iel waktu rio masuk ke mobilnya.

Lagi-lagi rio tak menjawab. Dia malah duduk santai seperti tak punya rasa bersalahpun.

“iel, tau nggak. Orang kalo diem aja, ga pernah ngomong, ntar masuk neraka, loh. Soalnya dia nggak bersyukur dikasih nikmat sama tuhan buat ngomong. Orang bisu aja pengen ngomong! Kenapa orang yang bisa ngomong malah nggak pengen ngomong, ya?” cekotehku ngasal smbil melirik kearah rio.

Sivia mendelik ke aku sambil mengangkat satu alisnya, sedangkan iel cekikikan.

“ke delta nyokk.” Ajakku.

“ngapain?” Tanya iel yang masih sibuk mengeluarkan mobilnya dari parkiran.

“nongkrong, cari buku.”

“oke, deh.”

Mobilpun melaju ke delta.

@delta

“eh kita mau kemana?” Tanya iel yang menghentikan langkahnya di depan breadtalk. Rio, ify dan sivia ikur berhenti.

“J.co aja yel.” Usul Rio tiba-tiba.

“eh? Lo bisa ngomong? Waw keren!” pekikku.

Rio diem. Nggak nanggepin.

“oke, ke J.co aja.” Kata iel cepat . sepertinya dia bisa membaca suasana ngga enak antara aku dan rio. Kami berempatpun menaiki ekskalator ke lantai 1 dan mencari tempat di dalam J.co. Aku duduk berhadapan dengan rio. Berkali-kali aku memandangi wajahnya. Keren, cakep, tapi mukanya angkug. Rio yang mungkin merasa di perhatikan pun mendelik ke arahku.

DEG!

Rasanya dadaku sesak. Jantungku memaksa untuk melompat keluar. Melihat matanya yang menabrak pandanganku. Kami saling bertatapan. Ditengah-tenngah pandangan kami rasanya ada yang konslet gituu. Muka rio yang awalnya angkuh entah mengapa….. berubah.

“ciee kalo mau pedekate tuh ngobrol- ngobrol. Jangan liat-liatan gituu.” Cibir iel.

Mukaku pun otomatis berubah menjadi merah. Gara-gara kegep sivia dan iel lagi liat-liatan sama Rio. Bibirku rasanya ngga bisa kebuka, walau sekecil aapapun tetep ngga bisa. Rio juga, matanya mengedarkan pandangannya di ruangan itu agar tak bertatap lagi dengan mataku. Dan tak perlu menjawab cibiran iel abrusan. Sivia dan iel sibuk bercanda, ketawa-ketawa, membicarakan berbagai persoalan. Sedangkan aku? Aku salting. Lagi-lagi mataku beradu dengan mata Rio. Entah untuk keberapa kalinya.

“Vi.. iel..” kataku bebarengan dengan Rio.

“jiah kompakan amat hihi.” Goda sivia.

“gue cabut dulu, deh.” Ujarku.

“biar ngga jadi kambing congek disini.” Tambah rio.

Sivia dan iel terkekeh mendengar aku dan rio yang sepertinya janjian mau pergi.

“iya deh. Sono pedekate sono.”

Aku dan rio beranjak dari sana. Lagi-lagi bersamaan. Astaga salting tingkat tinggi nih! Kami berdua melangkah menjauhi sivia dan iel yang masih tertawa geli melihatku dan rio. Aku dan rio sama-sama berbelok ke gramedia yang tak jauh dari j.co.

“jangan ikutin gue napa.” Kataku

“PD banget idup lo.”

“lah terus lo kenapa ngikutin gue daritadi?”

“gue mau cari buku.” Jawabnya sambil melangkah mendahuluiku. Aku meremas tangan kesal. Lalu memasuki gramedia untuk mencari novel.

Sedang asik-asiknya aku mencari novel, tiba-tiba seorang berlari kearahku dan menabrakku. Aku terjatuh. Tanpa sengaja, gantungan hapeku tersangkut pada sebuah rak berisi beberapa buah buku ‘new realease’. Dan karena aku jatuh dalam posisi yang ngga tepat, maka rak buku itu menimpaku dan……BUG! Semua buku itu menimpa kepalaku dan pandanganku semakin memburam.

***

“fy bangun fy.” Kata sesepramh sambil menepuk-nepuk pipiku beberapa kali. Akupun terperanjat ketika mengetahui orang itu adalah RIO! Dan parahnya lagi, aku tidur di pangkuannua.

“eh, gue dimana?” kataku sambil memegangi kepalaku yang sakit.

“di dalem ruang karyawan, fy.” Kata Rio lirih. Terlihat kecemasan dari raut wajahnya.

“terus, sivia sama iel mana?”

“gatau, fy. Hape gue ngedrop. Pas gue cari ke J.co, mereka udah ngga ada.”

“lah, kenapa ngga pake hape gue aja?”

“ehmmm itu fy.. anu…”

“kenapa?”

“ngga ada, fy. Kayanya udah di copet sama orang. Gue gotong lo kesini tanpa mikirin hape lo. Maaf ya, maaf.”

“HAH?” tubuhku lemas. Hape itu adalah kado dari papa Sivia yang kini raib begitu saja. Padahal baru 1 bulan aku memakainya.

“gampang ntar gue beliin lagi.” Aku pun gelisah. Takut-takut sampai rumah papa menanyakan hapeku itu.

“kok diem? Gue beliin sekarang, deh.”

“hah? Ngga usah yo. Ngerepotin aja.”

“ngga papa lagi. Yaudah , lo udah ngga apa-apa kan? Kalo udah, kita ke langsung beli hape, ya.” Aku mengangguk. Beberapa jam yang lalu, Rio itu adalah cowo angkuh dan cuek. Eh beberapa menit yang lalu jadi rio yang baiiiiiiik banget. Dan penawarannya untuk belin aku hape baru juga tulus banget.

Aku berjalan dengan kepala yang masih kliyengan. Tiba-tiba rio memopoh tubuhku agar berdiri tegak. Lalu merengkuh lenganku. Menopang tubuhku adar aku kuat untuk berjalan. Dan dia menuntunku pelan-pelan agar cepat keluar dari gramedia/

Setelah aku merasa tubuhku mulai seimbang, aku berjalan tanpa tuntunan Rio. Tapi karena rasanya tubuhku masih lemas, Rio menggandeng tanganku. Darahku mengalir cepat. Aku rasa jantungku juga dipompa lebih cepat. Tanganku makin bergetar. Rasanya ga kuat melepaskan cengkraman tangan Rio. Aku berjalan beriringan dengan Rio.

**

“yo beneran gapapa? Gue ga enak sama lo. Kalo gue ada duit ntar gue ganti deh.” Kataku sambil membolak balikkan hape yang barusan di belikan oleh Rio.

“gapapa, anggep aja itu permintaan maaf dari gue.” Katanya santai.

“maaf? Buat?”

“nyuekin elo tadi.”

“eh/? Gapapa kali yo. Emang lo napa sih diem aja kaya orang bisu?” tanyaku sinis.

“udah bertahun-tahun gue kaya gitu.”

Jawaban Rio barusan membuatku terkejut. Dalam fikiranku terlintas “Hah? Bertahun-tahun? Nggak ngomong??”

“ada sesuatu yang ngebuat gue gini, fy.” Lanjut Rio.

“apaan yo?”

“gue ga bisa cerita sekarang.” Kata Rio lirih sambil menunduk. Kayanya masalah yang serius.

Kami duduk berdua diluar mall. Di tepi mall ada sebuah café outdoor yang bersebelahan dengan air mancur yang indah. Jam berganti jam. Sudah 3 jam aku dan rio ngobrol. Menceritakan apa saja yang dapat kami ceritakan.

“Yo balik yuk ke parkiran, mungkin aja mereka disana.” Sahutku.

Rio mengangguk lalu menarik tanganku. Jantungku masih dagdiddug ga karuan. Tapi ga tau kenapa, aku nyaman sama semua ini.

Kami memasuki parkiran. Dan melihat suatu keganjilan.

“Yo, mobilnya kemana?” teriakku histeris. Rio bingung, mencari mobil sepupunya. Tapi nihil, mobil itu ngga ada.

“yo, terus kita pulang naek apa?? HUaaaaa….”

“tenang fy, taksi masih banyak kok/” ujar Rio menenangkan.

Aku dan rio pun keluar dari parkiran dan mencari taksi. Setelah dapat, kami pun segera menaikinnya.

“tega banget tuh mereka . awas aja kalo ntar ketemu urrrghh.” Gerutuku.

Rio tersenyum melihatku yang lagi ngomel-ngomel. “fy, kerumah gue dulu ya. Ntar gue anterin pulang. Gimana?” aku mengangguk pelan. Berharap Rio ngga aneh-aneh.

Sesampainya dirumah Rio…

“sepi banget yo. Pada kemana?” tanyaku pada Rio. Rio tak bergeming. :Kok diem aja sih yo?” gerutuku sambil melihat foto-foto di ruang keluarga.

“mereka udah ngga ada, fy.” Sahut Rio pelan.

“ga ada? Maksudnya?” tanyaku penasaran sambil menghampiri Rio di sofa.

“mereka udah meninggal, 4 tahun yang lalu, fy/”

“ohh.. gitu, maaf ya yo. Gue ngga maksud/…”

“gapapa kok fy.” Potong Rio.

“jadi itu yang ngebuat lo angkuh?” tebakku.

“ya, dan lo tau ngga fy, Cuma lo yang bisa buat gue ketawa.”

Deg deg deg

Lagi-lagi jantungku disko. Sepertinya aku mulai ada rasa untuk RIO.

**

Sore ini aku hanya berkutat dengan Hape. Ku buka semua jejaring sosialku. Twitter, fb, ym, skype dan BBMku.

Tiba-tiba

MSAH_cakep : BUZZ!

MSAH_cakep : hai fy

Ini Rio? Tau dari mana YM gue? Batinku.

Ifyalyssa : hai juga. Ini siapa ya? Haha :D

MSAH_cakep : idih sok ga kenal sama gue lo --___--“

Ifyalyssa : EMANG GUE GA KENAL. Hahahaha.

MSAH_cakep : idihhh sombong banget. Ini gue Rio fy!

Ifyalyssa : Rio? Sodara sepupunya iel itu?

MSAH_cakep : nah tau gitu!

Ifyalyssa : idih user lo alay banget bro huahaha. Masa MSAH cakep? Msah jelek iye :p

MSAH_cakep : apalo kata deh -_- lagi apa lo?

Ifyalyssa : ihahaha kalah omong lo sama gue. Gue? Lg merenungi status jomblo gue haha

Ifyalyssa : lo endiri?

MSAH_cakep : lo jomblo? Gue boring ga ada yang bisa di ajak jalan… -_-

Ifyalyssa : iya yo, lo mau daftar? Hahaha. Jalan ama gue aja yo

MSAH_cakep : kalo boleh gapapa sih haha. Boleh. Kemana?

Ifyalyssa : oke. Lo dapet antrian nmr 1000 ya(?) trserah lo deh. Drpd gue jamuran d rmh

MSAH_cakep : ish, ky bnyk yg antre jd cwo lo aj. Haha. Ok gue jmpt stg jam lagi ya.

Ifyalyssa : ada dong. Lo juga mw dftar kan? Kekek :p oke see ya.

Hatiku berbunga-bunga. Bakal ketemu sang pujaan hati eh tunggu-tunggu. Bukan, bukan pujaan hari! Cuma cowo yang baru aku kenal 2 hari lalu. Kok bisa bilang gitu sih gue -_-

**

@nenscorner

“ngapain kesini, yo?” Tanya ku sambil mempercepat langkahku.

“bawel ah udah ikut aja.” Kata Rio lalu menarik tanganku.

“jangan aneh-aneh lo!”

Rio menganggukk dan tersenyum kearahku. Kami pun menaiki tangga. Sambil tetap memegang tanganku, kami tiba di lantai atas. Memilih tempat duduk didekat jendela. Mengamati jalanan Surabaya yang sedang diguyur hujan.

“gue mau ngomong sama lo, Fy.” Sahut Rio ragu.

“hmm apa yo?”

“ajari gur fy. Ajarin gue jadi rio yang dulu. Ajarin gue mencintai lo, fy.”

DEG DEG

Waktu rasanya berhenti. Hanya terngiang suara rio yang memohon kepadaku agar aku mengajarinya mencintaiku. Apa aku salah denger? Apa ini Cuma hayalanku? Aku tak mendengar suara alunan musik yang dimainkan salah satu band indie di Surabaya yang kala ini sedang bernyanyi dibawah.

“fy, kok diem? Bantuin gue ya fy. Please. Gue mulai ada rasa sama lo. Tapi gue gay akin itu bener-bener cinta. Karena jauh dari dalem hati gue, maish tersimpan rapi memori gue dan mantan gue, Dea. Mantan gue yang meninggal bareng ortu gue. Fy, please, bantuin gue ngehapus memori tentang dea.” pintaRio padaku. Aku masih sedikit cengo. Aku segera tersadar dari lamunanku, ketika rio perlahan meraih tanganku.

“gue bakal coba yo. Tapi apa ngga terlalu cepet?” kataku mantap.

“ngga fy. Kita coba dulu kalo elo sekarang belom ada rasa ke gue gapapa kok. Yang penting ajarin gue cinta sama lo. Dan gue juga sebaliknya, akan ngajarin lo buat cinta sama gue. Semua perlu proses, fy. Dan gue yakin kita bisa ngelewatin proses itu.”

Lagi-lagi aku terpaku dengan omongan Rio. Baru beberapa hari aku kenal dengan dia. Tapi dia udah berani nyatain perasaannya ke aku. “Iya yo. Gue coba, ya.” Kataku sambil tersenyum kearahnya.

“thanks fy.” Katanya sambil senyum

**

2 tahun sudah berlalu. Aku udah bisa mencintai rio. Dan aku semakin mengurungkan waktu ku untuk mencari orangtua kandungku sampai suatu saat…………

BRUK

Aku tak sengaja menabrak paruh bata yang hamper memiliki uban di rambutnya.

“Pak maaf pak saya gak sengaja.” Kataku sambil membantunya berdiri.

Klinting klinting

Liontionku terjatuh. Dan diambil oleh bapak itu.

“gapapa kok. Ini li—“ belum sempat bapak itu menyelesaikannya, matanya melotot melihat liontin di tangannya itu.

“Ini punya mu?” Tanya bapak itu. Aku mengangguk “Kamu Alyssa?” Tanya bapak itu seketika. Aku terperanjat. Bagaimana mungkin bapak tua ini mengetahui namaku?

“Bapak tau darimana?”

**

“ja… jadi orangtua saya sudah meninggal? 6 tahun yang lalu?”

“iya, Alyssa. Maafkan om. Udah ngasih kabar ini ke kamu. Seharusnya kamu berhak tau daridulu. Tapi sayangnya om nggak tau kamu ada dimana.”

Aku menahan tangis. Jadi? Pencarianku selama bertahun-tahun ini sia-sia? “apa… apa masih ada saudara saya yang masih hidup Om?”

“ada. Setau om adik laki-laki kamu masih hidup. Dia hidup sendiri bersama om dan sepupu kamu.:

“Mereka tinggal dimana, om?”

**

“ini rumahnya?” kataku setelah sampai ke alamat yang om septian –pemilik rumah ini—kasih ke aku.

Ting tong

Aku memencet belnya. Gerbang pun mulai di buka. Dan betapa kagetnya aku, yang berada di depanku IEL! GABRIEL STEVENT DAMANIK!

“loh, fy, ngapain disini?”

“eh iel. Ehm ini rumah lo? Bukannya rumah lo di daerah rumahnya rio ya?”

“iya ini rumah bokap. Ngapain lo disini?

“mama lo….ada?” Tanya ku sambl menegok-nengok keadaan sekitar.

**

“ja..jadi.. lo anaknya omHaling? I…itu berarti…”

“apa, yel?”

“elo… lo kakaknya Rio, Fy.”

DHUAR!

Jantungku rasanya meledak. Rio? Adikku? Apa yang harus aku perbuat? Aku mencintainya. Sungguh ngga adil. Bener-bener ngga adil.

Tanpa sadar, aku telah menangis tersedu-sedu. Dan dari balik tangisku, aku ligat iel sangat sedih dan gelisah. Aku pun segera beranjak dari rumah iel.

“yel gue balik dulu.” Pamitku.

“iya fy. Ati-ati . yang sabar ya.”

“thanks ya yel. Thanks banget.”

Aku berlari. Berlari sekencang-kencangnya. Tak kuat menghadapi takdir. Aku ingin bersembunyi di balik takdir. Aku terlalu pengecut untuk memberi tau Rio bahwa aku ingin melepasnya dan mencampakkannya. Betapa sakitnya hari Rio jika ia mengetahui ini semua. Betapa hancurnya hidupnya jika aku menyakitinya. Aku… aku ngga sanggup

**

“fy, lo kemana sih gue hubungin nomer lo ngga aktif. Gue khawatir sama lo fy. Please hubungin gue.” Kata rio sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.

“yo…” tiba-tiba suara lembut itu menyelinap masuk ke kamar Rio. Rio menoleh, yang di dapatinya bukan Ify, melainkan sivia dan Gabriel. “Ify… masuk rumah sakit.”

**

Aku tak tau kenapa sekarang aku berada disini. Aku tak tau kenapa badanku terasa sakit yang ku ingat aku berlari sekencang mungkin agar dapat mengelak dengan takdirku. Tapi nyatanya? Tubuhku lemas. Tak berdaya. Dan berada dirumah sakit. Aku menengok ke kiri , ada sivia dan iel sedang duduk di sofa. Mereka terdidur pulas dengan posisi sivia di pangkuan iel. Lalu aku menengok ke sebelah kanan, ku dapati seorang pria yang tampak taka sing lagi untukku. Pria yang membuatku ingin mengelak pada takdirku. Pria yang membuatku jadi pengecut. Rio. Ya, rio.

Air mataku pun jatuh membasahi pipiku. Isak tangisku terlalu keras sehingga Rio terhaga dari tidurnya. Aku buru-buru mengusap air mayaku.

“ify. Udah bangun? Lo gapapa kan?” Tanya Rio panik.

“gapapa kok yo. Kiat nih, udah sehat kan? Hehe.”

“fy, abis nangis?” Tanya Rio. Aku menggeleng.

“beneran?”

“iya Rio beneran. Eh iya yo. Aku kenapa sih bisa ada disini?”

“kamu ngga inget?” lagi-lagi aku menggeleng.

“kata sivia, kamu ketabrak mobil yang pengemudinya lagi mabuk, fy.”

“oh gitu…”

“kata dokter kamu boleh dibawa pulang kok kalo udah sadar.”

“oh ya? Cepet banget asik asik. Cepet bilang ke dokter gih. Biar gue bisa cepet pulang.”

Rio tersenyum. Mungkin ini terakhir kalinya dia bisa tersenyum padaku. Rio beranjak dari kursi dan kemudian membangunkan sivia dan iel, mengisyaratkan sesuatu, Rio lalu keluar memanggul dokter.

Sivia mendekatiku.

“Fy, gimana keadaan lo?” Tanya iel ragu-ragu.

“gapapa kok.”

“oh… eh ya fy. Lo udah coba bilang Rio?”

“gue ga bisa. Belom siao.”

“tapi fy, bisa ga bisa, siap ga siap, kamu kudu bisa bilang ke Rio. Demi kebaikan kamu, rio dan kalian.” Lanjut Sivia.

“Lo tau vi?” tanyaku heran,

Sivia mengangguk. “tadi malem di certain iel, fy.”

“huh, gue benr-bener belum siiap ngeliat di—”

Rio masuk dengan dokter. Lalu melirik kearah kami bertida yang tengah memasang muka sedih.

“Fy, kita udah boleh pulang. Sekarang” ucap rio sambil mendekat ke arahku.

“tapi anda harus ingat, istirahat total ya dirumah.”

“oke dok hehe.”

Dokterpun berlalu dari ruanganku.

“Fy lo ganti baju di kamar mandi gih. Terus biar sivia sama iel nganterin lo kebawah. Biar gue yang beresin.”

Aku hanya mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi. Mengganti pakaian lalu di bopoh sivia dan iel keluar. Rio asik membereskan baju idy. Tiba-toba secarik kertas jatuh. Rio memungutnya dan membaca kertas itu dnegan teliti,

**

“Rio lama banget.” Gerutu Sivia.

“Iyatuh. Ngapain aja coba.” Lanjutku.

“Bentar gue telfon.”

Tutt….tuttt…. nomor yang anda tuju tidak dapat mener—

“di reject, Fy!”

“Kita samperin aja.”

Aku dan iel mengangguk.

**

Rio menangis membaca kertas itu. Badannya tak mampu berdiri. Dia duduk di lantai meratapi nasipnya kini.

Tiba-tiba aku, sivia dan iel masuk.

“Yo, lo kenapa?” Tanya Iel.

“kenapa? Kenapa gak ada yang jujur sama gue! Kenaoa?” tangis Rio semakin pecah.

Aku melihat Rio menggenggap sebuah kertas yang aku tulis setelah aku beanjak dari rumah iel.

“Yo, gue udah mau ngomong sama lo tapi gue ga bisa. Gue ga sanggup.”

Rio berdiri lalu berlari sekencang-kencangnya. Iel mengejar Rio, sedangkan aku dan Sivia memungut kertas tersebut.

‘ya tuhan. Aku dan dia bersaudara, cobaan apa lagi yang menimpaku? Sudah cukup orangtuaku yang pergi. Ternyata, orang yg aku cintai, Rio, adalah adik kandungku. Tuhan, ajari aku untuk menerima semua ini. Ajari aku untuk bisa melupakan Rio.’

Aku tercengang dan merutuki kebodohanku itu.

**

“Yo tunggu!”

“apasih yel? Kenapa lo nyembuntiin ini semua? Lo pasti tau kan semua ini?” bentak Rio.

“iya, pertama sorry, gue ga mau ikut campur urusan lo sama ify. Yang kedua, gue tau, karna gue yang kasih tau.”

“maksud lo, yel?”

“iel menceritakan semuanya pada Rio.

**

Sudah sebulan berlalu aku tak bertemu Rio sejak insiden di rumah sakit tersebut. Padahal, 3 hari lagi ulang tahun ku. Seberapa lama lagi aku menahan rasa rindu yang tak dapat terbendung lagi ini??

**

“happy birthday ipoooyy!!” sahut sivia.

“happy birthday my cousin!” kata iel sambil mengacak-acak rambutku.

‘makasih SIVIELL!!!” aku pun memeluk mereka.

Tepat jam 12 malam mereka membangunkanku. Mereka menyodorkan kue tart bertuliskan ‘Happy Sweet 20 Ify. From : siviel’

“fy, tiup lilinnya!” kata Sivia. Aku mengangguk.

“jangan lupa make a wish ya!”

‘ ya tuhan, aku ingin dia menerima takdir ini. Emang berat, tapi dia harus coba.’

WUSSHHH

Aku meniup lilin itu. Dan mataku menerawang ke sekitar. Tak ada Rio. HUH

**

Tak kusesali cinta itu

Meski cinta tak harus miliki

Akan ku berikan sgala yang terbaik

Hingga tiba saatnya nanti

Aku terbangung. Jam 8 pagi sekarang. Sivia masih ngorok sedangkan iel udah ga ada. Aku turun kebawah berniat mengambil minum. Tiba-tiba gelap. Ada seseorang yang menutup mataku. Aku reflek berteriak. Tapi dia bicara lirih. ‘jangan teriak” katanya. Aku menrut agar aku tak di apa-apakan oleh nya.

Dia membawaku entah kemana. Aku ingin sekali berteriak, tapi mulutku di sumpel dengan kain. 15 menit kemudian dia menarikku keluar mobil lalu menggeretku keluar sampai aku merasa aku berjalan di tengah batuan terjal. Dimana ini??

Perlahan mata dan mulutku di buka. Aku terpaku melihat ini. Ini di taman apsari, ya? Gak special sih, tapi sejuk banget. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Rio yang sedang tersenyum. Aku kaget.

“Rio?”

“Iya Fy. Ini gue. Maaf fy, sebulan gue ilang. Gue nenangin diri. Dan hari ini gue minta sama lo. Di hari ulangtahun lo, gue mau kita jalan sebagai Rio dan Ify bulan adek kakak. Cuma buat hari ini. Dan ini yang terakhir. Lo mau?”

Aku mengangguk.

“Happy birthday ify. Love you.” Kata Rio sambil memelukku.

“Thanks Rio. I love you too.” Jawabku lirih.

“jalan-jalan yuk.”

“kemana??”

“ke THR!!” #hahaha ga elit blas :p wkwkwkwk ngakak poooollll# #ojok di bayangno yo rek wkwkwk#

Aku tersenyum. Sudah bertahun-tahun aku jarang mengelilingi Surabaya.

**

Kucoba mendekatimu

Ungkapkan rasaku

“Riooo naek itu ya!!” ajakku.

“iya fy.”

Kami berdua pun menaiki roller coaster. Jerit-jerit . aku yang takut reflek memeluk Rio.

“andai kita ditakdirin buat sama-sama terus, yo.’ Batinnku.

**

Namun kuakui tak seharusnya

Kujatuh cinta padamu

Karna kutau

Kita tak mungkin bersatu

“gimana fy? Seneng hari ini?” Tanya Rio sambil memakan es krimnya.

“seneng dong. Thanks ya yo.” Kataku.

Kami pun sampai di lapangan skateboard di belakang delta. Hari ini skateboard’terz sepi. Ga kaya biasanya.

“yo es krimnya. Hihi.”

“kenapa fy?”

“nempel di muka lo.”

“hah? Aduh mana fy? Ntar cakepnya gue ilang dong.”

“pedee! Itu looh!”

“ini??”

“bukan! Sini deh gue bersihin.”

Aku membersihkan bibir Rio yang celemotan karena es krim. Tiba-tiba Rio menghentikan tanganku. Wajahnya semakin mendekati wajahku dan….

CUP

Sebuah ciuman hangat mendarat di pipiku.

“RIOOOO!!!”

“Asik asik haha nambah dong hahaha.” Rio tertawa geli sambil berlari.

“ga boleh!!” kata ku dengan nada tinggi dan muka merah padam.

“piss fy!”

Kami terdiam muka kami sama-sama merah. Tiba-tiba Rio menggandeng tanganku dan menatapku lekat-lekat.

“Fy andai tiap hari bisa kaya gini.” Sahut Rio. “tapi ngga papa deh. Kita juga bisa sama-sama walaupun Cuma sebatas adek-kakak. Iyoto iyoto iyoto. Hehehe.” Lanjutnya lagi sambil tertawa.

Aku tersenyum kecil dan mengangguk.

“Ify, sekarang gue minta.. ajarin gue buat anggep lo sebagai kakak, fy.”

Aku mengangguk lagi. “Iya, yo. Ajarin gue juga ya. Biar bisa anggep lo sebagai adek gue.”

Kami pun berpelukan. Masih berpelukan sebagai ify dan rio tentunya.

**

Kucoba mendekatimu

Ungkapkan rasaku

Dan kau membalas itu

Tak terkira bahagia hatiku

Sejak saat itu, aku tinggal di rumah Rio. Menemani Rio yang dulunya kesepian. Dan aku senang, masing-masing dari kami dapat menerima takdir ini.

“Kak ifyy!!!” panggil Rio

“aduh masih pagi nih. Apaan sih treak-treak?”

“pagi? Udah jam 8 ini kak. KULIAH!!”

“oiya lupa.”

Rio tersenyum kecil. Lalu berjalan ke garasi memanasi motornya.

Yah, tahun ini aku berkuliah dan menginjak semester 5. aku dan Rio sama-sama berkuliah di universitas airlangga jurusan kedokteran.

Gakk ada lagi rahasia-rahasiaan dari kita. Sekarang, Rio tengah PDKT dengan tetangga baru kami, namanya Agni. Sedangkan aku tengah berpacaran dengan Debo. Rasa sedikit cemburu mungkin emang ada. Tapi, aku adalah kakak Rio yang gak berhak cemburu. Aku hanya kakak yang nggak ingin ngelihat adekku terluka. Asal dia bahagia, aku juga bahagia.

**

Tak kusesali cinta itu

Meski cinta tak harus miliki

Akan ku berikan sgala yang terbaik

Hingga tiba saatnya nanti

Kucoba mendekatimu

Ungkapkan rasaku

Namun kuakui tak seharusnya

Kujatuh cinta padamu

Karna kutau

Kita tak mungkin bersatu

Kucoba mendekatimu

Ungkapkan rasaku

Dan kau membalas itu

Tak terkira bahagia hatiku

Namun kuakui tak seharusnya

Kujatuh cinta padamu

Karna kutau

Kita tak mungkin bersatu

Karna kutau

Kita tak mungkin bersatu

( Evolet - Cinta Yang Salah )

THE END

gimana? panjang, geje, ga jelas. sorry ya huhuahwuahuwhauhwuahwu . semogaaa suka =P

Dia milik sahabatku

sambil dengerin lagunya NewDays yang Dia Milik Sahabatku boleh kali yaa?? kalo ngga mau ya ngga apa-apa. wwkwkwk

CEKIDOT >>>>

***

Kau tikam hatiku di saat ku terluka

Mengenal dia pujaan mimpiku tercinta

Kau ingin pertemukan hatiku dan hatinya

Tapi ternyata kau sendiri mengharap cintanya

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

Hei namaku Alyssa Saufika Umari. Tapi cukup panggil aku Ify. Aku seorang mahasiswi kedokteran yang belum lama menginjak bangku kuliah. Aku seorang gadis jakung yang cungkring dan memakai behel.

Dan kenalin, dia Shilla, atau Ashilla Zahrantiara, sahabatku. Dia adalah seorang gadis manis yang anggun, baik hati, cantik, idaman para pria deh! Aku dan Shilla bersahabat sejak SD. Aku dan Shilla tentu memiliki banyak kesamaan. Tapi perbedaan itu juga ada. Bahkan kami sering bertengkar karena hal hal sepele.

Aku dan Shilla sama-sama memakai behel. Aku dan Shilla sama-sama memiliki rambut panjang hitam bergelombang. Aku dan Shilla sama-sama memiliki hidung mancung. Sama-sama pandai menyanyi, sama-sama tinggi dan sama-sama memiliki tipe cowok yang sama. Tapi untungnya, kami nggak pernah suka sama 1 cowok :p

Aku dan Shilla seperti mempunyai ikatan batin. Entah mengapa setiap shilla sedang ada masalah aku bisa merasakannnya. Sebaliknya pun begitu. Meskipun aku dan shilla sering berselisih paham, toh takkan membuat persahabatan yang kami bangun selama 12 tahun ini rusak begitu aja.

**

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Hey, siapa dia?

Keadaan sekiatarku pun menjadi slow motion. Entah mengapa, angina berdesir pelan, menyapu wajahnya yang tampan itu. Membuat rambutnya sedikit bergoyang. Dan senyum itu…. Senyum terindah yang pernah ku temui!

Aku terdiam dan terpaku melihatnya. Dia seperti menghipnotisku. Aku terus mengikuti kemana arah dia pergi. Sampai-sampai aku melihatnya masuk kekelasku. Hey, apa ku lihat? Kekelasku? Nggak salah?

Aku meraih lengan shilla yang sedari tadi sibuk ngobrol dengan Kak Gabriel, salah satu kapten basket di kampus. Lalu menarik shilla ke dalam kelas.

“kamu kenapa sih Fy? Selo ajaaa.” Kata shilla.

Aku tersenyum dan menghiraukan ucapan Shilla sambil memandangi paras indah cowok tampan yang mengalihkan duniaku. Dia duduk tepat di depanku dan Shilla. Sepertinya, dia mahasiswa baru.

“Shill, liat deh, cakep banget kan. Aaah aku rasa aku suka sama dia deh.” Pekikku pelan sambil tersenyum kea rah Shilla. Shilla menyeritkan dahinya sambil memandangi cowok itu. Lalu bergumam pelan. “Biasa aja.”

“Tumben amat! Biasanya kan selera kita samaan, Shill.”

“Iya, tapi entah kenapa dia…… bukan tipe aku kali ini.”

Aku hanya manggut-manggut mengerti. Tapi mengapa, entah perasaan ku saja yang terlalu peka atau apalah, Shilla menekankan kalimat ‘bukan tipe aku kali ini’. Dan rasanya tuh kaya….. kecewa.

**

Aku mengetahui namanya. Namanya Mario Stevano Aditya. Mahasiswa pindahan dari Jogja. Dia memiliki tubuh jakung, sedikit hitam, memakai kacamata hitam dan rambut cepak. Gayanya cool. Orangnya juga friendly banget. Masa nih ya, baru 2 kali pertemuanku dengan dia, dia udah langsung akrab gitu sama aku dan Shilla.

Kami sering ngobrol. Ngobrol apa aja. Sampai aku yakin, bahwa aku bener-bener suka sama dia. Eh nggak nggak! Bukan suka lagi, tapi sayang, Setiap dekat dia, aku selalu deg-degan. Setiap liat dia sama cewek lain, aku selalu geram, kesel, marah, ahh campur aduk deh!

Tapi entah mengapa, rasa yang bisa di bilang ‘cemburu’ itu juga sering menghinggapi ku walaupun yang sedang bersama Rio itu sahabatku, Shilla. Dan waw, apakah aku salah lihat? Shilla sering sekali mengeluarkan senyum manisnya, dibubuhi dengan pipi merah merona. Apakah ada yang aneh, sobat? Apakah aku yang terlalu menyukai rio sampai mencurigai sahabatku sendiri kalau sahabatku ini akan merebutnya?

Segera ku tepis fikiran itu. Dan kembali berkutat dengan buku biologi yang sedari tadi tergeletak manis di mejaku.

**

Pagi ini, aku datang lebih awal ke kampus. Dan Shilla, yang semalam begadang pun tak mampu bangun sehingga aku terpaksa meninggalkannya. Meski waktu menunjukkan pukul 8 pagi, sedangkan kelasku dimulai pukul 9.30 . masih ada beberapa jam bukan untuk sekedar menongkrong di café Vanlatte, café yang biasanya ku tongkrongi dengan Shilla, Rio dan sahabat baruku, Sivia.

Aku berhenti mengaduk-ngaduk capucchinoku saat ku lihat Sivia melambai ke arahku. Lalu tak lama kemudian menghampiriku.

“Hey, fy! Boleh gabung?” tanyanya.

Aku mengangguk sambil tersenyum ke arahnya.

“Beneran? Haaaa asik… eh eh boleh Tanya nggak?” Tanya sivia sambil menarik tenpat duduk di sampingku.

“boleh, apa?”

“kamu suka sama rio, ya?”

Jantungku berdesir ketika nama itu disebut. Lalu aku menoleh kea rah Sivia sambil mengangguk.

“polos amat sih kamuuu. Jadi gemes deh, hihi. Cepet bilang sana, nanti di embat sama Shilla, loh.” Kata Sivia.

“di ambil Shilla? Maksudnya?”

“iya,, di ambil Shilla. Bukannya Shilla juga suka sama rio ya? Setau aku aja sih Fy. Soalnya ku perhatiin, shilla selalu salting di depan Rio. Terus nih ya, pipinya bisa merah gituu kalo dekt sama Rio.”

Apa yang dibilang Sivia memang ada benarnya. Kenapa aku terlalu polos untuk bisa menebak bahwa sahabatku itu menyukai Rio? Bahkan sivia, bisa menebaknya.

“iya kan, Fy? Shilla suka kan sama Rio?” Tanya Sivia sekali lagi karena aku yang tak kunjung menjawab,

“aku ngga tau, siv. Nanti aku tanyain deh hehe.”

Dan kalimat Sivia terus terngiang di kepalaku. ‘SHILLA JUGA SUKA SAMA RIO’ apa iya??

**

From : Rio

Besok aku tunggu kamu di café biasa. Aku pengen ngomong sama kamu. 4 mata aja ya.

Yaah, begitulah pesan singkat yang Rio berikan padaku beberapa menit yang lalu. Yang membuat jantungku di pompa. Yang membuat aku terus merekahkan senyumku. Yang membuat aku berulangkali membuka pesan singkat itu. Yang membuatku berulang kali menepuk-nepuk pipiku.berharap bahwa itu bukanlah mimpi.

YEEY RIO AJAKIN AKU PERGI! BERDUA! BAYANGIN! Hahaha :D

Saking senangnya, tanpa babibu aku langsung berlari keluar kamar, menuruni anak tangga, memutari rumah, membuka pintu, dan pergi keluar rumah. Tepatnya ke rumah Shilla, yang hanya berjarak 2 rumah dari rumahku.

Aku langsung masuk kedalam rumahnya. Karena sudah kebiasaanku seperti itu. Ku lihat Shilla terduduk di bangku taman rumahnya. Dia sedang TERISAK!

Aku perlahan mendekat. Dan sejurus kemudian, nafasku tercekat mendengar pernyataan yang sShilla lontarkan barusan.

“aku benci ify. Aku benci kenapa rio milih ify dari pada aku. Aku benci kenapa semua usahaku ini sia-sia. Aku benci mereka. Aku benciiiiii.” Kata shilla sambil menangis.

Aku memelototkan mataku. Apa yang shilla bilang? Apa aku salah dengar? Ngga mungkin kan??

Kakiku terantuk batu, dan alhasil membuat Shilla menoleh kearahku. Keadaan memang cukup sunyi, hanya terdengar tangisan Shilla. Dan aku dengan cerobohnya membuat Shilla menoleh ke arahku.

Beberapa saat kemudian Shilla berdiri. “Fy, jangan bilang kamu denger semua. Fy maafin aku.fy ak—.”

Entah mengapa airmataku menetes tak beraturan. Dan tanah memaksa kakiku untuk berlari. Berlari sekuat tenaga tanpa menoleh lagi kea rah shilla.

Tuhan, ini mimpi kan?

**

Tangisku mulai reda saat aku benar-benar sadar bahwa entah untuk yang keberapa kali handphoneku berdering. Ini jam 3 sore, sehari setelah kejadian itu. Entah sebodoh apa aku, sampai menangisi ini sehari semalam.

Ku lirik handphoneku, 12 sms masuk dari Shilla. Dan 4 sms masuk dari Rio. Serta 10 misscall dari Rio dan 23 misscall dari Shilla. Aduh, apa apa an sih??

Isi sms Shilla sebagian besarnya minta maaf. Dia bilang ngga maksud bilang gitu. Dia bilang dia khilaf karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia bilang kalau dia ngga sungguh-sungguh benci padaku.

Bukan itu shill, bukan itu yang aku sedihin. Aku sedih, kamu ngga mau jujur sama aku =(

Sedangkan Rio hanya 4 sms. Yang isinya menanyakan keberadaanku, juga ketidak hadiranku di café vanlatte. Astaga! Aku ada janji pada Rio untuk menemuinya, jam 10 pagi di café vanlatte. Dan lihatlah, sobat! Ini jam 3 sore dan aku masih benar-benar berantakan! Aku bergegas mandi. Lalu mengirim sms pada Shilla dan Rio.

To : shilla, rio

Aku tunggu di café vanlatte jam 5 sore. See yaa.

**

Ku relakan dia wahai sahabatku bila kau sungguh mencintainya

Tolong jaga dia wahai sahabatku

Jangan sampai hatinya terluka seperti hatiku

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

Aku duduk di pojok café vanlatte. Sesekali melirik jam tangan. Masih jam 4.30. dan aku kembali merapikan dandananku. Semoga ngga kacau.

Klinting klinting

Suara lonceng kecil di atas pintu café berbunyi. Dan itu pertanda pelanggan masuk. Aku mengedarkan pandanganku ke pintu. Dan benar saja, rio, dengan gaya cool seperti biasa menghampiriku sedikit tergesa-gesa.

“kamu kenapa? Aku sms tadi kok ngga di bales??” tanyanya khawatir.

“aku ngga apa apa kok. Tadi ada masalah gitu. Maaf ya yo, hehe.”

“oh gitu, iya ngga apa-apa. Oia, mata kamu kok sembab? Abis nangis?” Tanya Rio sambil memperhatikan mataku.

Aku menggeleng pelan.

“fy, sebenernya aku sayang kamu, fy. Aku pengen kamu jadi cewe aku.”pinta rio to the point.

Aku berfikir sejenak, lalu menghembuskan nafas lega karena bunyi lonceng itu terdengar kembali.

Klinting klinting

Tak lama setelah Rio datang, ku lihat shilla yang mengenakan kaos warna crem dan jaket warna putih masuk dan melangkah menuju tempatku duduk sekarang.

“hey fy. Sory aku telat ya.” Tanya nya sambil duduk di depanku.

Aku menggeleng. “belum kok hehe.”

“kok ada shilla, fy?” Tanya rio heran.

Huh. Aku mendesah pelan. Sekarang waktunya! Aku menggenggam tangan rio dan shilla. Menyatukannya. Sedangkan mereka berdua tampak salting dan sedikit menolak. Sehingga aku harus bener-bener memaksa mereka.

“rio, maaf ya, ify harus jawab nggak buat kamu. Ify ngga mau nyakitin hati sahabat ify, Shilla. Shilla lebih menyayangi kamu, yo. Bukan aku.”

“tapii fy—.”

“ssst, udah. Aku ngerestuin kamu sama rio kok shill. Dan kamu, yo. Kamu jaga sahabat aku baik-baik ya.”

“fy, kamu tau kan kalo aku tuh sayangnya sama kam—.”

“aiiihh, udah deh, masih mending ku kasih shilla. Daripada ku tolak, terus ngga aku kasih pengganti? Hehe.” Potongku. Perih…

“hm aku mau pergi dulu. Yo, inget pesenku tadi!” ancamku ke Rio.

Rio (mungkin) sedikit cengo. Shilla reflek memelukku. “thanks ify. You are the best. Sorry ya. Gara-gara aku, huh.”

Aku melepaskan pelukannya. “iya dear. Aku sayang kamu, aku ngga mau prsahabatan kita rusak gara-gara cowo. Dan…. Aku pengen kamu yang jadian sama Rio. Bukan aku. Hehe.”

“sekali lagi thanks ya fy.”

Aku mengangguk mantap dan pergi meninggalkan mereka.

**

Tetap tersenyum walau hatiku terluka

Menjadi bijaksana dengan pengorbanan cinta

Tenang sahabatku aku takkan membunuhmu

Bisikan hatiku mencoba tuk memaafkanmu

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

Aku duduk paling depan di acara pertunangan Shilla dan Rio. Ahh, sudah 1 tahun yang lalu ya? Ck. Aku sampai tak sadar. Bahwa jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku masih mengharapkannya.

Ahh, ify. Apa kamu begitu kejam, sehingga menyembunyikan ini semua dari shilla? Menyimpan perasaanmu ini diam-diam pada pria yang sekarang menjadi tunangan sahabatmu itu? Ahhh..

“Fy, nyanyi lagu buat aku dong. Special buat aku sama Rio.” Pinta Shilla.

Aku mengangguk. Lalu ku bisikkan sesuatu pada sivia yang kebetulan menjadi MC. Lalu aku duduk di atas bangku panjang grand piano berwarna putih tersebut. Dan mulai bersiap memainkan lagu yang sekarang, mungkin, mewakili persahabatanku.

Kau tikam hatiku di saat ku terluka

Mengenal dia pujaan mimpiku tercinta

Kau ingin pertemukan hatiku dan hatinya

Tapi ternyata kau sendiri mengharap cintanya

Ku relakan dia wahai sahabatku bila kau sungguh mencintainya

Tolong jaga dia wahai sahabatku

Jangan sampai hatinya terluka seperti hatiku

Tetap tersenyum walau hatiku terluka

Menjadi bijaksana dnegan pengorbanan cinta

Tenang sahabatku aku takkan membunuhmu

Bisikan hatiku mencoba tuk memaafkanmu

**

THE END

Hehehe jelek ya? Emang. Kan buatnya agak kesel soalnya cerpen init uh seharusnya aku post kemaren. Eeehhh ke close tanpa save tanpa sengaja kemarin hiks hiks. Kasian amat yee nasip gue.

Dan asal kalian tau. Ini ngarang. Spontan lo=)) gara-gara keinget masalalu gitu ahikkk :’)

Kalo feelnya ngga dapet, yaudah. emang saya yang salah karna saya ngga jago ngebuat feel itu dapet wkwk mbingungi. yasud ya dah. tinggalkan jejak ya =))

Maaf, gue cinta sama lo

hello saya kembali lagi menulis sebuah cerpen yang saya jamin ga jelas.(tiap bikin cerpen juga ga jelas tauu!!!!) tapi karena tanggung udah di tulis sampe 18 halaman, yaudaahhh saya lanjutin aja. pada baca yah. kalo ga baca ya gapapa sih. wkwkwkwk.

Hope You Like It !!

*****************

Maaf, gue cinta sama lo.

Pagi yang cerah, membuat orang-orang di kompleks ‘Orchid’ melakukan aktifitas mereka seperti biasanya. Hari ini hari minggu, hari dimana orang-orang memilih untuk bangun lebih siang daripada hari-hari biasanya. Tak terkecuali Ify.

Gadis bernama lengkap Alyssa Saufika Umari yang terkenal sebagai seorang pianist muda di Art International School, sekolah tempatnya menuntut ilmu. Gadis berbehel ini selain pandai memainkan jari-jarinya di atas tuts piano juga pandai bernyanyi. Waktu SMP, dia pernah berkiprah di dunia tarik suara dan menghasilkan dua buah album. Namanya langsung melambung, apalagi kebolehannya bermain piano.

Selain sebagai penyanyi dan pianist, dia juga terkenal sebagai model. Wajahnya sering mampir di majalah remaja. Tapi ia meninggalkan kesuksesannya itu karena ingin lebih focus mengejar cita-citanya yang sebenarnya menjadi seorang dokter.

Ify yang baru berumur 18 tahun itu kini masih menutupi dirinya dengan selimut terbal bergambar doraemon. Sinar matahari yang menembus dari ventilasi kamar ify pun tak membuat gadis berdagu tirus ini terganggu. Toh, ini hari minggu. Fikirnya.

Tok tok tok

Terdengar ketukan pelan dari luar pintu kamar ify. Karena ify yang tak menyahut, akhirnya seorang laki-laki bertubuh jakung yang mukanya tak beda jauh dari ify masuk ke dalam kamar.

Pelan-pelan dia duduk di atas kasur ify dan menggoyahkan tubuh ify pelan, “Fy, bangun Fy. Sampe kapan lo tidur mulu? Udah jam 9 nih.”

Ify melengos dan melanjutkan tidurnya. Laki-laki berkacamata hitam tadi juga tak beranjak dari posisinya. “Woy, lo lupa ada janji sama Agni?”

Ify membuka matanya. Cepat. Mungkin kaget. “Astaga gue lupa! Ampun deh..” pekik Ify sambil beranjak dari tidurnya dan membuka lebar-lebar jendela kamarnya.

“dasar, udah gede masiiih aja kaya anak kecil.” Cibir Riko, kakak Ify.

“ngaca kak, lo juga masih kaya anak kecil kali. Umur mau masuk kepala dua, tapi film favorit nya aja masih Shinchan. Huuuu,” ejek Ify sambil menjulurkan lidahnya.

“beeh, buka aib gue aja lo. Udah sana, ntar gue juga mau keluar. Sekalian bareng sama lo gituuu,”

“ohh, yaudah. Gue mau mandi dulu. Pergi sono. Hus hus,” usir ify sambil terkekeh.

Riko berlalu dari kamar ify sesaat setelah berhasil mendaratkan guling ke wajah ify.

*

Berbeda dengan laki-laki jakung yang satu ini. Sejak jam 6 pagi tadi dia sudah berada di taman ini. sekedar berjogging-jogging ria dan menikmati hawa sejuk di taman kompleks ini.

Namanya Mario, Mario Stevano Aditya Haling. Seorang laki-laki berkulit sedikit gelap dan berkacamata tanpa frame yang biasa di panggil Rio ini memang hobby berolah raga. Dia seorang pemain basket terkenal di sekolahnya, Art International School. Seorang pelajar kelas XII yang namanya sudah malang melintang di dunia entertainment.

Selain pemain basket, dia juga seorang penyanyi dan actor. Beberapa belas FTV pernah ia bintangi. Bahkan bermain dengan actor senior pun pernah ia jalani. Dia sangat ramah pada siapa saja. Dengan sebuah komuniti yang selalu mensupportnya, RiSE, dia akan terus berkiprah di dunia entertainment.

Dia penyanyi, sudah mengeluarkan 2 album. Salah satu hits nya yang paling terkenal adalah Rindukan Dirimu. Hanya dalam kurun waktu seminggu, lagu itu menjadi TOP HITS RBT salah satu provider. Dia juga pandai bermain gitar.

Rio tengah duduk di sebuah bangku taman. Seorang gadis kecil menghampiri Rio yang duduk sendiri disitu.

“kakak, kakak penyanyi itu yah? Kak Rio?” Tanya nya sambil mendekati Rio.

Rio menoleh ke arahnya sebentar, lalu tersenyum manis kea rah gadis itu. “iya, dek. Kok kamu tau?” Tanya Rio balik.

“tau dong kak, aku kan RiSE. RiSE sejati tau nggak. Hehe. Kak, boleh minta foto bareng nggak?”

Rio mengangguk kecil, “boleh dek.”

Anak kecil itu pun mengambil handphone dari balik saku jaketnya. Dan memasang gaya di samping Rio.

Ckrek.

“makasih ya kak,” gumam anak kecil tersebut.

“iya, dek. Nama kamu siapa?”

“Acha, kak. Acha balik dulu ya kak. Jangan lupain acha ya hehe. Okee.” Acha berdiri dari duduknya dan mulai berjalan kedepan.

Rio tersenyum (lagi). “Oke Acha, sampe ketemu lagi yaaa,”

Acha menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya. Rio hanya tersenyum sendiri sambil geleng-geleng kepala, “ada-ada aja.”

‘hidup ini hidup yang penuh bahagia

Tetap semangat dan jangan putus asa’

Ringtone sms Rio berbunyi. Rio merogoh handphone-nya dan menekan tombol hijau di handphonenya.

“ya, hallo?”

“oh, iya Ag. Gue kesana, sip. Bye.”

Klik.

Rio memutus sambungan telefon dan berlari-lari kecil meninggalkan taman trsebut.

*

“lo di jemput jam berapa?” ujar Riko sambil menginjak pedal rem mobilnya.

“ga tau kak, liat nanti aja. Yaudah ify keluar ya. Ati-ati kaaaak, selamat berkencan dengan kak Shilla,” ujar ify sambil membuka pintu mobil Riko.

Riko hanya tersenyum. Lalu kembali menginjakkan gas mobinya dan beranjak dari café tempat ia menurunkan ify.

*

Dengan senyum mengembang, ify menghampiri kawan lamanya, Agni. Agni Tri Nubuwati. Seorang sutradara muda, seangkatan dengannya di sekolah. Namun perbedaan kelas dan jurusan yang membuat kedua orang tersebut jarang berkomunikasi.

“agniiiiiii…!!” pekik ify girang saat melihat sobatnya dari awal masuk SMA ini tengah duduk ditemani secangkir vanilla latte.

“ify!” agni bangkit dari duduknya dan memeluk ify.

“agniiiii apa kabar lo? Huaaaa lo sibuk banget sih, ngalah-ngalahin artis aja lo hehe,” ify terkekeh dan melepas pelukan agni. Lalu dia dan agni sama-sama duduk di kursi tersebut.

“gue baik, Fy. Hehhe, iya gue sibuk sama tugas gue nih. Belepotan. Gue butuh bantuan lo,” ujar agni serius.

“apaan ag?”

“gue mau, lo main di film pendek gue, ya. Gue ada tugas bikin film pendek gitu. Mau gue ikut sertain di LA LIGHTS INDIE MOVIE juga sih. Lo bisa kan bantuin gue?”

Ify tersenyum, “apasih yang gak buat lo, ag. Ahaha. Kapan mulai mainnya?”

“beneran? Huaaa ify baik banget deh, hahaha. Mainnya tuh liburan besok. Jadi sebulan kita full shooting.” Jelas agni bersemangat.

“gue doang yang main?”

Agni menggeleng, “ada lawan main lo kok. Anak SMA kita juga kali. Namanya—.”

“ag, sorry gue telat!” ujar seorang laki-laki berkacamata tanpa frame, berjaket hitam di padu dengan kaos warna putih dan celana jeans hitam. Tak lupa sepatu sneakers warna putih.

Ify menganga sedikit melihat laki-laki di depannya ini. Keren banget. Batinnya.

“iya, gapapa kok. Duduk, io.” Ujar agni sambil menepuk-nepuk tangannya di tempat duduk tepat di sebelahnya.

Rio pun duduk di sebelah agni dan melepas jaketnya. “ada apaan ag?”

Ify terbangun dari lamunannya ketika agni sengaja menyenggolnya. “kenalin dulu, ini Ify. Fy, ini Rio. Temen gue. Itu loh, artis baru hehe.” Ujar agni sambil terkekeh.

“apaan sih lo Ag. Engga ah. Hey, gue Rio, lo Ify pianist itu?” Tanya Rio pada ify.

Ify mengangguk, oh jadi init oh penyanyi baru yang namanya di puja-puja para cewek? Pantes aja, cakep banget. Batin ify. “iya, hehe. Salam kenal.” Ujar ify sambil tersenyum.

“sekarang, karena udah pada ngumpul gue langsung aja yah. Kalian berdua bakalan gue rekrut buat main di film pendek yang berdurasi 1 setengah jam puny ague. Disitu, kalian jadi pasangan gitu. Nah, shooting di mulai tanggal 12, selama sebulan mungkin kalian bakalan shooting. Yaaa lumayan kan, liburan, ngisi waktu kosong.”

“dan gue ga mau tau, buat Rio, lo harus kosongin semua jadwal lo selama liburan besok!” lanjut agni.

“buset, jahat amat. Iya iya, buat sobat kecil gue, gue turutin deh.”

“asik, kalian berdua emang sohib gue banget deh haha. Yaudah, gue balik dulu, kalian kenalan dulu disini, cari chemistry, kali aja dapet hihi, gue mau nyamperin kakak gue dulu. Bubyeeee.” Agni menyambar tas tangannya lalu beranjak dari café tersebut. Tinggal lah Rio dan Ify berdua disana.

“hmmm… mau kemana lagi abis ini, Fy?” Tanya Rio ditengah keheningan yang mereka ciptakan.

“ngga tau, nih. Ga ada rencana mau kemana.” Jawab Ify seadanya.

“gimana kalo ke mall deket sini aja? Nyari foodcourt?”

“ah, bisa-bisa gue disorot kamera lagi, jalan ama penyanyi terkenal kaya lo. Haha.”

Rio terkekeh pelan. “apaan sih lo. Ya gak lah, haha. Ntar kita bilang ke wartawan kalo lo temen maen gue di film garapannya Agni.”

“hoho, yaudah, yuk.”

Mereka berdua beranjak dari café tersebut.

*

Mereka berdua sampai di sebuah foodcourt. Rio dan Ify duduk bersebelahan. Mereka terlihat sangat akrab walau baru 1 jam yang lalu mereka berkenalan. Ify nyaman bicara dengan Rio, begitupun sebaliknya.

“ohh, jadi lo anak musikk yah? Pantes gue ga pernah liat lo disekolah. Anak lantai 2 ternyata.” Ujar Ify sambil manggut-manggut.

“yap, dan gue juga ga pernah liat lo. Lo anak teater sih, gue mah ga sempet ke lantai 3. Hehe.” Rio nyengir sambil meminum jus anggur yang baru di pesannya.

“gaya, sok sibuk. Hahaha.”

Tak lama kemudian, beberapa wartawan menghampiri mereka berdua.

“mampus lo.” Lirih Ify sambil memegang dahinya.

“nyante aja. Gue atasin.” Ujar Rio sambil tersenyum .

4 orang wartawan mendatangi Rio dan Ify.

“Rio rio, lagi jalan sama siapa?”

“Rio, jalan sama Ify? Artis cilik itu?”

“Rio ada hubungan apa sama ify? Pacaran?”

“wooo, santai. Satu-satu yaaa kalo kasih pertanyaan. Iya, ini Ify, pianist, penyanyi dan model beberapa tahun yang lalu. Saya dan Ify ngga pacaran. Cuma jalan. Dan ini juga baru kenal, kok.” Jelas Rio sambil tersenyum.

“tapi kenapa kalian kaya akrab banget?”

“kami berdua akan bermain di sebuah film pendek. Dan sutradaranya adalah sahabat kami, jadi kami berusaha mengenal satu sama lain. Yaaa dengan cara jalan ini.” rio begitu santai menanggapi pertanyaan wartawan. Sedangkan Ify hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk saja.

Satu pertanyaan yang membuat ify sempat membelalakkan matanya.

“apa mungkin ada harapan lebih dari Rio buat Ify? Misalnyaaa, jadian setelah shooting?”

Rio terkekeh, “ya ngga lah. Ada-ada aja. Ya ga fy?”

Huh. Ada-ada aja wartawan ini. seenak jidat aja kalo ngomong. Baru juga kenal. Udah nyimpulin yang macem-macem. Gumam ify dalam hati.

Ify mengangguk menanggapi Rio dan pertanyaan wartawan tadi.

Tak lama kemudian, wartawan beranjak pergi, karena Rio dan ify yang harus beranjak juga dari mall tersebut. Mereka pulang.

Rio mengantar ify sampai ke depan rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Jalanan Jakarta yang macet membuat mereka harus bersabar menunggu sampai 2 jam di jalanan karena terjebak macet.

“Fy, gue minta nomer lo dong” ujar Rio sambil mengeluarkan i-phone nya.

Ify mendiktekan nomornya dan Rio dengan sigap mengetikkan nomor Ify di hapenya. “thanks ya, gue balik dulu. Bye ify.” Rio pun masuk ke dalam mobil BMW sport warna hitam metallic nya dan menghilang di perempatan.

Ify masuk ke dalam rumah dengan senyum merekah di wajahnya.

“hayoooo, ada apa senyum-senyum sendiri?” goda Deva, adik Ify yang sudah duduk di ruang tamu sambil memangku gitarnya.

“eh Dedepp.. gapapa kok dep. Hehe. Gue lagi seneng aja.” Jawab ify sambil duduk di sebelah Deva.

“seneng ato seneeeeng??” goda Riko yang tiba-tiba sudah duduk di depan Ify.

“seneng doang. Ahh udah ah jangan gitu.” Ujar Ify tersipu malu.

Riko menyalakan TV 21 inci di ruang tamu tersebut. Tiba-tiba wajah Ify lah yang ada di dalam TV tersebut.

“Fy Fy, elo tuh!” ujar Riko sambil menyenggol lengan Ify. Ify langsung mendongak dan menatap TV. Rio dan Ify.

“elo pacaran sama RIO???” Tanya Deva sambil menekan nama Rio di dalam pertanyaannya.

“eengga!! Baru juga ketemu tadi! Ah ada-ada aja lo, dengerin tuh beritanya!” gerutu IFy sambil terus menonton TV.

“huaaaaaa kenalin gue sama kak Rio kak!!” ujar Deva antusias.

“aduuuh, emang kenapa sih? Ngefans?”

“BANGET!!”

“buset, haha. Iya entar kalo Rio sms gue, gue kasih nomernya ke elo. Oke Deppp..!! eh Dep, kak, gue mandi dulu. Gerah nih.” Ify beranjak dari ruang tamu dan meninggalkan Riko dan Deva yang masih berkutat dengan TV.

*

Drrrtt drrrtt

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

From : Rio

Malem Fy, lg apa? Sorry kalo gue ganggu.

Rio.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Ify mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi. Lalu tersenyum ketika blackberry Gemini warna putihnya itu berbunyi. Sms dari Rio.

Dengan cepat ify membalas sms Rio tersebut.

*

Rio menengadahkan kepalanya, menatap bintang dari balkon kamarnya. Malam ini bintang bersinar sangat terang. Sambil menunggu balasan sms dari ify, dia sibuk menghitung bintang dan bersenandung lirih.

Akankah kau melihatku

Saat ku jauh

Akankah kau merasakan

Kehilanganku

Tak lama kemudian, Ify membalas sms Rio.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

From : Ify

Hay Yo. Iya, malem juga. Abis mandi nih. Udah mandi lo?

Ga ganggu sama sekali kok =)

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Rio tersenyum sesaat. Entah kenapa, jantungnya dag dig dug saat bersama ify sepanjang siang tadi. Rio pun kembali membalas sms Ify. Sambil kembali bersenandung dan mengambil gitarnya.

Jiwaku yang telat mati

Bukan cintaku

Janjiku s’lalu abadi

Hanya milikmu

Aku pergi dan takkan kembali

Akhir dari cinta yang abadi

Akankah kau melihatku

Di akhir nanti

Jiwaku yang telah mati

Bukan cintaku

Janjiku s’lalu abadi

Hanya untukmu

Tiba-tiba hape Rio bergetar lagi. Rio membalas sms Ify. Hingga larut, Rio sibuk ber-sms ria sambil menikmati terpaan angin malam yang menyejukkan.

*

Hari berganti hari. Ify dan Rio semakin dekat. Hingga sampai tanggal 12, mereka kembali di pertemukan di Surabaya.

Mereka menentukan lokasi di Surabaya karena Agni lebih lama tinggal di Surabaya. Apalagi produser yang bekerja sama dengan Agni adalah orang Surabaya. Namanya Zevana Arga. Produser muda alumni sekolah mereka.

Jam 8 pagi, Ify tengah bersiap di depan cermin. Hari itu hari minggu. Riko melihat gelagat aneh dari adiknya itu.

“mau kemana? Kok nentengin koper??” Tanya Riko setelah melihat barnag bawaan Ify.

“mau ke Surabaya.”

“ngapain?”

“shooting kakakku yang cakeeepp.. Cuma 3 minggu. Gue jamin gue bakal balik ke Jakarta dengan selamat sentausa dan sehat wal afiat. Jasmani dan rohani.”

“buset, lo udah ijin sama papa mama?”

“gak. Ga perlu. Lagian mereka sibuk sendiri. Udah ah. Jangan ribut yee sama Deva. Kasian, ntar kalo dia nangis ga ada yang bisa ngediem-in dia. Hahaha” ujar Ify sambil tertawa.

“iyaiya, mau gue anter??”

“boleh kak. Jam 10 gue take off. Ajak Deva juga, gih.”

20 menit kemudian mereka bertiga menuju bandara soekarno hatta mengendarai Honda freed silver milik Riko.

*

“Rio! Udah siap?” Tanya agni sambil di depan rumah Rio.

“buset pagi amat lo kesini! Beeh.. iya uda siap kok gue. Berangkat sekarang?”

“boleh. Ayok.”

Rio mengunci rumahnya dan menghampiri agni yang berdiri di depan gerbang rumah Rio.

“ga ada orang?” Tanya agni di dalam taksi.

“ga ada. Kak acel lagi di bali. Mama papa lagi di jerman. Yaa, kaya biasa lah.”

Agni hanya manggut-manggut dan tak lama kemudian taksi tersebut melaju kea rah bandara.

*

Jam 9 tepat. Mereka telah sampai di bandara soekarno hatta secara bersamaan. Hanya berselang 3 menit, mobil ify melenggang ke arah pintu keberangkatan domestic.

“hai Fy!” sapa Rio saat melihat Ify muncul dari mobil nya.

“haii..!” ujar Ify sambil melambaikan tangannya.

“huaa kak Rioooooo……!!” pekik Deva sambil berlari kea rah Rio.

“siapa inii?” Tanya Rio sambil menyerngitkan dahinya kea rah Ify.

“adek gue, kenalin, Deva.” Ujar Ify yang lalu menghampiri Rio sambil menyeret kopernya.

“Deva, kak.”

“Rio.” Ujar Rio sambil tersenyum.

“kaaak, minta tanda tangan sama foto bareng dong. Deva ngefans banget sama kakak. Huuuuuh kakak mah keren bangettt! Lagu kakak yang rindukan dirimu itu, wahh Deva hafal banget..!! semogaaa dirimu disana… kan baik-baik saaa—.”

Dengan cepat ify segera menutup mulut Deva agar Deva tak bernyanyi. “sssst, jangan malu-maluin gue lo, saplak!” ujar ify sambil menoyor Deva.

“huaaaaa kak ify jahaat. Deva kan ngefans banget sama kak Rio!! Masa ga bole. Sekali doang kok. Kak rio, boleh kan minta tanda tangan sama foto kan??”

“boleh, kok… “

“tuh kan. Wleeeee,ayok kak foto-foto..” ujar Deva bersemangat.

Deva-Rio pun sibuk berfoto-foto ria.

“kok diem aja, Ag??” Tanya Ify sambil mendekati Agni.

“engga kok. Cuma kurang fit aja. Lo udah bilang sama bonyok lo?”

Ify menggeleng. “engga. Belom. Mereka ada urusan di Manado. Mana sempet ngurusin gue. Ehehe.”

“oohh. Sama aja kaya Rio. Hmmm yaudah ayok kita check in..” ajak agni.

“wooyy Devaa.. udahan ya foto-fotonya, kakak, kakak lo, ama kak Rio kudu check in dulu!.” Ujar Agni sambil menghentikan aktifitas Deva.

“yaah,, huhu. Yudah gapapa. Hehe. Ati-ati ya kak Rio! Kak ify! Kak agni!”

“ati-ati ya Ag, Fy.” Ujar kak Riko pelan sambil melambaikan tangan kepada agni dan Ify.

“bye kak Riko, Deva..!!” koor agni dan ify

*

Perjalanan Jakarta-Surabaya yang menempuh waktu 1 jam mereka lewati dengan saling berbagi cerita. Mulai dari kehidupan pribadi, pengalaman mereka menjadi bintang, asmara sampai semua kesukaan mereka. Tak ada rasa canggung seperti pertama kali bertemu beberapa minggu yang lalu.

Mereka bertiga pun sampai di Surabaya jam 11 siang. Sambil menunggu Zeze, sapaan akrab sang produser, mereka berfoto-foto ria di depan tulisan ‘Juanda International Airport’.

Tak lama kemudian, sebuah Mitsubitsi Lancer bermodif menyerupai mobil balap, berwarna hitam dan bergambar spongebob(?) melintasi mereka. Turunlah seorang gadis berambut panjang dan berkulit sawo matang. Terlihat lebih tua beberapa tahun. Ya, dia Zeze.

“mbak Zeze..!!” pekik Agni saat melihat Zeze keluar dari mobilnya itu.

“Agniiii…. Apa kabar??” ujar Zeze tak kalah semangatnya.

“baik mbak, baik! Ohya, kenalin, ini Ify, ini Rio.”

“ify…”

“rio…”

“Zeze! Senang bertemu kalian. Hmmm kita ke rumah saya sekarang?” ujar Zeze sambil tersenyum.

“yuuuk, gue capek banget mbak!” kata agni.

Mereka berempat pun masuk ke dalam Lancer tersebut.

*

Tak lama, mereka sampai di sebuah perumahan elite di daerah Surabaya Barat. Namanya CitraLand. Di mana hanya ada rumah yang tingkatnya lebih dari 2. Kawasan yang sangat elite. Fasilitas yang lengkap. Sekolah, universitas, bahkan tempat wisata pun ada. Tak ketinggalan mall juga ada.

“maaf ya kalo rumah saya jelek, hehe.” Kata zeze sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“beeeh, gini kakak bilang jelek?? Ini dua kalinya rumah gue tau nggak kak!” kata ify takjup.

“ndesoooohh.. hahahhaa.” Agni tertawa geli melihat kepolosan ify.

Ify memanyunkan bibirnya, “biarin, suka-suka gue dong ag!” balasnya sewot.

“udah-udah, istirahat dulu. Besok kita udah mulai shoot. Jaga kesehatan. Don’t make me loss baby..” ujar agni sambil meninggalkan Rio dan Ify yang berada di teras rumah zeze.

“capek, fy?” Tanya rio.

“lumayan.. capek ngoceh dari tadi. Hihihi, udah ah. Masuk nyokk.” Ajak ify. Mereka berdua pun beristirahat agar shooting hari pertama berjalan lancer.

*

“CUT CUT CUT!!” teriak agni dari kejauhan.

Ify dan Rio menghentikan adegannya. “kenapa lagi sih, ag?” ujar Rio sedikit emosi karena hawa panas yang menyelimuti mereka.

“kurang romantis!! Harusnya lo bener-bener menjiwai dong! Masa baru hari pertama kaya gini, sih?? Ckck.” Gerutu agni.

“iya, iya! Ulang lagi deh…!!” ify hanya bisa cengir-cengir karena masih canggung beradu acting dengan Rio. Apalagi mereka menjadi sepasang kekasih disini.

“Alyssa.. gue ga sanggup jauh dari lo.. gue ga mau kehilangan lo.. apa lo ga bisa ngeliat ketulusan dari tatapan mata gue??” ujar Rio kea rah Ify, sembari memegang tangannya.

Ify melengos. “itu yang lo bilang ga mau kehilangan gue? Lo nyadar dong stev, lo udah berapa kali nyakitin gue?? Gue udah capek nahan semuanya. Gue ga bisa lagi percaya sama lo,” lirih Ify.

“makanya, dnegerin penjelasan gue dulu, dia itu—.”

“stop!! Gue ga mau dengerin semua kata-kata palsu lo, gue mau kita Cuma sampe disini aja!!” ify lalu berlari meninggalkan Rio yang menatap punggung Ify dengan penuh rasa bersalah.

“CUT !! GOOODDDD GUE SUKA YANG INI!!” teriak agni sambil meloncat(?) dari tempatnya duduk.

Ify dan Rio hanya meringis. “istirahat dulu yahh, gue capek.” Izin ify yang lalu di angguki oleh agni.

“Fy, makan siang sama gue yuk?” tawar Rio sambil menyamai langkahnya dengan Ify.

“boleh…”

Mereka pun berjalan ke sebuah foodcourt di dekat tempat shooting.

*

1 minggu mereka lewati dengan suka cita(?) shooting setiap hari dan bertempat tinggal di satu rumah membuat Ify dan Rio semakin akrab. Ify dan Rio lebih sering menghabiskan waktu berdua saat break shooting.

Agni sangat senang ternyata misinya berhasil. Misi apakah itu? Masih rahasia :b

*

Sudah hamper 2 minggu mereka di Surabaya, dan perasaan aneh mulai timbul pada diri mereka berdua. Entah perasaan apa itu, yang pasti, mereka sangat nyaman apabila mereka lebih sering menghabiskan waktu berdua ketimbang bersama kru-kru film lainnya.

Suatu malam…

“yo nyanyi dong..” pinta ify manja

“nyanyi apaan?” Tanya rio lembut.

“sebuah rahasia, lagu lo itu…”

“hmmm oke..”

Rio mengambil gitar yang ada di sampingnya sedari tadi. Lalu memetik senar gitar itu secara perlahan.

Beranjak dan berjalan kedepan

basuh air mata dan cerita

saatnya melupakan

jam berhenti di dua belas

kuhabiskan gelas demi gelas

membuat pahit sisa yang manis

sampai akhirnya ku lupa

dan kau percaya

tak ada yang lebih baik dari ini

apanya yang bahagia?

dan kutertawa

tak akan ada cerita dalam sebuah rahasia

lupakan saja

dan jangan pernah kau kembali disini

keringkan semua luka

pergilah saja

berlarilah karena kau akan ku lupakan

berhenti dan ingatlah sejenak

coba tetap berdiri tegak dan membakar semua kenangmu

berhenti menangis dan

ini yang terbaik dan

teruslah melangkah dan

saat dunia berpaling darimu, tengoklah kearah lain

dan kau percaya

tak ada yang lebih baik dari ini

apanya yang bahagia?

dan kutertawa

tak akan ada cerita dalam sebuah rahasia

lupakan saja

dan jangan pernah kau kembali disini

keringkan semua luka

pergilah saja

berlarilah karena kau akan ku lupakan

kalau bisa

ku ulangi cerita

ku tak akan berada

di tempat pertama kita berjumpa

tak akan ada

kudisini

dan mencari

kau disana menunggu

untuk ditemukan

untuk ditemukan

dan kau percaya

tak ada yang lebih baik dari ini

apanya yang bahagia?

dan kutertawa

tak akan ada cerita dalam sebuah rahasia

lupakan saja

dan jangan pernah kau kembali disini

keringkan semua luka

pergilah saja

berlarilah karena kau akan ku lupakan

berhenti menangis dan

ini yang terbaik dan

teruslah melangkah dan

saat dunia berpaling darimu, tengoklah kearah lain

rio membawakan lagunya *maap yaa PWG, saya pinjem :P* secara lembut dengan cara akustikan. Ify yang mendengar sampai hanyut ke dalam suara Rio yang sangat lembut. Falset yang sempurna. Gumam ify dalam hati.

Plok plok plok

Ify bertepuk tangan kecil sambil tersenyum lebar, “keren io! Beeneran deh..”

Rio tersenyum sambil mengacak-acak poni ify, “biasa aja lagi.. eh gentian dong, gue pengen denger lo main piano.. ke taman belakang yuk. Maen piano disana..”

“boleeehhh…”

Mereka berdua melangkah menuju taman belakang. Disana ada sebuah grand piano berwarna putih berada di samping kolam renang zeze.

Ify perlahan duduk di atas bangku panjang itu. Lalu melemaskan ke10 jarinya dan meletakkannya secara perlahan di atas tuts tuts piano.

Lihat ku disini

Kau buat ku menangis

Ku ingin menyerah tapi tak menyerah

Mencoba lupakan tapi ku bertahan

Kau terindah kan slalu terindah

Aku bisa apa tuk memilikimu

Kau terindah kan slalu terindah

Harus bagaimana ku mengungkapkannya

Kau pemilik hatiku

Mungkin lewat mimpi

Ku bisa tuk memberi

Ku ingin bahagia tapi tak bahagia

Ku ingin di cinta tapi tak di cinta

Kau terindah kan slalu terindah

Aku bisa apa tuk memilikimu

Kau terindah kan slalu terindah

Harus bagaimana ku mengungkapkannya

Kau pemilik hatiku

Ify bernyanyi sambil memejamkan matanya. Menikmati setiap tuts-tuts yang ia mainkan. Alunan indah melodi yang ia ciptakan karena lagu yang ify nyanyikan berbeda dengan versi aslinya.

“wah, keren banget Fy…”

“itu tadi ngewakilin perasaan gue, io.” Batin ify sambil mengamati muka Rio yang sangat tampan… *emang.. penulis ajaaa terpesona :P*

“Fy…” panggil Rio pelan sambil ikut duduk di sebelah Ify.

“iya??”

“maafin gue, ya..”

“maaf? Buat apa?”

“pasti lo akan tau nanti..” ujar Rio sambil mengecup pelan kening Ify, lalu beranjak dari taman belakang. Ify masih tak bergeming. Sambil mengingat-ingat apa salah Rio ke Ify sampai Rio meminta maaf tadi.

Seseorang menatap siluet Rio dan Ify dari kejauhan sambil tersenyum tipis. Tipis sekali.

“I hope, it will be sucessfull,” lirihnya.

*

Hari ini, Rio dan Ify kembali ke Jakarta. Shooting yang mereka perkirakan akan selesai 3 minggu , ternyata lebih cepat seminggu. Mereka bertiga pun harus pasrah berpisah lagi(?).

Rio dan Ify makin dekat. Mereka seling jalan berdua. Hingga para wartawan pun menyimpulkan kedekatan mereka bukanlah kedekatan biasa. Kalau kata BBB kan bukan bintang biasa, tapi kalau kata pasangan yang baru-baru ini sering terlihat jalan bersama adalah BUKAN KEDEKATAN BIASA (?)

Tiap jalan bareng, mereka berdua selalu merasakan sensasi yang luar biasa. Jantung yang berdetak lebih kencang, perasaan senang yang membuncah, dan tak ingin berpisah. Entah mengapa, ify merasa tak bisa jauh dari Rio. Begitu juga Rio. Rio juga merasa t ak bisa jauh dari Ify.

*

3 bulan berlalu. Kelulusan sekolah.

Film yang beberapa waktu lalu yang membuat Rio dan Ify bertemu pun tayang di TV. Menjadi pemenang LA LIGHTS INDIE MOVIE. Dengan judul ‘Bawalah pergi cintaku’ #pinjem judul doing. pissV*

Ify mulai jarang bertemu dengan Rio. Rio juga makin merasa jauh dengan Ify. Kesuksesan film pendek mereka yang meraih penghargaan membuat mereka berdua di banjiri job. Apalagi keduanya yang sudah lulus SMA.

Kabarnya, Rio akan melanjutkan studinya di Amerika. Ify yang mendengar itu pun sedih dan langsung menanyakan kebenaran itu pada Rio.

“io, lo pindah ke amrik? Sampe kapan?”

Tak ada sahutan dari Rio.

“apa itu yang beberapa bulan lalu lo bilang sebagai permintaan maaf?”

Tuuttt…tuuuttt….

Ify mematikan telefonnya. Ia merebahkan dirinya ke kasur dan terisak sambil meyakinkan hati serta dirinya sendiri bahwa perasaan aneh yang muncul tiap dekat dengan Rio adalah perasaan cinta.

*

Rio duduk termenung di balkon kamarnya. Balkon yang menghadapkannya langsung dengan balkon rumah agni.

“psstt psttts..!!” Rio menoleh ke sumber suara. Agni tengah melambaikan tangannya. “ngelamunin Ify io??”

Rio meringis. “tau aja.”

“shoot dooongg,” goda agni sambil menyeringai kea rah Rio.

“iya, pasti, tapi nunggu waktu yang tepat dulu..”

“kayanya, ify lagi nangis sekarang. Gara-gara denger kabar lo bakal pindah ke amrik.”

“bagus deh berarti dia juga punya perasaan lebih buat gue.”

“makanya, cepet di tembak gih.”

Rio hanya tersenyum lalu masuk ke dalam kamar. Agni hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.

“ga salah deh nyobain nyomblangin mereka berdua. Cocok banget.” Lirih agni.

*

= = = = = = = = = = = = = = =

From : Rio

Gue take off jam 10 pagi. See ya(:

= = = = = = = = = = = = = = =

Ify terbelalak mendapat sms Rio barusan. Ia pun segera bangkit dari tidurnya. Jam 9.00 . begitulah digit angka yang tertulis di jam digital di samping ranjangnya. Ia melompat kaget dan berlarian kesana kemari.

‘gue harus ketemu Rio! Gue harus blang kalo gue sayang sama dia!’ batinnya.

Lalu ia mandi. Tak butuh waktu lama, ia hanya memerlukan waktu selama 10 menit untuk mandi. Lalu menyambar tas selempang yang selalu ia gunakan kemana-mana. Dengan kaos warna hijau, celana jeans ¾ dan sepatu all star warna hijau-putih nya, dia pun menarik tangan Riko yang sedang menyantap setangkup roti baker.

“eh! Apaan sih tarik-tarik?”

“anterin gue ke airport! Sekarang! Gue ga mau kehilangan orang yang gue sayang!! Ga mau tau jam setengah 10 harus udah sampe bandara!” ujar Ify sambil menarik-narik tangan Riko sampai ke dalam mobil.

Riko mendengus pasrah. “oke oke tapi ga usah nyuruh gue cepet-cepet, ntar malah gue nya bingung lagi. Yaudah pasang sabuk pengaman lo. Gue bakal pastiin kalo lo akan sampe di airport dalam waktu 30 menit.”

Riko mengegas mobil yang lama-kelamaan semakin kencang. Ia tak peduli dengan rambu lalu lintas yang ia temui sepanjang jalannya.

*

“udah siap?” Tanya kak acel, kakak Rio.

“bentar kak. Nunggu ify.” Lirih Rio sambil celingukan mencari Ify.

“kayanya dia ga dateng…mungkin dia kecewa sama lo, io.” Kata agni sembari menepuk punggung Rio.

“maybe…” Rio mendengus pelan. “yuk, check in sekarang.”

Baru beberapa langkah, Rio berbalik lagi. Berharap ify telah ada di belakangnya. Tapi sia-sia, ify tak ada. Lalu Rio terus melanjutkan langkahnya sampai di depan pintu check in.

*

Ify berlarian di sepanjang bandara. Dia berlari di sekitar ‘keberangkatan internasional’ #ehh apaan yak penulis kagak tau. Lupa. Wkwkwkwkk# sambil celingukan mencari sosok Rio. Ia pun berlari ketempat resepsionis #eh apaan ya… yang biasanya ngasih informasi itu loh… huaaa saya oot nih#

“mbak, mbak, pesawat ke amrik udah berangkat??” Tanya ify dengan nafas tersengal.

“iya, mbak.baru aja 10 menit yang lalu take off..”

Jdhuaaarrrrr

Kaki ify rasanya lemas. Ia terduduk di depan meja mbak-mbak tadi (?) sambil menahan air matanya.

“jangan bilang gue telat io. Gue gak mau lo pergi. Riooo….” Lirih Ify sambil menangis.

Ify bangkit dari duduknya. Dengan menutup wajahnya, ia berbalik dan berjalan keluar ruangan tersebut.

“maaf,,” lirih seseorang.

Ify kaget. Dengan cepat dia berbalik ke belakang. Tapi tak ada apa-apa. Ify kembali menutup wajahnya dengan tangan. Lalu berjalan lagi.

“maaf, gue cinta sama lo.” Suara yang tadi Kini terdengar begitu jelas di telinga Ify.

‘Cuma halusinasi lo itu.. jangan di dengerin..’ batin Ify memantapkan hatinya.

“maafin gue, fy. Gue udah nyimpen perasaan cinta ke elo. Dan gue minta maaf, karena udah lancang cinta sama lo.” Suara itu lagi. Ify kini membuka matanya dan memindah tangannya.

“Rio?” gumamnya tak percaya saat melihat Rio ada di depannya.

Rio tersenyum dan memamerkan deretan gigi putih pepsodent(?)nya #gajelas#

“RIOOO…!!” pekik ify saat ia benar-benar sadar bahwa yang ada di depannya adalah Rio.

Rio menarik ify dalam dekapannya. “fy, maaf, gue cinta sama lo.” Ujar Rio lagi.

Ify mengangguk dalam dekapan Rio, “gapapa io. Gue juga. Gue juga cinta sama lo.”

Rio mengangkat dagu tirus ify hingga mata mereka bertemu. “kok nangis? Jangan nangis dong.” Kata Rio lembut sambil menghapus air mata yang menggenang di pelupuk mata Ify.

“sekarang udah ga nangis lagi, soalnya pangeran gue udah ada di depan gue…:” kata ify senang sambil memeluk Rio lagi.

Rio mengecup pelan puncak kepala ify. “I love you fy. Gue mau lo jadi cewek gue.”

ify tersenyum. “gue mau! Pasti mau!!”

Rio tersenyum lalu menggandeng tangan Ify, “pulang yuk!!” ujar Rio.

Ify mengangguk. “maaf,” kata Rio lagi di tengah jalan.

“maaf buat apa lagi??”

“buat kebohongan gue mau berangkat ke Amrik. Hihihihi..” rio terkekeh pelan.

“huaaaaaaa jahat lo! Gue tadi bela-belain bangun demi lo! Biasanya juga jam segini masih di alam mimpi. Huaaa. Lo udah bikin gue nangis ternyata Cuma boongan ke amriknya? JAHAAATTT!!!!” ify mencubit pinggang Rio. Rio hnaya meringis kesakitan.

“huaa ampun fy, ampunn!!”

“ga ada ampun buat lo!!”

Mereka pun bermain kejar-kejaran di sekitar bandara. Dengan tawa riang menghiasi kejar-kejaran mereka tadi.

*

HUAAAAAA sudah sudah, bagaimana? jelek? oh iya dong. saya bangga kok kalo bikin cerpen jelek #plak #geje

okeee ada kritik dan saran, silahkan komen yah :)

DTBR !! :D

Kecantol Cinta Di Sekolah

hulaaa... cerpen yang sudah saya janjikan sebagai upah(?) untuk kak baiq, kak ivone, ditooong n kak luluk. this is special for us !! ahahaha :P

maap kalo gak gaje. kalo garing. apalagi kalo jelek ancur de el el. soalnya saya tak sehumoris kak luluk, ataupun kak ivone. ehehe :P ah sabodo teuing. yang penting nyoba wkwkwkwkwk.





SELAMAT MEMBACA :)





Hope You Like It !!





*************************











Tap-tap-tap



Suara hentakan kaki seseorang menggema di auditorium SMA Trexy #ngasal#. Semua mata tertuju pada nya. Eh salah salah. Pada mereka maksud penulis.



5 orang cowok berparas tampan, dengan tinggi yang memadai, gaya mereka yang cool, serta barang-barang mereka yang berkelas. Mereka adalah bintang sekolah. Anak dari pemilik yayasan sekolah yang sangat mempunyai hak atas segala apa saja di sekolah ini.



Dari yang pojok kanan. Dia Alvin Jonathan Sindunata. Seorang cowok yang cuek, angkuh, gak banyak ngomong, keren, dan keturunan chineesh. Ayahnya adalah pemilik yayasan paling berpengaruh di SMATREX ini.



Sebelahnya, seorang kembar. Namanya Cakka Nuraga dan Elang Nuraga. Hanya beda 2 menit saja lahirnya. Pewaris kembar(?) dari perusahaan rekaman NURAGA. Anak dari musisi sekaligus sahabat anak pemilik sekolah, Alvin.



Sebelah cakka dan elang, ada Rio. Cowok hitem manis berdarah Manado yang kemana-mana selalu sama pacarnya #katanya sih#. Namanya CHITATO! ‘my life is never flat with my soulmate, CHITATO’ yaa gitu deh kata cowok yang punya nama lengkap Mario Stevano Aditya Haling tersebut.



Yang terakhir, selalu membawa jaket kemana-mana. Yang paling narsis dan murah senyum. Gabriel stevent damanik, saudara sepupu dari Rio. Sahabat karip Cakka dan seorang yang humoris. Ramah pada siapa saja. Dan orang yang sangat romantis.





Mereka adalah anak basket, sekaligus pengurus osis, juga anak band. Prestasi mereka banyak. Walau sedikit sombong, #terutama Alvin# mereka gak seenaknya dengan sekolah mereka. Mereka selalu berusaha mendapat nilai baik di setiap mata pelajaran. Meskipun mereka bersahabat, tapi mereka bersaing secara sehat.





Mereka menamai diri mereka dengan The più Alto, artinya ‘yang tertinggi’ dalam bahasa Italia.







**





Di kelas, Cakka dan Elang terus-terusan melamun. Entah apa yang sedang mereka fikirkan. Padahal, muka innocent-nya cakka dan elang yang lagi ngelamun tuh ngebuat cewek-cewek di sekitar mereka melongo sambil jerit-jerit ga karuan.



“lo kenapa sobb?” Tanya Iel, panggilan Gabriel, pada cakka dan elang.



Mereka Cuma geleng-geleng sambil senyum-senyum gajelas.



Iel menautkan kedua alisnya. “kenapa sih? Kesambet?” Tanya nya lagi.



“gila, cakep banget tau.” Lirih elang.



“seksiiii juga, lang. sumpah. Gue pengen kenalan.” Timpal cakka.



“cewek?” Tanya Alvin dari kejauhan sambil membolak-balik majalah otomotifnya.



“IYAAAA…” jawab cakka dan elang serempak.



“nyeeh, kirain apaan. Dasar kembar stress. Sama-sama playboy, sama-sama oot, ahhh semua yang jelek-jelek ada di kalian deh.” Ucap iel ngelantur kemana-mana(?)



“yee… apaan sih lo.” Cakka menoyor pelan kepala iel. Sedangkan iel Cuma meringis kesakitan.



“dasar, anak muda jaman sekarang. Pacaran mulu. Ujung-ujungnya putus. Kita nggak akan gitu kan beb?” ujar Rio sambil mengelus-elus chitatonya.



TPA (The più Alto) melirik ke arah Rio dengan tatapan tajam. Sedangkan Rio tak melihat mereka, malah asyik menyantap chitato di tangannya.



“dasar, ga waras. Masa chitato di jadiin soulmatenya sih. Ckckck.” Sindir Alvin sambil mengambil ancang-ancang untuk kabur.



“iya tuh, udah ga doyan cewek paling ya? Sampe-sampe stres, terus berpaling ke chitato.” Tambah cakka.



“hahaha... bener-bener ga waras tuh vin,” timpal Elang.



Iel cekikikan. “ATOOOO,,,, DIA GAK LAKU.. BHAHAHHAHAA..” tawa iel meledak. Mereka berempat pun segera ngibrit keluar kelas, setelah melihat Rio telah mengeluarkan tanduknya yang seperti banteng(?)



“awas aja lo semua! Uhhh.. seenaknya aja ngehina gue sama soulmate gue, huuuh daripada mereka, udah tampang pas-pasan, masih aja ga nyadar. Mending gue kemana-mana dong ya?” Rio bicara sendiri layaknya orang gila(?)



“ngomong sama siapa yo? Sama soulmate lo? Si chitato?” tanya obiet, sang ketua kelas.



“ahhhh tau deh.” Rio pun cabut dari kelas.







**







Sementara di koridor kelas XI, di hebohkan dengan kedatangan 3 orang cewek. Konon kabarnya, mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda. Tapi masih punya 1 ikatan keluarga. Bersama dengan 2 orang murid kelas XI IPS 2, yang terlebih dulu sekolah disini, mereka melenggang dengan anggun di koridor. Cowok-cowok kelas XI sudah berjejer rapi menyapa mereka ber5. 3 anak pindahan, dan 2 murid lama di SMATREX.



Langkah TPA Berhenti, saat melihat ke3 gadis pindahan tersebut.



“itu kan cewek kemaein, cakk?” elang menyenggol lengan cakka pelan. Matanya tak lepas memandang seorang gadis chubby berbando hijau dengan rambut diikat 1 tinggi.



Cakka tak bergeming. Matanya mengikuti seorang gadis cantik berambut sebahu yang digerai dengan sederhana. Rok sekolah yang selutut dan warna ungu kotak-kotak terpasang senada dengan warna kulit gadis itu. Putih. Tinggi juga.



Iel tak berkedip saat melihat seorang cewek berpostur tinggi semampai (bukan semeter tak sampai lho-,-) mengenakan seragam yang sama dengannya. Rambut yang di jepit dengan jepitan kecil di ujung poninya (aduh aapaan yak? Gak tau namanya pokoknya di ujung gituu deeh). Jam berwarna ungu, dan sepatu keds warna putih. Gaya yang simple, namun membuat jantung iel berdetak tak karuan.



Alvin hanya diam dan tak peduli dengan mereka. Sementara Rio baru saja berdiri di belakang TPA sambil menganga lebar.



“buset. Ada bidadari gue.” Lirih Rio.



TPA menoleh ke arah Rio. Sambil memincingkan mata mereka. Rio jadi gelagepan sendiri. “ehh eng,ngga maksud gue ada bidadari gue, chitato, itu itu.” Rio gugup sambil menunjuk chitato yang di pegang salah satu anak disana.



“gue kira lo udah tobat, yo. Huh.” Dengus iel setengah bercanda.



“maksud lo? Gue ga normal gitu? Sshhh,,, gue normal tau. Kalian aja yang gatau gue suka sama dit—.” Rio menutup idung eh salah mata ehh salaaah!!! Menutup mulut maksud penulis, sambil berharap TPA tak ada yang mendengarnya.



“dit’? adit? Odit? Idit? Udit? Atooo edit?” tanya cakka bloon.



“bukan cakk, tapi anak X-3 yang namanya jodit, itu lho, yang jerawatnya dimana-mana, oon, odong, hahahaha.” Elang tertawa geli. Sedangkan iel dan cakka ikut tertawa geli.



“oot semua lo pada! Dita! Anak XI IPS 2 itu! Tau kagak?” ujar alvin menyeringai ke arah rio. Sedangkan rio menahan urat malu yang hampir putus itu(?)



“hah? Dita? Dita ardila itu? Yang pendiem itu? Astaga.” Ujar cakka dengan lebay-nya.



“apaan sih. Enggak!” ela Rio sedikit sewot,



“ngaku aja.. huahahaha. Rio rio gengsi amat sih lo bilang gitu ajaa, wkwkwk.” Elang ngakak guling-guling di depan kelas mereka, XII IPA 1 sampe nangis(?)



“apaan deh. Lebay. Udah bubar bubar. Bentar lagi Pak Dave dateng, bisa-bisa abis lo di makan dia.” Ujar Rio kesal.



“EHM EHM.. SIAPA YANG MAU MAKAN KALIAN??” dehem seseorang dari belakang dengan suara banci-nya yang khas itu.



“mampus lo.” Cakka cekikikan.



“CAKKA, MARIO, GABRIEL, ALVIN DAN ELANG! CEPAT MASUK KELAS!” bentak pak dave. TPA pun langsung masuk kelas dengan menahan tawa karena bentakan pak dave terdengar kocak.



“aduuh rempong deh anak-anak ituu ciiin...” gumam pak dave lalu beranjak dan masuk kedalam kelas.







**





Sementara di kelas XI IPS 2, 3 orang gadis cantik memasuki kelas. Semua mata tertuju mereka. 2 gadis yang lainnya mengambil duduk di tengah.



“oke, perkenalkan nama kalian.” Ujar bu Ira.



“nama saya Hidayatul Fajriah. Panggil saja luluk. Saya pindahan dari lamongan.” Ujar gadis chubby berbando hijau tadi.



“nama saya Tasya Diaz Gheasari, panggil aja Tasya, pindahan dari Surabaya.” Lanjut gadis yang memiliki lesung pipit dan paling tinggi di antara yang lain.



“nama saya Ivone Ardila. Panggil aja ivon. Pindahan dari padang.” Ujar gadis putih tinggi dan cantik itu sedikit cuek.



“oke, silahkan duduk di belakang Dita dan Baiq yah.” Ujar bu ira.



Mereka bertiga pun melangkah ke tempat yang di tuju. Dita dan Baiq tersenyum ke arah mereka.







*





Anak-anak cewek berbisik di sepanjang koridor, kantin, tolet, perkiran, taman, dan di seluruh penjuru sekolah. Sibuk membicarakan ketiga murid baru yang namanya langsung terkenal padahal belum ada seminggu mereka bersekolah di SMATREX. Apalagi, perubahan penampilan 2 orang gadis yang denger-denger sih, masih ada hubungan darah dengan ketiga murid baru tersebut.



Dita, Baiq, Tasya, Ivone dan Luluk. Mereka menamai diri mereka dengan nama The Angelo. Dita dan Ivone adalah kakak beradik yang hanya beda 10 bulan. Mereka adalah anak kepala sekolah. Tasya dan luluk adalah saudara sepupu Baiq, dan sahabat baik Ivone juga Dita. Mereka pernah 1 sekolah waktu SMP. Dan harus berpisah karena kemauan orangtua mereka. Dan toh, akhirnya mereka bersatu lagi.





“eh kenapa pada liatin kita kaya gitu sih?” tanya Tasya setelah sadar, semua mata melihat ke arah mereka berlima.



Dita mengangkat bahu. “biasa, selep dadakan. Ya gini deh. Hahah.”



“beehh, aada-ada aja. Eh gimana? Lo udah PDKT sama pangeran chitato elo, Dit?” tanya ivone mengalihkan pembicaraan.



“kagak. Gimana mau PDKT, dianya sibuk sama soulmatenya.” Ujar Dita kecewa.



“udah punya soulmate? Siapaa?” tanya luluk antusias.



“CHITATO!” serempak baiq dan Dita.



“huwahahahahaha. Ada-ada aja. Eh emang beneran?” tanya ivone dengan polos.





Tiba-tiba sorak sorai penonton eee salah maksud penulis, sorak sorai siswa siswi(?) SMATREX bergemuruh di seluruh ruangan. The Angelo yang ada di dalam kantin pun mau tak mau mengikuti cewek-cewek yang sedang berlarian sambil histeris sendiri(?). mereka menuju ke balkon koridor kelas XI. Beberapa ada yang menonton langsung dari lapangan. TPA sedang bermain basket!



“alviiiiiiiiin....i lope yu pullll” teriak Baiq gajelas(?)



“huaaa pangeran chitato sayaaa..hhuaaaaaaa keren bangettt” Dita ikutan gajelas(?)



“Apaan sih? Gajelas semua.” Cibir Ivone sambil mengambil Bbnya.



“ehh yang nomer 11 cakep banget.” Lirih Tasya sambil nimbrung histerisnya dengan Dita dan Baiq (?) “HEEEEEEUU NOMER SEBELASSS... GANTENG BANGETT MAMEEENN” teriaknya gajelas #beh emang semua kagak jelas kok.. wwkakak#



“huaaah, nomer 4 cakeeeeep.” Luluk ikutan histeris melihat cowok di balik seragam basket SMATRAX berwarna ungu hitam itu.



Ivone melirik ke arah lapangan sekilas, melihat seorang cowok berkulit putih, bergaya harajuku dan berbadan agak chubby. Bernomer 18 . “cakep juga,” batin Ivone lalu curi-curi pandang ke arah cowok tersebut.







**







“huaaaaa gila capek banget.” Keluh Rio sambil menyambar sebotol pulpy orange di dalam tasnya.



“haha, semua pada niat tau nggak! Eh beneran dengan cara ini kita bisa narik perhatian cewek-cewek baru itu?” tanya Iel sambil menelonjorkan kakinya di tanah.



“moga aja, apa yang kita rencanain tadi malem tuh bisa kewujud hihihi.” Elang terkekeh.



“yoa sobb. Gue yakin mereka bakal luluh sama kita.” Lanjut cakka.



“gue gak ikutan.” Ujar alvin (sok) cool.



“sok banget. Ntar kalo kecantol sama salah satunya tau rasa lo!”



“idih, gak mungkin! Udah ah gue mau ngantin. Gak ada yang mau ikut?” tawar alvin ambil membereskan tasnya.



“gak deh. Entar aja.”



“oke. Gue cabut dulu. Bye.” Alvin pun melangkah pergi darisana. Sementara ke4 temannya sedang mengingat-ingat misi yang mereka buat kemarin.





# flashback on #





Setelah rapat osis hari ini, TPA dkk melajukan motornya ke rumah Alvin. Mereka mengerjakan PR bersama-sama #buseet rajin ameet#. Sampai-sampai. Cakka membuka pembicaraan.



“GUE JATUH CINTA SAMA IVONE! KAKAKNYA DITA! AMPUN DEH CAKEP BANGET DIAAAA....” teriak cakka di kamar alvin.



“sama, sob. Gue juga jatuh cinta. Sama si chubby LULUK!! Astagaa, sumpah imut banget jadi orang. Pengen gue jilat deh eee salah. Pengen gue jadiin cewek gueeee!!” elang menimpali.



“gue cinta mati sama Tasya. Ampun deh, taylor swift kalah! Iissh dia malaikat yang di kirim Tuhan buat gue kali yaak??” iel senyum-senyum gajelas.



‘gue juga. Dita makin cakep aja ya tuhan, gue makin cintaaaaa sama diaaaa....’ batin Rio.



“kok diem aja Yo, Vin?” tanya Elang.



“kan gue ga ada target di antara mereka.” Jawab alvin cuek.



“kalo elo, Yo?”



“eee itu eee gue kan Cuma cinta sama chitato-chitato gue ajaa.” Jawab Rio gugup.



“gimana kalo kita tebar pesona ke mereka? Yaa jarang-jarang loh, TPA tebar pesona ke cewek-cewek. Sekalian PDKT gitu. Masa iyaa mereka nolak kita?” kata Cakka dengan Pdnya.



“boleh boleh! Gue setuju sama lo cakk. Hahaha. Harus bener-bener tebar pesona, biar mereka luluh sama kita hihi.” Iel terkekeh pelan.



Alvin dan Rio menyibukkan diri mereka dengan buku fisika yang ada di tangan mereka





# flashback off #







**





Suatu malam di basecamp The Angelo



“sumpah, oot banget gue, gak kenal sama mereka. Astagaaa.. cakep ya mereka. Aduhhh...” tasya histeris sendiri.



“iya.. eh denger-denger nama cowok yang gue taksir tuh elang! Aduh boo’ keren banget tau nggak. Hiihi.”



“gue ga tau nama cowo yang gue taksir..” lirih ivone.



“jiah, kemana aja lo neeng??”



“ke pucuk arab noh!”



“arab? Arab patek nggenah? Bhahaha” luluk dan tasya tertawa geli.



“ngomong apaan sih ini. Kenapa ribut-ribut??” tanya baiq yang barusaja masuk kedalam kamar Dita.



“ngomongin TPA, nih. Cakep-cakep yaak.”



“baru nyadar kalian? Aduhh... apalagi yang namanya alvin. Buset dah cakep banget tau nggaaaa..”



“ohya?? Yang manaa?”



“kagak mau gue kasih tau! Entar lo embat lagi!”



“idih galak amat sih neeeeng. Wkwkwk. Eh dit lo kok diem aja sih? Sibuk amat ama tuh HP?” tanya tasya sambil mengintip Dita.



“jangan diganggu, gue lagi smsan sama pangeran chitato gue...”



“ee? Kapan lo dapet nomer dia?” tanya Ivone heran.



“tadi pas pulang sekolah. dia yang minta nomer gue”



“buset berbunga-bunga deh ati lo. Wkakaka.”



“ember! Emang kok.”



“eeee ceritain gimana tadi kok bisa sih dia minta nomer lo?”



“jadi ginii........”







# flashback on #





Dita berjalan sendiri menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. The angelo sudah pulang lebih dulu. Sedangkan dia masih ada ekskul teater. Ditemani tetesan air hujan, dia berjalan kearah gerbang sambil menunggu angkot yang tak kunjung datang.



BREM BREM #perhatian, ini bukan suara becak kopling#



Seorang cowok mengendarai cagiva hitam dan memakai helm full face menghampiri Dita.



“sendirian aja, neng?” tanya cowok itu sambil membuka helm full facenya.



“eh kak Rio. Iya nih kak. Kenapa?”



“mau di anter pulang?”



“eee gak usah kak. Ngerepotin aja.”



“udah deh, naik aja.”



Dita menuruti kata Rio. Karena rinai hujan yang awalnya hanya titiktitik gerimis, lambat laun menjadi titiktitik hujan deras.



“gapapa keujanan??” teriak Rio ditengah derasnya hujan.



“gapapa kok kak!”



“pake jaket gue, ya!” Rio memmberikan jaketnya pada Dita dan memakaikannya. #so sweet banget nohhhh#



“thanks kak.”





Motor Rio menyusuri padatnya kota jakarta. Karena memakai motor, setidaknya lebih cepat daripada mobil. Dan beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah Dita.



“makasih banget ya kak. Maaf ngerepotin elo.” Ujar Dita sambil melepas jaket Rio.



“iya gapapa lagi, eee btw minta nomer lo dong.”



“eeeh boleh boleh.” Dita mendikte-kan nomer handphonenya ke rio.



“sip, thanks. Gue balik dulu ya. Byeee.” Pamit Rio





# flashback off #



“HUAAAA so sweet banget dit. Apa perasaan lo abis di bonceng dia?”



“ga bisa di jelasin kata-kata. Ibarat SULE tanpa idungnya. Huoooo.”



“lebay!” serempak semuanya.







**







* skip < pulang sekolah, The Angelo berkumpul di taman belakang sekolah. Sambil menunggu Baiq yang sedari tadi belum selesai ikut kelas fotografi, juga Dita yang tiba-tiba ilang. Tiba-tiba, TPA minus Alvin berjalan mendekati The Angelo minus Baiq n Dita. “hello ladies.” Sapa Cakka sksd. “hello cakka...” ujar the angelo minus baiq n Dita. “lagi ngapain?” tanya elang “nunggu dita saa baiq. Belom keluar-kluar dari tadi.” Jawab luluk. Rio dari tadi terdiam. Mencari seseorang. Lalu karena TPA minus Alvin sedang terhipnotis dengan cewek-cewek di depannya ini, dia berbisik ke Tasya. “eh eee Sya, Dita kemana??” “gak tau. Dia ilang gitu aja.” Jawabnya pelan. Rio hanya mengangguk-angguk. ‘gue tau dia dimana.’ Batiinnya lalu meninggalkan teman-temannya yang sedang terhipnotis(?) ** Alvin dari tadi sibuk memperhatikan seorang gadis yang sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Bersama kamera SLR di tangan gadis itu, alvin mendekatinya pelan-pelan. “hey. Sendirian aja?” sapa alvin pada gadis itu. Gadis itu menoleh. Mulutnya melongo. ‘buset kesambet setan apa alvin nyamperin gue. Pake ngajak ngomong lagi!’ batin Baiq sambil mencoba menetralisir degupan jantung yang sekarang tak beraturan. “hello? Sendirian aja?” tanya alvin lagi. Baiq tersadar dari lamunannya. “eh eee iya iya. Sendirian. Lo juga?” “iya. Ohiya, gue alvin.” Ujar alvin sambil mengulurkan tangannya. “gue udah tau lagi, hehe. Gue Baiq.” “hehehe, kirain aaja nggak tau, hmm lo ikut kelas fotografi dari kapan?” “dari masuk kelas XI. Lo?” “sama. Hmm kok gue gak pernah ngeliat elo ya?” “kita kan beda angkatan, vin.” “oh iya iya,. Hehe. Eee elo tuh anak The Angelo yah?” “yapps, kenapa?” “gaapa. Anak-anak TPA pada kesemsem ama temen-temen lo tuh..” “ah? Masa? Kok bisa?” “katanya cakep-cakep. Si Iel sama Tasya. Si Cakka ama Ivone. Si Elang sama Luluk. Si Rio,,,kayanya sama Dita.” “terus lo?” Alvin menyeritkan dahinya, “nggak sama sapa-sapa,” Terlihat raut wajah Baiq jadi kecewa. “mungkin.” Tambah alvin Lirih yang berhasil membuat senyum Baiq mengembang. “oh. Hehe. Mmm cari objek lain buat foto yuk?” ajak Baiq. “boleh...” mereka beranjak dari taman tersebut. ** Rio berjalan menyusuri jalan kecil di belakang sekolah. Jalan yang menghubungkan sekolah dengan danau. Dan Rio tau, dimana Dita berada. Perlahan, Rio mengintip dari balik semak-semak. Terlihat Dita sedang memainkan bunga bunga yang ada di sekitarnya. Sambil tertawa lepas. Rio jadi senyum-senyum sendiri ngelihat Dita kaya gitu. ‘samperin enggak yah..’ batin Rio ragu. ‘samperin aja deh, kapan lagi coba.’ Rio mengendap-endap di belakang Dita. Dan tanpa disuruh, dia langsung duduk di sebelah Dita. “sendirian aja, neng?” ujar Rio Dita terpelonjak kaget. “kak Rio? Kok tau gue disini?” “apasih yang gak gue tau tentang elo?” rio terkekeh pelan. Berhasil membuat Dita senyum-senyum gajelas. “dit. Gue mau ngomong. Serius sama elo.” Ujar Rio sambil menarik tangan Dita. “ma..mau ngomong apaan kak?” gugub Dita sambil menahan kesaltingannya. “gue udah lama pengen ngomong ini...gue...” “kakak kenapaaa?” “gue....gu,,gue...” keringat dingin mengucur menelusuri lengkuk pelipis Rio. Tangannya bergetar. “huh... guesukasamalo” ujar Rio cepat. “eh? Ngomong apaan sih? Gajelas banget.” “GUE SUKA SAMA LO DITA! GUE SAYANG SAMA LO! GUE CINTA SAMA LO! UDAH SEJAK LAMA, SEJAK GUE NGEMOSIN ELO. SEJAK GUE JADI WALI GUGUS LO! APA LO JUGA PUNYA RASA BUAT GUE?” teriak Rio melampiaskan semuanya. Dita tak bergeming. Antara percaya dan tidak. Perasaannya terbalaskan. “GUE MAU LO JADI CEWEK GUE DIT.” Teriak Rio tapi lebih pelan. Dita mengangguk. “gue juga suka, sayang dan cinta sama elo, kak rio. Udah dari dulu juga tau! Sampe gue hampir putus asa nih, nungguin elo gak nembak-nembak gue, hehehe.” Dita terkekeh pelan, “Beneran dit?” tanya Rio memastikan. “iya kak Riooooooo.” Jawab Dita gemes. “YEEEEEEEEEEEEEEYY! HARI INI KITA PACARAN DONG??” teriak Rio girang. “kagak! Hari ini elo jadi babu gue kak.! Yaiyalah kita pacaran.. heuh.” “hehehehe. Bisa aja ah neng dita yang geulis ini hehe.” “apedah, mulai kagak jelas lo kak. Eh betewe, gue gak akan di poligami-in kan?” “dipoligami? Sama siapa? Gue kan Cuma cinta n sayang sama elo dit.” “SAMA CHITATO!” jawab Dita gemes. Rio tertawa geli mendengar perkataan Dita. “ya enggak lah. Walaupun Chitato soulmate gue, gue cinta n sayang nya sama elo dit.” “beneraaan??” “iya neng dita sayang....” Rio menarik dita dalam pelukannya. “gue ga mau kehilangan elo, dit.” Bisiknya. “gue juga, kak.” ** Cakka berhasil membawa kabur ivone(?) dari taman tersebut. Ia mengajak Ivone ke kantin. “mau pesen apa, von?” “apa aja deh. Samain kaya elo aja, kka.” Tak lama, cakka kembali dengan 2 botol es jeruk dan 2 mangkok bakso. Mereka pun makan tanpa suara. Cakka memandangi wajah ivone saat makan.’cantik’ batinnya. 10 menit berlalu... “von, von, pinjem bolpen dong” “buat apa kka?” ”bolpenku abis” ”kok bisa?” ”soalnya kemaren aku nulisin namamu di langit. Jadi abis deh.” Ivone tertawa geli. “gombaaaalll!!!” “eee beneran tau.. hmmm, kamu suka biologi yah?” “iya, kenapa?” “pantesan, kamu tuh udah ngehasilin enzim cinta di hati aku tau nggak.” Muka ivone semakin memerah. “udah ah kka, udah.” “von, bilang sama gue, kalo cinta gue ke elo ga bertepuk sebelah tangan..” ujar Cakka serius. “maksud lo kka?” “gue cinta saama elo von. Gue mau lo jadi cewek gue. Lo mau?” “hah? Kita kan baru kenal, masa iya langsung pacaran??” Tanya ivone balik. “tak kenal maka tak sayang. Kalo udah kenal harus sayang. Kita mulai dari awal, anggep aja kita udah kenal lama. Apa lo perlu bukti kalo gue cinta sama elo, von?” Ivone berpikir sebentar. “hmm oke, gue mau bukti kka.” “oke lo tunggu disini sebentar…” Cakka beranjak dari kantin. Setelah hamper 10 menit, dia kembali. Membawa gitar dan mengalungkan sebuah kertas karton bertuliskan “I LOVE YOU IVONE, I WANT YOU TO BE MY GIRLFRIEND’ “aduh cakka apa-apaan sih? Ga malu apaa.” Gumam ivone. “woyyyy semuanya! Gue, cakka kawekas nuraga, mau buktiin ke ivone ardila, tentang seberapa besarnya cinta gue sama dia!” teriak cakka sambil menaiki salah satu meja di kantin. “kka, turun kka! Gila lo. Udah turun!” pinta ivone. “ga vone. Gue mau buktiin ke elo..” Perlahan-lahan cakka memetik gitarnya. “cinta kata orang ku jatuh cinta kepada dirimu cinta sampai tergila-gila oh rindu, rinduku memikirkan kamu hanyalah dirimu yang membuatku mabuk kepayang cinta cinta cinta pada dirimu rindu rindu rindu akan senyummu hanya satu kamu yang aku mau sampai mati kau kan selalu ku tunggu cinta yang membuat hidupku lebih indah dari hari yang lalu cinta yang membuat hati berbunga-bunga tinggalkan rasa yang lalu oh cinta kata orang ku jatuh cinta kepada dirimu cinta sampai tergila-gila hmmm rindu oh rinduku memikirkan kamu hanyalah dirimu yang membuatku mabuk kepayang cinta cinta cinta pada dirimu rindu rindu rindu akan senyummu hanya satu kamu yang aku mau sampai mati kau kan selalu ku tunggu cinta kata orang ku jatuh cinta kepada dirimu cinta sampai tergila-gila oh rindu, rinduku memikirkan kamu hanyalah dirimu yang membuatku mabuk kepayang cinta cinta cinta pada dirimu rindu rindu rindu akan senyummu hanya satu kamu yang aku mau sampai mati kau kan selalu ku tunggu cinta yang membuat hidupku lebih indah dari hari yang lalu cinta yang membuat hati berbunga-bunga tinggalkan rasa yang lalu bagaikan racun dia terus membiusku menebarkan aroma ke dalam seluruh tubusku detak jantung pun berhenti di saat ku bertemu denganmu tak kuasa ku menolak cinta cinta cinta pada dirimu rindu rindu rindu akan senyummu hanya satu kamu yang aku mau sampai mati kau kan selalu ku tunggu cinta yang membuat hidupku lebih indah dari hari yang lalu cinta yang membuat hati berbunga-bunga tinggalkan rasa yang lalu cinta cinta cinta yang membuat hidupku lebih indah dari hari yang lalu cinta yang membuat hati berbunga-bunga tinggalkan rasa yang lalu” ( ungu – mabuk kepayang ) Cakka menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Sambil sesekali goyang pinggung kesanakemari(?) “gimana vone? Lo belom percaya sama cinta gue ke elo? Gue rela ngelakuin apa aja buat elooooo.” Teriak cakka. Seluruh orang yang ada di kantin pun menyorakin mereka. “vone, gue Tanya sekali lagi. Lo mau jadi cewek gue??” “terima! Terima! Terima!” sorak orang-orang yang ada di kantin. “iya deh. GUE MAU KKA.!” Teriak ivone tak kalah semangatnya(?) Cakka langsung turun dari meja dan memeluk ivone yang ada di bawah. “I love you, vone..” “I love you too, kka.” “cieeee PJNYAAAA!!!” teriak orang-orang di dalam kantin. “hehe gue bokek. Vone, cabut yukk.” Ivone hanya mengangguk kecil. ** Sementara di taman, tinggal lah elang-luluk dan iel-tasya. “sya sya, ayah kamu briptu Norman yah?” “hah? Enggak. Kenaapa?” “kalo liat kamu tuh, hati aku joget-joget gitu deh. Chaiya chaiya…” ujar iel sambil menirukan gaya briptu Norman #bayangin sendiri wkwkwkwkk# “gubraak…. Gombaaaaaalll…” Dari bangku taman di depan tasya dan iel, elang pun tak kalah semangatnya menggombali luluk. “luk bisa anterin gue ke dokter nggak?” “mau ngapain kak?” “mau periksa mata nih…” “loh emang matanya kakak kenaapa??” luluk panic dan mengecek mata elang. “abis, tiap liat kamu, kami cantik banget tau nggak sih!” “huaaa kak elang gomballll!!” kata luluk. Elang hanya terkekeh. “sya sya, pinjem flashdisc dong” “buat apaan kak?” “buat transferin cinta aku ke kamuuuu.” “ngeeekkk…” tasya jadi cengo. “luk , luk , lo kok kaya kupu-kupu sih.” “hah??” “iya, luk. Lo selalu beterbangan di hati dan otak gueee…” “ihhhh so sweet dehhh…” Dan jadilah iel vs elang. Gombal-gombalan(?) #sangat gajelas mereka# ** Dita dan rio, serta cakka dan ivone. The angelo + TPA yang sudah memiliki status ‘berpacaran’. Seantero sekolah di hebohkan oleh berita ini. Apalagi penembakan cakka yang blak-blakan di kantin kemarin siang. Sebagian ada yang seneng. Dan sebagian lagi ada yang jedotin kepalanya ke tiang bendera, pilar, pintu, kemana aja deh(?) eeee gak gak. Ada yang gak suka maksud penulis.. Tasya dan iel, mereka semakin dekat. Setelah sebulan perkenalan mereka, iel makin sering gombal ke tasya. Dan tasya selalu di buat blushing oleh iel(?) Banyak yang menyangka mereka pacaran. Kemana-mana selalu bareng. Tapi faktanya mereka juga belom pacaran. Luluk dan elang. Mereka sama seperti iel dan Tasya. Apalagi tingkat gombalnya Elang yang 1 tingkat lebih unggul di banding teman-teman yang lainnya. Luluk dan elang malah di gosipin mau nikah(?) oooh engga ding. Gak jauh beda dengan tasya, mereka di tuduh udah jadian dari jaman kapan malah. Sedangkan Alvin dan Baiq. Mereka yang paling netral. Banyak yang menyuruh Alvin pacaran dengan Baiq, karena semua teman-temannya telah mendapat pasangan dari masing-masing anggota. Tinggal lah Alvin dan Baiq. Tapi apa daya? Alvin cuek dan tertutup. Jadi, mungkin selamanya baiq akan jadi pengagum rahasia Alvin??? ** Hari ini iel mengajak Tasya kesebuah café yang cukup terkenal. Pengunjung tak seramai biasanya, karena hujan yang deras, mungkin orang-orang pada males keluar, jadi café gak terlalu ramai seperti biasanya. Lagu yang di bawakan oleh penyanyi di dalam café itu pun juga sangat mendukung sore hari ini. The best thing about tonight's that we're not fighting Could it be that we have been this way before I know you don't think that I am trying I know you're wearing thin down to the core “sya…” panggil Iel pelan sambil menarik jemari Tasya dengan pelan. “hmm ??” “gue pengen ngomong sesuatu..” “lah ini kan udah ngomong??” “aduhhh elo nih, serius dikit kek sekali-sekaliiii.” Kata iel gemas. Tasya hanya nyengir, “hehe piss.” “lo ada rasa yang lebih sama gue gak?” But hold your breathe Because tonight will be the night that I will fall for you Over again Don't make me change my mind Or I wont live to see another day I swear it's true Because a girl like you is impossible to find Your impossible to find “maksud lo?” “ya… setelah kita bareng-bareng, selama sebulan lebih ini, apa lo gak ada rasa yang lebih buat gue?” Tasya terdiam. Jauh dari dalam hatinya, ia berteriak “ADA YEL! ADA!!” tapi masa iya sih harus kaya gitu? :O “gu..gue…” “gue sayang sama elo. Gue cinta sama elo. Dan gue ga mau kehilangan elo. Elo mau jadi cewek gue? Sekarang dan selamanya.” This is not what I intended I always swore to you i'd never fall apart You always thought that I was stronger I may of failed But I have loved you from the start Ohhhh “lo yakin yel? Ini bukan perasaan sesaat kan yel?” Iel tersenyum dan mengacak pelan rambut Tasya. “ya enggak lah. Gue gak main-main sama elo, sya. gue bener-bener udah jatuh cinta sama elo.” “gue ga mau lo nyakitin gue, yel. Kaya mantan-mantan gue yang dulu.” Lirih Tasya. “gue janji, gak akan nyakitin elo. Dan kalo gue ngelanggar janji itu, lo boleh bunuh gue.” Ucap iel serius. “karena gue gak akan tega nyakitin cewek yang gue sayang.” Lanjut iel sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Tasya. But hold your breathe Because tonight will be the night that I will fall for you Over again Don't make me change my mind Or I wont live to see another day I swear it's true Because a girl like you is impossible to find It's impossible “gue mau yel. Gue juga cinta sama lo. Gue juga sayang sama lo. Gue mau jadi cewek lo, sekarang, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan selamanya!” jawab tasya mantap sambil tersenyum senang. Iel pun memeluk Tasya. “thanks, baby. You are my angel.” Bisiknya. Lalu mengecup lembut kening Tasya #HUAAAA SO SWEET BANGET. KAPAAAN GUE DIGITUINNN >.< #



“gue pegang janji lo yang tadi ya Yel.” Bisik Tasya sambil terkekeh.



“okey. Gue bisa tepatin janji gue ke lo kok.”





So breathe in so deep

Breathe me in

I'm yours to keep

And hold onto your words

Cuz talk is cheap

And remember me tonight

When your asleep





“gue sayang banget sama lo, sya. gue gak akan pernah ngelepasin elo. Gue bakal ngejaga cinta kita ini, sampe ajal memisahkan kita…”





Because tonight will be the night that I will fall for you

Over again

Don't make me change my mind

Or I wont live to see another day

I swear it's true

Because a girl like you is impossible to find

Tonight will be the night that I will fall for you

Over again

Don't make me change my mind

Or I wont live to see another day

I swear it's true

Because a girl like you is impossible to find

Your impossible to find







**









Luluk dan elang sibuk memakan ice cream mereka. Sore ini, mereka berdua tengah berlindung dari hujan sambil memakan ice cream magnum classic.



“kak, belepotan tuh, gimaana sih makannya.” Ujar luluk sambil membersihkan noda ice cream yang belepotan di wajah elang.



Namun tiba-tiba elang menghentikan tangan luluk. Elang menatap luluk serius, luluk pun menatap elang dengan serius. Wajah elang pun semakin mendekat. Deru nafas elang menghangatkan wajah luluk. Semakin dekat. Semakin dekat.. lalu….







“andai ku gayus tambunaan….

Yang bisa pergi ke bali….



Semua keinginannya

Pasti bisa terpenuhi

Lucunya di negeri ini

Hukuman bisa dibeli

Kita orang yang lemah

Pasrah akan keadaan”



Seorang pengamen berambut gondrong mendekati luluk dan elang.



“shitt! Ganggu aja sih!” umpat elang sambil mengusir pengamen tadi.



“yaelah mas, saya kan Cuma mau ngameeennnn.”



“tapi gak sekarang! Sana-sana! Pergi lo hush hush!” usir elang. Dengan terpaksa anak kecil itu pergi meninggalkan elang dan luluk di halte bus itu.



Keadaan menjadi hening. Yang ada hanya kecanggungan. Luluk mencoba menghilangkan kesaltingannya, sedangkan elang mencari cara agar dapat mengutarakan perasaannya dengan luluk.





“luk..” panggil elang pelan.



“iya kak?”



“gue…. Hmmm…”



“elo kenapa kak??”



“gue…. Gue pengen elo jadi cewek gue luk..” kata elang #idih mau bilang gitu aja lama banget sih#



“hah??” luluk melongo mendengarnya.



“iya…. Gue udah suka sejak pertama kali kita ketemu… gue cinta sama elo…gue sayaaang banget sama lo…” ujar elang sambil menggenggam tangan luluk.

Luluknya mah speechless.



“gimana luk?? Lo mau??”



Dengan malu-malu, luluk mengangguk…



“beneran luk??”



“iya kak elaaang…”



Elang pun menerobos hujan sambil melompat-lompat girang(?)





“YEEY… MAKASIH TUHAN…UDAH NGASIH SAYA BIDADARI CANTIK KAYA GINI… MAKASIH MAKASIHHHH” teriak Elang di sela-sela hujan.



“LEBAY KAK!!” teriak luluk tak kalah kerasnya.



“YEE BIARIN… HUAAAA I LOVE YOU LULUUUUKKK!!!” teriak elang di bawah rinai hujan.



Sedangkan luluk hanya tertawa melihat tingkah elang yang autis itu. #wkwkwkwk maap#







**





Sudah setengah tahun. Masing-masing dari TPA dan The Angelo sudah berpasangan. Hanya tinggal Baiq dan Alvin saja yang belum. Mereka sering di jodoh-jodohkan oleh anak-anak TPA dan The angelo lainnya. Padahal Baiq sama sekali gak ngerti dengan perasaan Alvin terhadapnya. Kadang baik, perhatian, kadang cuek bebek, kaya gak kenal.



Dia pun semakin ragu, dengan perasaan dia sendiri. Apa iya perasaan itu masih ada untuk Alvin??





**





Hari kelulusan sekolah…



Semua anak TPA lulus dengan nilai yang memuaskan. Bahkan, Alvin mendudukin peringkat se-sekolah. Dan mereka semua membuktikan, pacaran ttuh bukan halangan untuk tetap meraih cita-cita #jiah bahasa gue#. Dan 1 yang mereka sesali dari hari kelulusan ini, mereka tak bisa sesekolah lagi dengan pacar-pacar mereka.



“gimana kalo hari kelulusan ini kita buat Alvin sama Baiq jadian??” usul Rio.



“boleh boleh… ide bagus Yo. Ada yang setuju??” tawar Cakka.



“saya setuju sekaliiiii.” Timpal Iel dan Elang.



“kalian berempat setuju?” Tanya iel.



“sangaatt!” serempak The Angelo minus Baiq.



“oke… gini yah.. blaa blaablaa”







**







Perpisahan tahun ini, anak-anak osis angkatan baru (termasuk The angelo) membuat konsep perpisahan yang beda. Sebelum malam promnite. Mereka menyelenggaarakan lomba masak bersama pasangan mereka masing-masing. Anak-anak kelas XII boleh mengajak siapa saja. Bahkan dari sekolah lainnya. Ini adalah salah satu trik untuk mendekatkan Alvin dengan Baiq.



Pertama adalah lomba masak. Karena tak tersisa pasangan lagi, terpaksa Alvin berpasangan dengan Baiq. Padahal, Alvin akan mengajak saudara sepupunya, Sivia, untuk berpasangan dengan nya. Tapi ternyata anak-anak osis telah menunjuknya berpasangan dengan Sivia.



Lomba masak pun di mulai. Alvin dan Baiq agak canggung karena sebelumnya, mereka tak sedekat ini. Mereka berdua di tuntut untuk bekerja sama dan saling membantu. Yaaaa, kaya pasangan suami istri gitu.



Alvin dan Baiq kebagian masak tenderloin steak. Salah satu masakan yang di kuasai Baiq dengan baik #beehh susah amat#



Mereka pun mulai memasak. Tiba-tiba kecanggungan mereka hilang begitu saja. Hanya ada gelak tawa di antara mereka.





“kayanya rencana kita berhasil yahh.” Bisik seorang cowok



“bener. Hhi tunggu aja kejutan yang lebih dari ini. Cabut yuk.”



“yuuuukkk.”









**







Setelah di umumkan pemenang permainan pertama, para peserta di perbolehkan istirahat sejenak. Mereka melepas penat di aula sekolah yang saat itu sedang kosong karena libur.hanya ada kelas XII IPA 1 saja dan anak-anak osis. Alvin dan Baiq mulai makin dekat dan dekat. Dan anak-anak angelo + TPA pun semakin yakin rencana mereka akan berhasil.







Alvin dan Baiq masuk ke babak 5 besar. Dimana mereka ditantang untuk mencari sebuah harta harun di sekolah. Clue-nya, harta karun itu ada di bawah sebuah kardus besar.



Alvin dan Baiq pun langsung mencari menuju gudang sekolah. Mereka membongkar tumpukan kardus, berharap akan menemukan harta karun itu. Dan …..



Taraaaaaaaaaaaaaaaa…



Dua buah tiket masuk ke dufan.



“ini hadiahnya?”



“hahahaha.. yaelah kalo gini mah gue juga bisa bayar sendiri lagi.. hihi.”



“yaelah vin, kan lumayan, gratisan. Kapan lagi gituu..”



“iya juga, ya, hehehe.. yaudah yok balik ke anak-anak.”



Tanpa sadar, Alvin menggandeng tangan Baiq sampai ke tempat anak-anak osis. Baiq hanya diam, menyembunyikan salting dan malunya.





“oke selamet ya buat kak Alvin dan Baiq, kalian dapet harta karun, masuk ke dufan, maen di dufan, GRATIS! BESOK! Huaaa selamet selameet.” Ujar Ivone, ketua osis tahun ini. #kapaaan pemilihannya? Kapan22 deh hahah#





Alvin dan Baiq girang sampai-sampai mereka berpelukan(?) anak-anak the angelo dan TPA pun tersenyum puas.



“ternyata hasil kita ga sia-sia ya” ujar luluk.



“bener tuh luk, gue yakin pasti baiq sama Alvin entar jadian.” Lanjut Tasya.



“wooo iya dong yang bikini de siapa dulu? Pangeran gue gituuuu..” bangga Dita.



“iye iyeee,, serah lo deh dit..” kata ivone sambil menoyor Dita.



“pastiin mereka jadian besok, ya. Besok kita jemput jam 9 pagi. See ya girls.” Ujar TPA minus Alvin kepada The angelo minus Baiq.







**





Pagi ini. Alvin telah bersiap untuk menjemput Baiq ke Dufan. Entah mengapa, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Perasaannya juga amat senang apabila mengingat wajah Baiq. Tanpa memikirkan itu, Alvin pun segera menjemput Baiq di rumahnya.





Alvin sampai 15 menit setelahnya. Baiq keluar mengenakan kaos putih dan celana jeans ¾ warna biru muda, serta sepatu keds putih. Penampilan yang sangat simple. Tapi mampu menghipnotis Alvin.



“udah siap, vin?” Tanya baiq sambil menaiki mobil Alvin.



“u..udah kok, berangkat sekarang yah.”



“okee..”





Merekapun tak butuh waktu lama, hanya 20 menit mereka sampai di dufan yang kebetulan masih sepi. Jam masih menunjukkan pukul 10. Alvin dan baiq sengaja agar tidak perlu mengantree untuk bermain di dufan.



Mereka begitu menikmati semua permainan di dalam dufan. Mulai dari tornado, halilintar, istana boneka, bianglala, sampai niagaragara. Alvin sempat membelikan Baiq sebuah boneka teddy bear yang lumayan besar. Entah mengapa, saat memberikan boneka itu ke Baiq, jantung Alvin makin berdebar tak karuan.





“lo gak kebasahan?” Tanya Alvin.



“gak kok. Elo tuh yang basah banget. Ganti sana gih.”



“ga ah, gue pengen kaya gini.”



“kok gitu?”



“biar bisa lo peluk….”



“aah Alvin apaan sih, udah dari jam berapa lo ngegombalin gue? Dari awal masuk ke dufan, gombal mulu.”



Bahkan Alvin tak sadar, bahwa dia baru saja menggombali Baiq.



“ehmmm gue mau ngomong sama elo”



“mau ngomong apa vin?”



“entah kenapa, gue gatau kapan perasaan gue ini tumbuh hanya buat elo. Gue gat au, sejak kapan setiap deket sama lo jantung gue jadi berdetak gak karuan. Gue juga gak tau, sejak kapan gue cinta sama lo, dan pengen milikin elo. Gue pengen lo jadi cewek gue. Lo mau?”



Hening sesaat. Baiq nampak berfikir. Ia meyakinkan dirinya, bahwa rasa cinta untuk Alvin memang masih ada. “iya gue mau vin.” Jawab Baiq akhirnya.



“beneran??”



“iyaa alviiin…”



Alvin pun langsung mendekap Baiq dalam pelukannya. “I will be the last for you. And you will be the last for me..” bisik Alvin tepat di telinga Baiq.



Reflek Baiq mencium pipi Alvin. Rona merah muda kembali ada di muka Alvin dan Baiq. Tiba-tiba…..





“CIEEEEEEEEE YANG UDAH JADIAN.. PEJENYA MANAA????” serempak anak-anak TPA dan The Angelo.



“kaliannn???”



“berterimakasih lah pada Rio, karena dia pencetus ide ini… ahahaha.” Ujar Dita.



“maksudnya??” Tanya Baiq bingung,



“kami yang ngatur ini semua, kami yang buat kalian jadian horee peje dooonggggg…” girang cakka dan ivone #dasar kalo masalah PJ emang paling semangat!!#



“gampang.. yuk cabut ke café biasanya!” ajak Alvin







**







Semuanya bersatu. Cinta itu memang datang tak di undang. Cinta bisa kapan saja hadir. Entah bagaimana penyampaiannya. Entah bagaimana caranya. Dan entah bagaimana bentuknya.



Cinta sejati akan abadi. Sampai maut memisahkan. Cinta abadi akan selalu bersama. Dalam suka mau pun duka. Cinta sejati takkan pernah mati, walau dunia memisahkan mereka. Cinta itu suatu anurgah yang di berikan tuhan untuk kita. Dan kita harus menjaga anugrah itu baik-baik, sebelum kita kehilangannya.







**





“WOY BANGUN WOY! MOLOR AJA! JAM BERAPA INI?” teriak seorang perempuan paruh baya membangunkan ke5 cowok yang sedang tertidur pulas di sofa.



“hah?? Emang jam berapa mbok?”



“JAM 7! CEPET MANDI SANA. KERJAANNYA TIDUR MULU. SIAPA YANG BAKAL BANTUIN SAYA JUALAN HAH?”



“huaaa mbok serjun sialaaan!! Gue padahal baru mimpi jadian sama Tasyaaaa!!!” gerutu Iel.



“Gue juga, baru aja mimpi pacaran sama Ivone!!” tambah cakka.



“gue sama Ditaa!!” ujar Rio.



“gue sama Baiq….”



“lah gue sama luluk!!!”





1 detik

2 detik

3 detik







“HAHAHAHAHAHAHA… CUMA MIMPI TERNYATA! HAHAHAHA…” mereka tertawa terbahak-bahak bersama-sama setelah kemarin sore mereka menonton film komedi berjudul OXYGEN VX ONYX VS MENIX(?) sampai ketiduran dan bermimpi sama seperti di fillm tersebut









THE END







****************************









BHAHAHAAHAHAAHAHAH saya bela22in begadang sampe jam 4 pagi dtemenin kak ivon bikin nih cerpen. sumpah gajelas. ga lucu. ga romantis. karena saya cuma penulis amatiran sajaa :P hahaha :D

like or comment yaaah :3 saya tungguuuuuuuuuuuuuuuu :D