Selasa, 28 Juni 2011

Almost Soulmate -Part 2-

maap....ngaret banget nih cerbung.. wahahaha :D

baru ada ide nih wahah :D okeeee selamat membaca

*****

Rio mengetuk pelan pintu berkayu jati itu. Sedangkan ify mengekor di belakangnya. Mereka masuk ke dalam ruangan yang hamper 80% di domisili warna abu-abu tersebut. Di sudut ruangan tampak seseorang lelaki yang kira-kira berusia 22 tahun berkutat dengan laptopnya. Dengan kaca mata berwarna hitam dan rambut cepak rapi dia sibuk mengetik sesuatu.

“bos.” Panggil Rio mendekati meja bossnya tersebut.

Alvin—sang boss, mendongak dan tersenyum. Dari sudut matanya, dia melihat Ify yang mengekor di belakangnya. Lalu menatap Rio penuh arti.

“ini ify, boss. Fy kenalin, dia direktur disini.” Ujar Rio yang sepertinya akrab dengan Alvin.

“hai, fy. Selamat datang di perusahaan saya. Mohon kerjasamanya ya.” Ujar Alvin sambil berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya.

Ify tersenyum dan membalas uluran tangan Alvin. “harusnya saya yang bilang seperti itu, pak.”

Alvin terkekeh pelan. “panggil Alvin aja, atau kak lah paling ngga, berasa tua banget saya.”

Rio menyerngit. ‘kok kaya akrab gini sih’ batin Rio.

“okey, kak.”

“sipp, gimana Yo? Udah di ajak keliling kantor?”

Rio mengangguk. “udah boss. Semuanya udah saya kenalkan ke dia.”

Alvin manggut-manggut. “mending istirahat dulu gih. Besok kita udah mulai latihan. Oh ya, jaga stamina kamu ya. Besok kamu harus nemenin Rio ke pensi SMA 70. Cari band baru, okey.”

“iya, kak.”

“yaudah, saya balik dulu ya boss. Gbye.” Pamit Rio yang lalu beranjak dari sana dengan ify yang mengekorinya.

**

Rio mengajak Ify Ke apartemen yang mulai sekarang menjadi tempat Ify tinggal. Ify menatap kagum apartemen bertingkat 90 ini. Mulutnya menganga, yang tanpa sadar membuat Rio menahan tawa.

“busyet, iki omah opo istana jane?)” (busyet ini rumah atau istana sih?) ify menggumam saat masuk kedalam apartemen Rio.

“mulai sekarang lo sama sodara lo itu tinggal disini” kata Rio, kembali ke sifat dinginnya lagi.

“beneran mas?” ujar Ify girang

Rio menatap ify datar dan hanya mengangguk lalu beranjak dari sana. Ify masih tertegun memandangi apartement yang luas ini.

“Riooooo, gue bawa brow—.” teriak seseorang yang ada di ambang pintu membawa sekresek brownies coklat tiba tiba diam mematung ketika melihat Ify yang nampaknya juga terkejut dengan kehadiran cewek ini.

“siapa lo?” sengit cewek cantik berpipi sedikit chubby dan berkulit putih tersebut.

“sa-saya, sa-saya ify, mbak” gagap Ify

“mbak? Lo kira gue mbak lo apa! Mana Rio??”

Tubuh ify gemetaran, seumur umur belum ada orang yang membentakknya seperti ini. Tiba tiba Rio berjalan ke Ify sambil menyodorkan gelas berisi orange juice. Ify menerima gelas itu lalu meminumnya.

Rio berpaling pada gadis yang sedang mematung tak jauh dari tempatnya berdiri dengan ify.

“ngapain kesini?” Tanya Rio sinis.

Gadis berlesung pipit itu tersadar dari lamunannya, “eh, uhm, ini, gue bawain brownies.” Cewek itu tergagap dan menyerahkan kresek isi brownies tersebut.

“hmm, thanks” Rio mengambilnya dan membukanya sambil duduk di sofa.

“lo mau, Fy?” tawar Rio kepada Ify.

Ify menggeleng “gak usah, Ify mau tidur aja, Mas. Permisi.” Ify nyelonong pergi meninggalkan Rio.

“Dia siapa sih??? Pembokat baru lo??” kata gadis itu sarkatis.

“Jangan asal ngomong! Punya mulut tuh di jaga, jangan buat ngomong yang aneh-aneh!” bentak Rio.

“kenapa sih Io, gue selalu salah di mata lo. Kenapa lo ga bisa bersikap manis sama gue? Semanis sikap lo ke cewek tadi!”

“Siv, sorry, gue udah bilang berapa kali sih sama lo? Ga usah di lanjutin acara ‘suka’ lo itu ke gue, karena sampe kapan pun gue ga bisa bales, dan gue udah bilangin kan konsekuuensi kalo lo suka sama gue?”

Sivia—gadis tadi—membatu di tempatnya berdiri. Hatinya terasa mencelos, karena sekeras apapun usahanya, Rio—mungkin—tak akan pernah jadi milikknya. Rio memang sudah pernah mengingatkannya berulang kali, bahwa Rio tak ada rasa dengannya, dan tak akan pernah membalas cintanya.

“Sekarang, sampe kapan lo disitu? Ga capek? Ga pengen pulang?”

Sivia tersadar dari lamunannya, “Oke, gue pulang. Dan…. Yo..” Sivia berhenti sejenak “Gue akan tetap berjuang buat cinta gue ke elo.” Lalu ia beranjak dari apartement Rio.

Rio tak menghiraukan ucapan Sivia, ia duduk dengan santai dan mengambil remote TVnya. Tak lama, datanglah Deva dan Debo. Mereka membawa dua kotak Pizza Hut. Dengan wajah berseri, Debo langsung membuka Pizza tersebut dan melahapnya. Seperti orang belum makan seminggu gitu, deh.

“Mana Ify?” Tanya Debo Dengan mulut penuh dengan Pizza.

“Di kamar. Lagi istirahat. Besok ada pensi.” Jawab Rio sambil meminum orange juice nya.

“Oh iya, gue lupa.” Deva meneguk segelas air mineral yang ia ambil. “Lo harus jaga stamina, Yo. Biar besok ga kecapekan.” Deva mengingatkan.

“Yes, I do it. Btw, dari mana lo berdua?”

Deva melirik Debo yang cuek melahan Pizza. “Beli Pizza, beli baju, ngajarin dia gaul. Hahha.” Deva terkekeh.

Rio menyerngit. “Tumben banget cepet akrab sama orang.” Gumamnya.

Deva mengangkat bahu. “Gue juga gatau, akrab banget sama dia. Asyik anaknya, medok gimana gitu.”

“Ngomongin apa sih?” Tanya Debo dengan santainya.

Rio dan Deva terkikik. “Ngomongin cicak terbang.” Seru mereka serempak.

“Hah?” Deva melongo “emang ada?”

“haahhahahahha” mereka berdua trtawa geli melihat Debo dengan watados-nya sambil mulut yang penuh dengan pizza.

Debo memutar bola matanya sambil terus melahap Pizza.

Ify tercenung di kamar. Dia menatap liontin berbandul STEFY di tangannya. Stev, teman masa kecilnya dipanti. Dia seorang cowok manis yang pandai bernyanyi. Ify pernah mengagumi Stev, bahkan bisa di bilang menyukainya. Ify, Cuma Stev lah yang memanggilnya Ify. Dan tiba-tiba Rio dengan seenaknya mengulang kata-kata Stev, yang bilang bahwa Icha adalah panggilan yang lazim di pakai orang-orang. Jadi Stev memanggilnya Ify.

Ngomong ngomong soal Stev, mendadak dia jadi ingat pada Stev. Yaaa walaupun sedikit kabur dari bayangannya, karena dia berada dipanti hanya 2 tahun, waktu Ify masih SD, jadi sosok Stev sedikit hilang dari ingatannya.

Ify masih ingat, saat Stev mendapat orang tua angkat, dia berpesan pada Ify, bahwa dia harus menjaga kalung STEFY, dan kelak jika takdir mempertemukan mereka, Stev akan mengajaknya berpacaran. Hal yang telah di impikan ify di setiap malam tidurnya selama 9 tahun terakhir. Dalam hati kecilnya, Ify berharap dia akan menemukan Stev di Jakarta.

“aku kangen sama kamu, Stev.” Lirih Ify sambil memeluk kalung STEFY itu. Dia membaringkan tubuhnya ke kasur. Sambil memejamkan mata, dia menerka-nerka wajah Stev sekarang.

*

Pada waktu yang sama, Debo mengambil udara segar di balkon apartemen Rio. Apartement Rio berada di kawasan strategis, dekat dengan mall, tempat wisata, café, dan lain-lain. Impian terbesar Debo adalah, ‘melihat MONAS’ dan dari sini, dia bisa melihat jelas bagaimana kokohnya monas, yang membuat Debo sangat bersyukur bisa bertemu Rio dan S-Entertaiment—tempar Rio dan Ify akan bekerja.

Tiba-tiba Debo teringat pada Stev. Ya, Debo, Stev dan Ify adalah 3 sahabat yang selalu kemana-mana setiap saat. Ketika Debo melihat Rio, dia seperti melihat Stev. Stev dalam wujud yang berbeda. Yang sedikit angkuh dan jaim. Tak seperti Stev waktu kecil, yang ramah pada siaapa saja dan hobi tersenyum.

Stev mendapat orangtua angkat waktu mereka bertiga kelas 3 SD, yang membuat Ify sempat terpuruk, kehilangan sahabat sekaligus cowok yang disukainya. Sejak perpisahannya dengan Stev, Debo berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan membantu Ify menemukan Stev.

*

Waking up I see that everything is ok

The first time in my life and now it's so great

Slowing down I look around and I am so amazed

I think about the little things that make life great

I wouldn't change a thing about it

This is the best feeling

Alvin melinting kemejanya hingga selengan. Sambil meneguk segelas chapuccinno ice-nya, alunan lagu Avril Lavigne menemaninya malam ini. Sambil sesekali melihat jam, dia mendengus. Sudah 3 kali terhitung sejak kedatangannya kemari.

“Udah lama, kak?” sivia menghampirinya. Dengan muka sedikit kusut dan nada ketus khas-nya, Alvin sudah menebak bahwa Sivia sedang badmood.

“Kenapa Siv?” Tanya Alvin sambil memandanginya lekat-lekat.

Sivia mendengus, sambil melipat tangan di atas meja. “Rio..”

Seketika wajah alvin—yang tadinya—sudah lelah, menjadi bertambah lelah ketika nama ‘Rio’ disebut.

“Lo tau ga sih, masa nih ya blaablaaa…”

Suara Sivia seperti tak masuk ke dalam indra pendengaran Alvin. Alvin sibuk mengamati lekuk wajah Sivia. Cantik. Tapi, kenapa Sivia selalu menceritakan lelaki lain di hadapannya? Kenapa bukan dia?

This innocence is brilliance

I hope that it will stay

This moment is perfect

Please don't go away

I need you now

And I'll hold on to it

Don't you let it pass you by

Kalau boleh jujur, Alvin sudah mengagumi Sivia sejak SMA. Dia dan Sivia adalah tetangga. Waktu SMA kelas XII, sedangkan Sivia masih kelas IX, Alvin sudah merasa, setiap bertemu Sivia, ia selalu merasa ada kupu-kupu yang menari dalam perutnya.

“Vin, lo bisa bantuin gue jadian sama Rio? Yaa, kata lain sih, nyomblangin.” Ujar Sivia.

Alvin hampir jatuh dari kursinya saking terlalu kaget dengan ucapan Sivia. Rasanya dia perlu oksigen lebih untuk mendengarkan ucapan Sivia lebih lanjut. Jujur, dalam lubuk hatinya, dia ingin Sivia melihat ketulusan hati Alvin. Umur mereka memang terpaut 4 tahun. Tapi mereka cocok dan saling melengkapi.

Sivia, cewek modis yang bekerja sebagai model andalan Sindunata Entertaiment. Atau S-Entertaiment, kantor Alvin. Walau umurnya baru menginjak 16 tahun, tapi bakatnya setara dengan model-model yang umurnya lebih tua daripada Sivia. Selain itu alvin juga ‘menaruh hati’ pada Sivia, jadi ‘pendorong’ Sivia untuk masuk kedalam S-Entertaiment.

Alvin dan Rio sebenarnya bersahabat. Rio yang kelas XII, yang umurnya hanya berbeda 3 tahun dengan Alvin. Setahun lebih tua daripada Sivia. Alvin dan Rio bertemu tak sengaja di S-Entertaiment. Selain alvin adalah pewaris tahta S-ENtertaiment, Alvin juga orang yang gampang akrab dengan orang baru. Di kantor, boleh saja memanggil dia boss. Tapi di luar, mau panggil apa aja mah terserah(?)

Found a place so safe, not a single tear

The first time in my life and now it's so clear

Feel calm, I belong, I'm so happy here

It's so strong and now I let myself be sincere

I wouldn't change a thing about it

This is the best feeling

“Gu-gue..” Alvin tergagap. Melihat ekspresi Sivia yang sangat berharap padanya, akhirnya dia mengangguk. “Gue usahain, Siv”

“Beneran??” Tanya Sivia tak percaya sambil bergelayut manja di lengan Alvin.

Alvin mengangguk dan memaksakan senyumnya, “Everything for you, my little sista”

“Thanks brotha.” Sivia tersenyum lebar.

Alvin hanya tersenyum masam

*

Maap yaak kalo jeleek... idenya mentok sampe disini sih-___- hehehe --v

part 3 nya insyaallah nanti malem... insya allah loh yaa,... wahahaha

Almost Soulmate -Part 1-

oke ini part 1 nya. semoga memuaskan. karena kemungkinan saya cuma bisa ngepost seminggu dua kali saja. itu pun kalo ada mood :P

oke oke

selamat membaca

************************

Tap tap tap

Suara langkah kaki seorang pria memecah keheningan di lobby sebuah kantor perusahaan rekaman. Pemuda di balik balutan jas warna coklat itu menghentikan langkah nya saat mendapati apa yang ia cari berada di lobby kantor tempat ia bekerja itu.

“hey, udah lama?” tanya pria itu sambil duduk di depan dua orang pria yang membawa 2 koper besar tersebut.

“barusan. Ada apa, sih? Kok suruh kita buru-buru balik? Padahal pengen wisata kuliner disana.” Ujar seseorang bermata belo yang tak lain adalah Deva.

“ada project baru dari produser. Ada penyanyi baru yang harus di seleksi. Dan boss percaya sama lo, Yo.” Ucap pria yang memiliki senyuman maut yang dapat membuat para wanita luluh di hadapannya.

“kok gue? Kenapa gak penyanyi yang lebih senior?” tanya Rio heran.

Pria di depannya, sang music director, yang bernama Obiet mengangkat bahunya. “bukannya itu bagus? Itu berarti boss percaya sama lo, kan?”

“bener juga kata Obiet, Yo. Ini kesempatan lo biar lo lebih di perhatiin sama si boss.” Sahut Deva sambil tersenyum penuh arti.

“ihh, gue jadi artis, jadi penyanyi, Cuma pengen nyari seseorang. Bukan mengejar ketenaran. Inget itu.” Nada bicara Rio jadi serius.

Deva menelan ludah, merasa telah menyinggung perasaan sahabatnya itu. “sora sora. Hehe. Terus, ada berapa orang yang kita audisi, Biet?” tanya Deva mengalihkan pembicaraaan.

“ada 2 orang. Dan itu pilihan boss sendiri. Lo harus pilih salah satu antara mereka. Dan setelah lo nyeleksi penyanyi baru, lo nyeleksi anggota band baru. Hari kamis, sih.”

“hari Kamis bukannya gue ada acara pensi di SMA 70 ?” tanya Rio pada Deva.

“yaps, dan disitu lo akan di suguhin sama band-band baru. Ada 3 band. Dan lo pilih satu band yang paling berkualitas, biar di orbitin sekalian sama boss.” Jelas Obiet.

Rio dan Deva hanya manggut-manggut.

“mending kalian istirahat dulu, deh. Ntar jam 4 balik ke sini lagi soalnya. Penyeleksian penyanyi. Ntar gue hubungin lo lagi aja, deh. Gue juga harus balik kerja juga. Hehe.” Obiet menarik kedua ujung bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.

“yaudah. Gue balik dulu, ya. See ya.” Rio bangkit dari duduknya lalu beranjak dari lobby dengan Deva yang mengekori nya.

**

Jakarta sedang di guyur hujan, namun tak menyurutkan semangat 45 milik gadis berambut ikal panjang ini. Di dampingi dengan seorang pria di sampingnya, dia tetap berjalan dengan jas hujan yang membungkus badan mereka.

“mas, ini ya?” tanya gadis itu polos sambil menunjuk sebuah kertas dan sebuah bangunan tinggi menjulang secara bersamaan.

Pria yang bersama nya tadi mengambil kertas itu dan membacanya, lalu ia menghampiri satpam yang ada di depan bangunan itu.

“pak, apa benar ini alamat kantor ini?” tanya pria itu sambil menunjukkan kertas yang ia bawa.

“benar, mas. Ada apa ya?”

“kami akan ikut seleksi menyanyi disini, pak. Dan kata pak Alvin, kami disuruh langsung ke studio saja. Boleh kah kami masuk?” sahut Icha sedikit canggung.

“ohh boleh mas, silahkan silahkan.”

Icha tersenyum senang dan mengikuti satpam itu ke dalam kantor. Sedangkan pria tadi hanya mengekor di belakangnya.

“ohiya mas, mbak, jas hujannya boleh di lepas dulu? Nanti saya keringkan dulu.” Ujar satpam itu.

“oh iya, pak,” icha dan pria tadi melepas jas hujan mereka dan memberikannya kepada satpam.

Satpam membisikkan sesuatu pada resepsionis, resepsionis mengangguk mengerti.

“mari mbak, mas, saya antar ke studio.” Ucap resepsionis itu ramah.

“eh? Iya mbak.” Ujar icha yang sadar dari keterkagumannya terhadap kantor ini.

Resepsionis itu menuntun mereka hingga sampai ke sebuah studio. Jam menunjukkan pukul 4 sore. Dan disana telah ada seorang gadis duduk di sofa berwarna putih dengan raut wajah harap-harap cemas.

Icha masuk ke dalam ditemani dengan pria yang ia anggap sebagai kakaknya itu. “mas, aku grogi iniihh..” bisiknya.

“udah, gak usah grogi. Rileks aja, cha. Lagi pula, kamu udah berkali-kali nyanyi di depan umum kan??”

Icha mengangguk sambil menatap Debo, mas-nya itu dengan tatapan cemas. “aku takut, mas huh.”

“udah, kamu pasti bisa, kok.”

Seseorang yang tengah duduk bersandar pada kursi kerjanya berdehem pelan. Tapi cukup membuat gadis-gadis yang duduk di sofa terpelonjak kaget.

“sudah kumpul semua?” tanya suara baritone itu tanpa melepas kacamata hitamnya.

“udah, kak.” Jawab seseorang.

“oke, di mulai dari…. ashilla. Silahkan ikut ke dalam ruang kerja saya.” Ujar pria yang ternyata adalah Rio tadi.

Seorang gadis berambut hitam lurus panjang itu masuk dengan senyum mengembang di wajahnya. Dari tempat duduknnya, Icha tersenyum miris, sambil terus berkomat-kkamit.

Gadis bernama Ashilla tadi masuk ke dalam studio yang di maksud dengan ‘ruang kerja’ oleh Rio.

“Ashilla? Intro please.” Ujar Rio sambil membaca biodata Ashilla.

“nama saya Ashilla Zahrantiara, biasa di panggil Shilla. Sekolah di SMA Citra Bangsa, kelas 2 SMA.” Ujarnya.

“hmm oke. Silahkan mulai bernyanyi.”

“ehmm…” shilla berdehem sebentar lalu melirik ke arah Rio. Rio yang nampak tak acuh dengan Shilla hanya sabar menunggu gadis di depannya ini bernyanyi.

“Sejak ia pergi dari hidupku ku merasa sepi

Dia tinggalkan ku sendiri disini tanpa satu yang pasti

Aku tak tau harus bagaimana

Aku merasa tiada berkawan

Selain dirimu selain cintamu

Kirim aku malaikatmu biar jadi kawan hidupku

Dan tunjukkan jalan yang memang kau pilihkan untukku

Kirim aku malaikatmu karna ku sepi berada disini

Dan di dunia ini aku tak mau sendiri”

Shilla menyelesaikan lagunya sambil curi-curi pandang ke Rio yang ekspresinya tak berubah sama sekali. Tak terkejut, kagum, atau yang lainnya.

“oke, panggilkan peserta nomor dua, ya. Alyssa saufika umari.” Katanya datar sambil mencoret-coret sesuatu di tangannya.

“ihh jutek banget” umpat Shilla sambil berlalu.

“gimana Yo? Dia bagus?” tanya Deva memasuki ruangan Rio.

Rio menggeleng. “Cuma dari fisik dan penampilannya dia dapet. Soal soara, nol besar lah.”

“masih ada satu lagi, Yo. Dan kayanya dia 180 derajat bedanya sama cewek yang barusan masuk tadi.”

Rio memincingkan matanya, “suruh masuk cepetan.”

Deva mengangguk, lalu memanggil gadis bernama Alyssa tersebut. Dengan takut, icha masuk ke dalam sana, dan tak lupa terlebih dulu berdoa dan meminta dukungan oleh Debo.

“kamu alyssa? “ tanya Rio to the point.

“iya, mas.”

“mas mas mas mas. Saya Rio. Bukan ‘mas’ kamu!” jutek Rio.

“eh emm iya, maaf.”

Rio melihat ada sesuatu yang beda dengan gadis di hadapannya ini. Mengenakan kemeja warna putih kotak-kotak dan celana jeans pensil warna coklat. Sangat sederhana, di banding Shilla yang mengenakan dress dan memakai riasan yang mencolok.

“siapa nama panggilan kamu?”

“icha,” jawab icha pelan.

“oh. Yasudah, silahkan mulai.”

“mulai ngapain ya?”

Gubrak! Nih anak lemot, oon ato apa, sih? Batin Rio jengkel.

“nyanyi lah! Masa ngepel!” jawab Rio sewot.

“eehh i-iya mas. Iya.”

Icha diam sebentar, mengatur nafasnya agar tak salah melafalkan nada. Lalu menarik nafasnya dalam-dalam.

“Suatu malam tak berawan

Tiada bulan tanpa suara

Hanya satu bintang kejora berbisik

Menyapa hatiku

Bila saja hati ini hanya ingin teman semata

Betapa hanya kau yang di hati

Sahabat kecilku dulu

Walau lama tak berjumpa namun selalu kau ada

Membuat sebuah dunia terindah yang pernah ada

Bila hatiku gembira

Dan ingin ku bagikannya Hanya dia saja seorang

Walau tak ada

Bila saja hati ini dapat pahami

Apakah semua orang di dunia

Itu hanya punya satu sahabat

Haruskah hidupku ini seperti bintang kejora

Ramah ikhlas menyinari semua yang sedang sepi

Tiada bintang kau tak balas

Tiada pun merasa sunyi

Walaupun hanya tersimpan di hati”

Seakan terhipnotis oleh suara icha, Rio ikut bersenandung kecil. Suara mezosopran yang dimiliki Icha sangat merdu. Dan harus Rio akui, kalau ini suara termedu yang pernah di dengarnya.

Tanpa sadar, Rio menyunggingkan senyum di wajahnya. “sumpah. Keren banget.” Gumam Rio.

Icha mengangkat kepala yang sedari tadi ia tundukkan. “beneran, mas?”

Seketika raut wajah Rio berubah. “gak usah panggil mas bisa kali? Kak kek, ato apa lah..”

“eee iya iya maaf.”

“oke kamu tunggu hasilnya 2 jam lagi.” Rio langsung meninggalkan studio nya. Sedangkan icha tercengang disitu.

“kok aku ditinggalin sih? Ahh aneh tenan cah kuwi.” Cibir icha yang lalu menghampiri Debo di luar studio.

“piye cha? Dia suka?” Tanya Debo setelah icha keluar dari studio.

“gak tau jugaa, orang dia main pergi aja gitu.”

“oh, kamu keterima?”

“belom tau juga, mas. Kata mas Rio tadi, aku di suruh nunggu 2 jam lagi. Nyari makan sik yuk.” Ajak Icha.

“yawis, ayo.” Debo menarik tangan icha menuju keluar gedung.

**

Sementara di ruang kerja produser, Rio masuk ke dalam memasang muka senang.

“boss, saya dapet penyanyinya!” pekik Rio senang.

Alvin—bosnya, menoleh kea rah Rio sambil tersenyum tipis. “then, siapa yang kamu pilih?”

Dengan semangat 45, Rio duduk di depan bosnya itu sambil terus memamerkan deretan gigi putihnya, “Alyssa saufika umari, boss! She have a great voice,”

“sudah saya duga. Hmm. Ya ya ya. Dia memang punya talenta yang bagus. Dan dengar-dengar, dia menguasai satu alat musik. Ya kalau saya gak salah informasi, dia bisa bermain keyboard.” Jelas pak Alvin tak kalah semangatnya dengan Rio.

“oh, gitu ya. Terus setelah ini, gimana boss?”

“ajak latihan vocal dulu. Dan kalau bisa, ajak dia berkeliling dulu disini. Bersosialisasi dengan staff-staff yang lainnya. Setelah itu, ajak dia keruangan saya.”

“baik boss. Saya permisi dulu.”

Rio menghilang di balik pintu ruang kerja direktur utama IC-production tersebut.

‘semoga, ini menjadi awal yang baik’ batin Pak Alvin sambil tersenyum.

**

Icha tengah tertawa di lobby kantor sambil sesekali menepuk lengan Debo pelan. Sambil menunggu hasil, ia dan Debo memilih untuk bercanda gurau di lobby. Ia melihat salah satu kontestan yang kalau ia tak salah dengar bernama Ashilla, sedang duduk di pojok lobby sambil bersolek.

“eh mas mas. Lihat deh. Itu, endel banget yo.” Ujar Icha sambil terkekeh.

“hush, ga boleh gitu, ah. Biarin to, orang dia cantik kok.”

“ciee, mas Debo, wes ngerti cantik-cantikan barang, to? Waah, jangan-jangan mas Debo naksir sama mbak Shilla ya?” icha mengedipkan sebelah matanya.

“hah? Ora ora! Ngwur aja kamu ini.” Elak Debo.

“hehehe piss, mas.”

“emm, di mohon kepada saudara Shilla dan Icha, supaya masuk kedalam studio Mario.” Ujar seorang resepsionis setelah menerima telefon dari seseorang.

Icha yang merasa namanya di sebut pun segera bangkit dari duduknya, bersamaan dengan Shilla.

“lo yakin, lo bakal menangis kompetisi ini?” bisik Shilla pada Icha.

Icha menoleh kea rah Shilla. “ndak tau, mbak. Saya sih optimis saja, toh yang ngatur Tuhan kok.” Jawab Icha sekenanya.

Shilla tak menghiraukan perkataan Icha barusan. Dengan cepat, ia masuk ke dalam studio yang sudah berisi Rio dan Deva di dalamnya.

“oke, sebelumnya, saya minta maaf, kalau salah satu dari kalian harus ada yang nggak terpilih, dan saya minta maaf.”

Icha tampak berkomat kamit. Sedangkan Shilla hanya cengir-cengir kea rah Rio dan Deva. Rio nampak tak acuh pada Shilla, sedangkan Deva yang melihat tingkah Shilla bergidik ngeri.

“maaf, Shilla, kami gak bisa pilih kamu.”

Shilla melotot, “what? Gak bisa pilih saya? Dengan kata lain, icha yang menang?”

Rio tersenyum, “yeah, im sorry ladies.” Kata Rio.

“ihh, ini gak adil! Jelas-jelas lebih enak suara gue dari pada gadis kampong ini! Please deh Yo, lo nggak budek kan? Sampe pilih dia?” Tanya Shilla memastikan.

Rio memberi isyarat pada Deva, Deva yang sudah mengerti hanya mengangguk. Lalu menyeret Shilla keluar.

“Oke, Icha, karena lo yang kepilih, pertama-tama, kenalin. Nama gue Mario Stevano Aditya. Just call me Rio, ga usah pake Mas. Karena tempat tinggal lo jauh, sementara lo tinggal di apartemen gue dulu. Dan gue minta, kalo lo gak keberatan, ubah nama panggilan lo jadi Ify. Bukan Icha. Icha pasaran banget.” Ujar Rio sedikit sinis.

“yah mas, gak bisa gitu dong. Masa pake ganti nama segala??” elak Icha.

“bisa, dong. Gue bertanggung jawab penuh atas lo. Dan lo harus patuhi semua kata gue. Paham?”

Icha hanya mengangguk pasrah. Jika ia mengelak, ia tak akan menjadi penyanyi terkenal, bukan?

**

Sudah 20 menit Debo menunggu Icha yang sedari tadi tak keluar dari studio. Sedangkan ia melihat Shilla yang sudah keluar, ya walaupun di tarik paksa oleh Deva.

Tak lama kemudian, Icha keluar dari sana bersama Rio. Lalu mereka menghampiri Debo.

“mas, icha… eh ify di terima, mas! Tapi mulai sekarang mas panggil aku Ify aja, ya, jangan Icha. Oke mas.” Bisik Icha di telinga Debo. Belum sempat Debo bertanya alasannya, Rio sudah memotongnya.

“lo di tunggu Deva di luar. Deva bakal anterin lo ke apartemen gue. Dan ify harus disini, permintaan boss. Tenang, gue gak akan ngapa-gapain ify. Gue jamin. Gue bertanggung jawab penuh terhadap ify.” Rio dan Ify lalu beranjak dari sana.

Debo menatap ify dari jauh, “semoga, ini gak merubah apa-apa,”

**

bagaimana kelanjutan hidup ify selanjutnya??

dan siapa yang Rio dan ify cari sebenarnya??

ikuti kisah selanjutnya :P

Gimana gimana? jelek yaakk. hahahahaha. ini udah mampet idenya. Like or comment kalo suka. kritik juga boleh, saya tunggu :)

maaf kalo pendek. soalnya ide saya mampet :P

thanks :D

Almost Soulmate -Prolog-

hallo saya bawa cerbung baru. SKJJ kagak lanjut yaa. kalo saya ada mood gaje, pasti lanjut kok. tunggu aja mood itu keluar. hahaha.

semoga cerbung ini adalah cerbung saya yang paling cepet ngelanjutinnya(?) soalnya kadang kalo gak selera mah aku geletakkin gitu aja cerbungnya #plak#

udah udah doakan saja saya niat bikin lanjutannya ini cerbung. oke.

Hope You Like It !!

*************************

Sizzling Sandwich, sebuah café yang terletak di bilangan Orchard Road, Singapura, terlihat seorang pemuda tengah duduk di atas panggung dan membawa gitar. Dia adalah penyanyi yang sedang naik daun. Namanya Mario Stevano Aditya, seorang pelajar yang belum genap berusia 17 tahun, tapi namanya sudah malang melintang kemana-mana.

Ia memetik pelan dawai-dawai gitarnya. Sambil memejamkan mata, ia menghayati lagu yang kini tengah ia nyanyikan.

“I'm so glad you made time to see me

How's life? Tell me, how's your family?

I haven't seen them in a while

You've been good, busier than ever

We small talk, work and the weather

Your guard is up, and I know why

Because the last time you saw me

Is still burned in the back of your mind

You gave me roses, and I left them there to die

So this is me swallowing my pride

Standing in front of you, saying I'm sorry for that night

And I go back to December all the time

It turns out freedom ain't nothing but missing you

Wishing I'd realized what I had when you were mine

I go back to December, turn around and make it alright

I go back to December all the time

These days, I haven't been sleeping

Staying up, playing back myself leaving

When your birthday passed, and I didn't call

Then I think about summer, all the beautiful times

I watched you laughing from the passenger side

And realized I loved you in the fall

And then the cold came, the dark days

When fear crept into my mind

You gave me all your love, and all I gave you was goodbye

So this is me swallowing my pride

Standing in front of you, saying I'm sorry for that night

And I go back to December all the time

It turns out freedom ain't nothing but missing you

Wishing I'd realized what I had when you were mine

I go back to December, turn around and change my own mind

I go back to December all the time

I miss your tan skin, your sweet smile

So good to me, so right

And how you held me in your arms that September night

The first time you ever saw me cry

Maybe this is wishful thinking

Probably mindless dreaming

But if we loved again, I swear I'd love you right

I'd go back in time and change it, but I can't

So if the chain is on your door, I understand

This is me swallowing my pride

Standing in front of you, saying I'm sorry for that night

And I go back to December

It turns out freedom ain't nothing but missing you

Wishing I'd realized what I had when you were mine

I go back to December, turn around and make it alright

I go back to December, turn around and change my own mind

I go back to December all the time, all the time”

( taylor swift – back to December )

Tepukan riuh para pengunjung café itu menjadi akhir dari lagu seorang penyanyi muda yang akrab di sapa dengan Rio tersebut. Pemuda jakung yang mempunyai warna kulit sawo matang khas Indonesia turun dari panggung sambil tersenyum. Ia mengambil duduk di samping managernya, Deva Ekada. Saputra.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya pelan. “you look so amazing! when are you going to make an album?” celetuknya sambil tersenyum.

“I don’t know. We’ll see.” Jawab Rio sambil meneguk secangkir capuccino hangatnya.

Deva mendengus, melihat layar i-phone nya. Sambil memanyunkan bibir, dia meneguk segelas cocktail-nya. “Yo, boss bilang, lo harus balik ke Jakarta besok.”

Tanpa menghiraukan seseorang yang tadi menepuk bahunya, Rio meletakkan cangkirnya dan menoleh ke arah Deva dengan mata memincing. “secepet itu? Ah gak asik banget sih.” Cibirnya.

Deva mengangkat bahunya, “padahal gue masih pengen jalan-jalan.”

“besok jam berapa?” tanya Rio sambil merogoh Blackberry-nya.

Deva kembali berkutat dengan I-phone-nya. “sekitar jam 9 pagi kita udah harus take off” jawabnya singkat.

Rio mengangguk mengerti, sambil memainkan hapenya, ia mendapati beberapa sms masuk dari nomor tak di kenal. “susah ya jadi artis, banyak yang neror.” Gumam Rio sambil terkekeh.

Mata belo Deva melirik Rio, “gaya lo. Kaya udah artis kawakan aja.” Cibirnya sambil kembali meneguk cocktail-nya.

“baru juga 2 bulan jadi artis, mana bisa jadi kawakan. Ngelantur lo Dev, haha.”

Deva menyunggingkan senyum tipis dan beranjak dari duduknya. “gue ke toilet, kebelet.” Pernyataan Deva barusan membuat Rio terkekeh pelan.

Lihatlah, seorang sahabat yang selalu setia menemani sahabatnya, bahkan menjadi artis, sang sahabat rela menjadi manager-nya. Rio dan Deva sudah bersahabat bertahun-tahun lamanya. Bisa di bilang, dari orok mereka memang di takdirkan jadi sahabat. Sahabat yang tak terpisahkan.

**

Tetesan hujan bergelayut di atap rumah seorang gadis cantik yang kini sedang merapikan baju-bajunya ke dalam tas besar di atas ranjangnya itu.

Seorang wanita paruh baya tiba-tiba masuk ke dalam kamar gadis itu. Melihat gadis itu tengah sibuk merapikan baju-bajunya, wanita itu membantu.

“kamu yakin mau ke Jakarta?” tanya wanita paruh baya itu tak yakin.

“iya, buk, icha mau ke kota. Doain icha ya. Icha punya cita-cita yang harus icha raih disana,” jawab gadis yang bernama Icha itu sambil menghentikan aktifitasnya.

“tapi adik-adik kamu di panti ini gimana, nduk?” wanita paruh baya yang ternyata adalah ibu panti asuhan menatap icha dengan tatapan sedih.

“icha akan kembali, kalau icha udah menemukan apa yang icha cari, buk. Sampaikan sama adik-adik icha disini, ya. Icha pasti kembali. Buat ibuk, buat adik-adik icha.” Jelas icha.

“aku ikut ya cha,” ujar seorang pria yang memakai kacamata tanpa frame warna hitam itu.

“buat apa, mas? Mbok nggak usah to. Nanti yang jagain ibuk siapa?”

“ibuk bisa jaga diri kok nduk. Ibuk juga masih punya Edgar, dia kan udah besar. Bisa jagain adik-adik kamu yang lainnya disini.”

“gimana cha? Aku ikut ya?” tanya pemuda itu lagi meminta persetujuan.

“yaudah mas. Mas beres-beres sana. Soalnya kita tinggal lama di jakarta, mas.” Icha kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.

“yaudah. Aku ke kamar dulu ya Cha, buk.” Pamit pria itu.

Icha, seorang gadis panti asuhan yang bercita-cita menjadi seorang penyanyi terkenal, guna membuat adik-adik di panti asuhannya bangga. Ia mempunyai suara merdu, ia juga sering bernyanyi di acara-acara yang di selenggarakan oleh desanya. Desa kecil bernama Ngunut, yang terletak di kota Tawangmangu, Jawatengah.

Ia akan pergi ke jakarta, untuk meraih impiannya, serta mencari seseorang yang tlah lama pergi dari hidupnya. Bersama pria yang sudah ia anggap kakak di panti, ia akan mencari seseorang di masa lalu nya itu. Dengan harapan, mereka akan di pertemukan Tuhan saat di Jakarta nanti.

------------------------------------

Horeeeeeeeee ini gajelas ya namanya? hehe ya mangap :P ini bukan cerbung coba-coba. pengennya serius. dan kalo emang banyak yang suka bakalan aku kirim ke penerbit #jiahh#

aku langsung post part 1 yooo~ semuanya tungguin ya wkwkwk :P